Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Ray Wagiu Basrowi Tegaskan Kunci Kesehatan Pencernaan Anak Berada pada Kecukupan Asupan Serat

KesehatanSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: Antara News
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ray Wagiu Basrowi Tegaskan Kunci Kesehatan Pencernaan Anak Berada pada Kecukupan Asupan Serat
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • menegaskan bahwa kunci utama menjaga kesehatan pencernaan anak tidak terletak pada suplemen mahal, melainkan pada kecukupan asupan serat dari makanan sehari-hari.
  • Pernyataan ini menggeser fokus publik dari kekhawatiran terhadap penyakit kronis semata menjadi perhatian pada pola makan fundamental yang sering kali terabaikan oleh orang tua di Indonesia.
  • Ray menekankan bahwa serat berperan krusial dalam melancarkan proses defekasi dan mencegah konstipasi yang umum dialami anak-anak.

Pakar kesehatan masyarakat Dr.dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK. menegaskan bahwa kunci utama menjaga kesehatan pencernaan anak tidak terletak pada suplemen mahal, melainkan pada kecukupan asupan serat dari makanan sehari-hari. Pernyataan ini menggeser fokus publik dari kekhawatiran terhadap penyakit kronis semata menjadi perhatian pada pola makan fundamental yang sering kali terabaikan oleh orang tua di Indonesia.

Ray menekankan bahwa serat berperan krusial dalam melancarkan proses defekasi dan mencegah konstipasi yang umum dialami anak-anak. Tanpa asupan yang cukup, saluran cerna bekerja lebih lambat, menyebabkan ketidaknyamanan fisik yang dapat mengganggu aktivitas belajar dan tumbuh kembang si kecil. Ia mengingatkan bahwa kebiasaan makan yang tinggi olahan rendah serat merupakan salah satu penyebab awal berbagai gangguan gastrointestinal di usia sekolah.

Kekhawatiran ini semakin relevan mengingat perubahan gaya hidup modern yang membuat anak-anak semakin jarang mengonsumsi sayur dan buah segar secara konsisten. Data menunjukkan bahwa banyak anak Indonesia lebih memilih camilan kemasan dibandingkan makanan utuh yang kaya serat. Tren ini menciptakan gap nutrisi yang signifikan antara kebutuhan biologis tubuh dan apa yang sebenarnya diterima oleh tubuh anak sehari-hari.

Untuk menutup celah ini, edukasi ke orang tua menjadi garis depan. Ray menyarankan agar makanan seperti oat, umbi-umbian, dan berbagai jenis sayuran dimasukkan ke dalam menu harian secara kreatif, bukan dipaksa. Pendekatan ini bertujuan mengubah persepsi serat dari 'makanan yang membosankan' menjadi bagian menarik dari pola makan sehat. Langkah konkret ini diharapkan dapat membentuk kebiasaan baik sejak dini yang akan melindungi kesehatan mereka hingga dewasa.

Dampak jangka panjang dari kelalaian serat ini bukan hanya melintasi masalah buang air besar saja. Gangguan pencernaan yang terus-menerus dapat berdampak pada penyerapan nutrisi lain, sehingga anak berisiko mengalami stunting atau gangguan imun. Oleh karena itu, intervensi diet yang fokus pada serat harus dipandang sebagai investasi kesehatan preventif, bukan sekadar solusi sementara untuk keluhan ringan yang muncul sesekali.

Analisis Redaksi

Makna dari penekanan ini adalah pergeseran paradigma kesehatan anak dari kuratif ke preventif berbasis gizi. Di tengah maraknya produk kesehatan anak di pasaran, pernyataan Ray Wagiu Basrowi menjadi pengingat keras bahwa fondasi kesehatan justru ada pada bahan pangan alami yang terjangkau namun sering dikesampingkan. Ini bukan hanya soal kesehatan fisik, tetapi juga tanggung jawab sosial dalam membangun generasi yang sehat dari akar pola makannya.

Apa yang perlu diwaspadai adalah resistensi budaya makan anak Indonesia terhadap serat kasar. Banyak orang tua menganggap sayuran dan buah sulit dinikmati anak jika tidak dihaluskan atau dicampur pemanis, yang pada akhirnya mengurangi manfaat seratnya. Jika tren ini tidak dipatahkan melalui edukasi dan aksesibilitas makanan, angka gangguan pencernaan pada anak akan terus menjadi beban bagi sistem layanan kesehatan nasional dalam beberapa dekade ke depan.

Secara logis, langkah selanjutnya yang harus diakselerasi adalah integrasi kurikulum gizi ke dalam pendidikan karakter dasar di sekolah dan penguatan regulasi labeling produk makanan anak agar transparan terkait kandungan seratnya. Kombinasi pendekatan edukasi keluarga dan regulasi pasar akan menciptakan ekosistem di mana pilihan sehat menjadi pilihan mudah, sehingga kesehatan pencernaan anak terjamin secara sistemik, bukan hanya mengandalkan kesadaran individu orang tua.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ