Kebon Baru dan Cilandak Barat Ujikan Potensi Lewat Festival untuk Benyamin S Award
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Dua kelurahan di Jakarta Selatan, Kebon Baru dan Cilandak Barat, menggelar festival masing-masing sebagai bagian dari penilaian langsung dalam ajang Benyamin S Award pada Jumat (9/10). Kelurahan Kebon Baru, Tebet, memilih nama "Festival Juara," sementara Cilandak Barat tampil dengan "Festival Pesona." Keduanya menjadi dua dari sepuluh kelurahan finalis yang saat ini sedang diuji oleh tim juri.
Kelurahan finalis dinilai dari empat aspek: kebersihan, kenyamanan, keindahan, dan kesejahteraan. Festival bukan sekadar perayaan seremonial. Nirwono Joga, Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta bidang Pembangunan dan Tata Kota yang juga duduk sebagai juri, menjelaskan bahwa kelurahan finalis ditugaskan menyelenggarakan acara yang mampu memperlihatkan seluruh potensi yang mereka miliki. Sembilan kelurahan finalis lain pun menggelar festival serupa saat tim juri melakukan penilaian langsung.
Nirwono menegaskan bahwa DKI Jakarta menyimpan banyak kelurahan yang sanggup menggelar festival berskala besar. Ia mendorong agar potensi tersebut tidak berhenti di satu hari penilaian. "Melalui kegiatan Benyamin S Award ini kita punya potensi kelurahan-kelurahan yang potensial tadi untuk didorong melakukan kegiatan festival yang lebih besar," ujarnya. Ambisi yang ia lukiskan lebih jauh: setiap minggu, secara bergantian, kelurahan-kelurahan menyelenggarakan kegiatan festival sepanjang tahun.
Visi itu terikat pada satu momentum besar. HUT DKI Jakarta ke-500 akan jatuh tahun depan. Nirwono berharap rangkaian peringatan tidak sekadar terpusat di bulan Juni, melainkan berjalan optimal dari Januari hingga Desember. Festival kelurahan, dalam skenarionya, menjadi denyut nadi yang menjaga momentum itu tetap hidup sepanjang tahun.
Proses penilaian belum selesai. Setelah festival di masing-masing kelurahan, lurah dari sepuluh finalis wajib mempresentasikan seluruh program mereka di hadapan dewan juri pada 15 Oktober. Acara puncak Benyamin S Award dijadwalkan berlangsung pada akhir Oktober. Bagi kelurahan yang belum finalis, dua festival di Kebon Baru dan Cilandak Barat ini menjadi tolok ukur: apa yang bisa dilakukan sebuah kelurahan ketika diberi panggung dan ditantang menunjukkan dirinya.
Analisis Redaksi
Benyamin S Award sejak lama berfungsi sebagai alat ukur tata kelola pemerintahan di tingkat kelurahan, bukan sekadar lomba kebersihan. Penilaian empat dimensi—kebersihan, kenyamanan, keindahan, kesejahteraan—menggeser diskursus dari sekadar estetika trotoar dan ruko ke pertanyaan yang lebih fundamental: apakah warga kelurahan ini hidup lebih layak dibanding kelurahan tetangganya? Festival yang ditugaskan kepada finalis sebenarnya menjadi instrumen unjuk kerja. Lurah tidak lagi cukup berpidato di ruang rapat; ia harus mengorkestrasikan warga, pedagang, dan relawan di ruang publik yang bisa diamati siapa pun.
Yang menarik dari pernyataan Nirwono Joga adalah upaya menggeser Benyamin S Award dari satu event tahunan menjadi ekosistem festival berkelanjutan. Jika terealisasi, dampaknya melampaui penghargaan. Kelurahan yang terbiasa mengorganisasi acara komunitas setiap minggu akan membangun modal sosial yang sulit diukur oleh KPI pemerintahan: rasa memiliki warga, jejaring antar-RT, dan kemampuan kolektif menyelesaikan masalah tanpa menunggu instruksi dari atas. Namun, ambisi itu menuntut keberlanjatan anggaran dan komitmen politik yang melampaui satu periode kepala daerah. Tanpa itu, festival kelurahan berisiko menjadi tontonan sesaat yang hilang setelah juri pergi.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Sudin Perpustakaan Jakut Luncurkan Book Camp 2026: 85 Duta Literasi Targetkan Ekosistem Kebiasaan Baca Berkelanjutan

BPS: Penumpang LRT Jakarta Melonjak 66 Persen Sepanjang September 2026, Transjakarta Tembus 39 Juta Orang

Wisatawan ke Jakarta Capai 8,58 Juta Perjalanan, Naik 6,37 Persen Sepanjang September 2026
