Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Djibouti Tampung 8 Pangkalan Militer Asing, Strategi Survival Negara Kecil di Jantung Selat Bab el-Mandeb

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Djibouti Tampung 8 Pangkalan Militer Asing, Strategi Survival Negara Kecil di Jantung Selat Bab el-Mandeb
BAGIKAN:

Di jantung tanduk Afrika, Djibouti menjelma pusat gravitasi geopolitik global yang tak terbantahkan. Negara berpenduduk hanya sekitar satu juta jiwa ini kini menjadi satu-satunya tempat di dunia yang menampung delapan pangkalan militer asing sekaligus. Kehadiran Amerika Serikat, China, Jepang, Prancis, Italia, Jerman, Spanyol, dan Arab Saudi menjadikan wilayah seluas 23.200 kilometer persegi tersebut medan kontestasi strategis yang kompleks. Bukan lagi sekadar negara transit, Djibouti adalah simpul vital yang menentukan arah pelayaran dan konektivitas global di kawasan Terusan Suez.

Presiden Ismail Omar Guelleh, yang telah mengabdi lebih dari dua dekade di kursi kekuasaan, memilih memaksimalkan potensi lokasi geografis negaranya. Ia disambut hangat oleh para pemimpin negara adikuasa yang mencari basis komersial dan keamanan. Mereka membangun landasan udara, kamp pelatihan, pelabuhan, pangkalan, serta pusat logistik angkatan laut. Dana dan investasi internasional mengalir deras ke negara kecil ini, mengubah peta kekuatan militer di kawasan Marahitim Merah. Guelleh memanfaatkan dinamika ini untuk memajukan agenda domestiknya sekaligus menjamin kelangsungan negara di tengah lingkungan yang penuh permusuhan.

Strategi ini berakar pada teori "diplomasi negara kecil". Dalam sistem internasional yang timpang, negara kecil membutuhkan pendekatan strategis untuk bersaing melawan kekuatan besar. Dengan menjadi tuan rumah fasilitas militer eksternal, Djibouti mengamankan investasi ekonomi dan menjalin aliansi yang lebih kuat. Visibilitas internasional meningkat drastis, menjadikan negara ini tidak tergantikan dalam arsitektur keamanan regional. Langkah ini bukan sekadar transaksi, melainkan upaya Survival politik yang kalkulatif.

Federico Donelli, penulis buku Power Competition in the Red Sea, menilai posisi Djibouti sangat krusial. "Kawasan ini berada di pusat banyak hal, mulai dari perdagangan global, pelayaran, hingga konektivitas serat optik, energi, dan terkait dengan Terusan Suez, Indo-Pasifik," katanya kepada Al Jazeera. Pernyataan ini menegaskan bahwa kontrol atas Djibouti berarti kontrol atas urat nadi ekonomi dunia. Nilai strategisnya melampaui batas-batas Afrika Timur.

Angka-angka lalu lintas maritim di sekitar Djibouti menunjukkan skala dampak globalnya. Di antara Djibouti dan Yaman terbentang Selat Bab el-Mandeb, jalur selebar 19 km yang dilalui lebih dari 4,8 juta barel minyak mentah dan produk olahan setiap hari. Sekitar 12 persen perdagangan maritim global melewatinya. Lebih menarik lagi, setidaknya 90 persen kapasitas internet Eropa-Asia berjalan melalui kabel yang diletakkan di sepanjang rute yang sama. Gengsi strategis ini menjadikan keberadaan pasukan asing di Djibouti bukan hanya soal pertahanan, tetapi juga perlindungan infrastruktur digital dan energi global.

Analisis Redaksi

Keberadaan delapan pangkalan militer asing di satu negara sebesar Djibouti menciptakan paradoks keamanan. Di satu sisi, ini menjamin proteksi multi-pihak. Di sisi lain, ini menjadikan Djibouti papan catur bagi kekuatan besar yang sering kali berseberangan, seperti Amerika Serikat dan China. "Diplomasi negara kecil" yang diterapkan Guelleh adalah pedang bermata dua. Investasi dan aliansi datang, tetapi kedaulatan penuh terus erosi. Publik internasional perlu waspada bahwa stabilitas di Selat Bab el-Mandeb kini bergantung pada kemampuan Djibouti menengahi rivalitas geopolitik yang semakin tajam.

Kemungkinan langkah selanjutnya adalah eskalasi persaingan infrastruktur digital. Jika 90% kabel internet Eropa-Asia berpadu di sini, maka perlombaan untuk mendominasi infrastruktur digital global akan semakin ketat. Negara-negara besar tidak hanya bersaing di laut, tetapi juga di bawah laut. Ancaman siber atau pemutusan koneksi bisa berimplikasi kaskade pada pasar energi dan logistik dunia. Pengamatan terhadap pergerakan armada kapal perang dan satelit di sekitar Selat Bab el-Mandeb menjadi indikator utama tensi regional yang perlu dipantau secara ketat oleh para pengambil kebijakan kebijakan keamanan maritim.

BERITA TERKAIT (Dunia)

Meow! Tanya Nesi!
😸