Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Trump Duetkan MbS, Sekutu Saudi Ditolak, Fokus AS Tetap di Iran

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Trump Duetkan MbS, Sekutu Saudi Ditolak, Fokus AS Tetap di Iran
BAGIKAN:

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan secara tegas menolak permintaan Arab Saudi untuk melancarkan serangan militer bantuan guna menghadapi milisi Houthi di Yaman. Penolakan ini bukan keputusan pertama; menurut laporan Al Jazeera, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) setidaknya dua kali telah berbicara langsung dengan Trump untuk meminta intervensi tersebut. Situasi ini muncul di tengah ketegangan yang membara ketika Arab Saudi kembali terlibat dalam sengketa saling serang dengan Houthi dalam beberapa waktu terakhir, padahal perang AS versus Iran sejak Februari lalu juga belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Upaya diplomasi Riyadh tidak hanya datang dari pemimpin tertinggi. Menteri Pertahanan Arab Saudi, Khalid bin Salman, juga turut membujuk Washington melalui mitranya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. Khalid secara eksplisit meminta agar AS melakukan serangan militer untuk membela Saudi dari gempuran Houthi. Namun, semua permintaan dari Riyadh tersebut ditolak. Sumber Al Jazeera menyatakan bahwa penolakan ini terjadi karena posisi resmi pemerintahan Trump saat ini adalah memfokuskan kekuatan militer sepenuhnya pada perang mereka sendiri dengan Iran.

Akibat penolakan tersebut, satu-satunya bentuk dukungan yang diberikan AS kepada Arab Saudi sejauh ini hanyalah bantuan yang bersifat terbatas dan terarah, serta dukungan intelijen saja. Ini menjadi sinyal pergeseran dinamika aliansi, mengingat Saudi merupakan salah satu sekutu terdekat AS di Timur Tengah selain Israel dan negara-negara Arab lainnya. Ketergantungan Riyadh pada perlindungan langsung dari Washington kini semakin tergerus oleh prioritas strategis AS yang lain.

Pada saat yang sama, aksi saling serang antara Saudi dan Houthi terus berlangsung tanpa henti. Terbaru, Houthi melancarkan serangan udara terpisah terhadap dua bandara Saudi, yaitu Abha International Airport dan King Khalid International Airport di Riyadh, yang terjadi pada Selasa (6/10) dan Rabu (7/10). Serangan dahsyat ini menewaskan tiga orang dan melukai lebih dari 30 orang lainnya. Ancaman udara terhadap infrastruktur sipil Saudi ini semakin memperburuk tekanan keamanan yang dihadapi kerajaan.

Sebagai balasan atas serangan udara tersebut, koalisi Saudi mengeklaim berhasil menghancurkan platform pelontar rudal balistik milik Houthi yang digunakan untuk menyerang kedua bandara tersebut. "Operasi penghancuran berlangsung di Ibu Kota Yaman, Sanaa, saat musuh melakukan serangkaian serangan terhadap Kerajaan," kata juru bicara koalisi Saudi, Kolonel Turki Al Maliki, di platform X. Respons militer ini menandakan bahwa Riyadh berusaha menunjukkan kekuatan mandiri saat sekutunya enggan turun tangan langsung.

Analisis Redaksi

Penolakan Trump terhadap permintaan Saudi menggarisbawahi pergeseran strategis dalam hubungan aliansi AS-Timur Tengah, di mana Riyadh kini harus semakin mengandalkan kapasitas pertahanan sendiri. Fakta bahwa AS hanya memberikan dukungan intelijen dan bantuan terarah menunjukkan adanya kalkulasi risiko yang ketat oleh Washington, yang memilih tidak memperluas konflik dengan mengorbankan fokus pada kampanye militer terhadap Iran sejak Februari lalu.

Apa yang perlu diwaspadai adalah eskalasi responsif Saudi. Dengan adanya korban jiwa dari serangan Houthi ke dua bandara dan klaim hancurnya infrastruktur rudal Houthi di Sanaa oleh koalisi Saudi, ada indikasi kuat bahwa Riyadh akan meningkatkan intensitas serangan balasan. Jika dukungan AS tetap minim, tekanan ini dapat mendorong Saudi untuk melibatkan aktor regional lain atau meningkatkan ketergantungan pada aliansi pertahanan di luar Washington, yang berpotensi memecah belah konsensus Barat di kawasan.

Secara logis, langkah selanjutnya dari AS mungkin adalah menjaga status quo intelijen sambil menghindari keterlibatan fisik yang dapat memperumit perang dengan Iran. Bagi publik, dampaknya adalah peningkatan ketidakpastian keamanan di jalur udara regional dan potensi lonjakan harga energi global jika konflik Saudi-Houthi tidak segera mereda karena ketiadaan intervensi eksternal yang signifikan.

Meow! Tanya Nesi!
😸