Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Ratu Suthida Terbang Solo dengan Jet Gripen, Jadi Perempuan Pertama di Thailand

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Ratu Suthida Terbang Solo dengan Jet Gripen, Jadi Perempuan Pertama di Thailand
BAGIKAN:

Ratu Suthida Vajiralongkorn berhasil menerbangkan jet tempur JAS 39C Gripen secara solo untuk pertama kalinya pada Kamis (8/10). Momen bersejarah ini disaksikan langsung oleh suaminya, Raja Maha Vajiralongkorn, yang turut memberikan dukungan moral penuh selama proses penerbangan berlangsung.

Berdasarkan rekaman resmi dari pihak istana, Ratu Suthida yang kini berusia 48 tahun mengemudikan pesawat berkursi tunggal tersebut dari pangkalan udara militer di Provinsi Surat Thani, bagian selatan Thailand. Keberhasilan ini menjadi puncak dari rangkaian persiapan intensif yang telah dilaluinya sebelumnya.

Sebelum mengambil alih kendali sepenuhnya, Suthida menjalani pelatihan simulator selama beberapa minggu di pangkalan yang sama. Ia juga telah mencatatkan sekitar 10 jam penerbangan menggunakan varian jet Gripen berkursi ganda, memastikan kesiapan teknis dan mentalnya sebelum terbang sendirian.

Latar belakang penerbangan Suthida bukan hal baru. Mantan pramugari Thai Airways ini mulai belajar menerbangkan pesawat sejak 2010. Hingga saat ini, total pengalaman terbangnya telah mencapai hampir 1.190 jam. Ia sering bertugas sebagai kopilot mendampingi Vajiralongkorn dalam berbagai perjalanan kerajaan, termasuk momen kritis saat mendarat di Bandara Paro, Bhutan, yang terkenal dengan medannya yang menantang.

Setelah mendarat dengan mulus, Vajiralongkorn menyambut sang ratu dengan buket bunga. Secara simbolis, raja menyematkan lencana Golden Gripen Order di lengan kiri Suthida. Penyematan ini menegaskan statusnya sebagai pilot perempuan pertama di Thailand yang mampu menerbangkan jet tempur Gripen secara mandiri.

Analisis Redaksi

Pencapaian Ratu Suthida tidak bisa dibaca sekadar sebagai hobi pribadi monarki. Dalam konteks politik internal Thailand, demonstrasi kompetensi militer oleh figur publik utama memperkuat narasi legitimasi dan kedekatan keluarga kerajaan dengan institusi angkatan bersenjata. Ini adalah pesan visual yang kuat tentang kesetaraan peran dalam struktur kekuasaan tradisional, sekaligus mematahkan stereotip gender dalam ranah pertahanan negara.

Dampak jangka panjangnya terlihat pada modernisasi armada udara. Dengan latar belakang kesepakatan pembelian tiga unit Gripen E dan satu Gripen F senilai US$556 juta dari Saab, serta pengiriman terjadwal hingga 2030, keterlibatan aktif anggota kerajaan dalam operasional pesawat generasi terbaru menunjukkan komitmen serius terhadap interoperabilitas teknologi. Publik perlu mencermati bagaimana integrasi personel non-karier militer ke dalam rantai komando strategis akan mempengaruhi doktrin pertahanan nasional di masa depan.

BERITA TERKAIT (Dunia)

Meow! Tanya Nesi!
😸