Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Kemendiktisaintek Bidik 19 Ribu Publikasi Q1, Peneliti Digembleng

TeknologiReza AdityaReza AdityaSumber: Antara News
Reza Aditya
Reza Aditya
Pakar Teknologi

Reviewer gadget independen dengan perspektif teknis yang mendalam.

Kemendiktisaintek Bidik 19 Ribu Publikasi Q1, Peneliti Digembleng
BAGIKAN:

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) memacu produktivitas riset nasional dengan menargetkan sekitar 19.000 artikel ilmiah terindeks pada kuartal pertama tahun ini. Sasaran ambisius tersebut dikejar melalui program pembinaan intensif bagi para peneliti di berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta. Langkah strategis ini diambil untuk mendongkrak daya saing akademik Indonesia di kancah global yang semakin ketat.

Program gemblengan ini tidak sekadar formalitas administratif. Para peneliti dibekali keterampilan teknis penulisan naskah jurnal bereputasi internasional serta strategi navigasi proses review yang sering kali menjadi hambatan utama. Fokus utamanya adalah memastikan kualitas manuskrip memenuhi standar quartile satu atau Q1, kategori tertinggi dalam sistem pemeringkatan jurnal Scopus dan Web of Science. Dengan demikian, volume publikasi diharapkan berbanding lurus dengan dampak sitasinya.

Target 19.000 artikel tersebut mencerminkan urgensi percepatan transformasi pendidikan tinggi pasca-merger beberapa direktorat sebelumnya. Data historis menunjukkan bahwa output penelitian Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura jika dilihat dari rasio per kapita peneliti. Oleh karena itu, intervensi langsung dari kementerian dianggap perlu untuk memecahkan kebuntuan birokrasi dan kurangnya pendampingan metodologis di tingkat institusi dasar.

Dampak kebijakan ini berpotensi besar mengubah lanskap akreditasi universitas. Institusi yang mampu menghasilkan jumlah publikasi Q1 signifikan akan mendapatkan nilai plus dalam penilaian kinerja dosen dan peringkat kampus secara keseluruhan. Hal ini juga membuka peluang lebih lebar bagi kolaborasi riset lintas negara, mengingat reputasi akademik yang kuat menjadi syarat mutlak dalam pengajuan hibah penelitian berskala internasional.

Namun, tekanan target angka ini juga memunculkan kekhawatiran terkait integritas data. Beberapa kalangan akademisi mengingatkan agar mengejar kuantitas tidak mengorbankan substansi dan orisinalitas temuan. Plagiasi atau praktik "salami slicing"—memecah satu hasil penelitian menjadi banyak makalah tipis demi jumlah—harus dicegah dengan pengawasan ketat selama masa pembinaan berlangsung.

Analisis Redaksi

Penetapan target 19.000 publikasi Q1 oleh Kemendiktisaintek merupakan pedang bermata dua. Di satu sisi, ini sinyal politik yang jelas bahwa negara serius menjadikan sains sebagai pilar kedaulatan teknologi. Namun, tanpa ekosistem pendukung berupa dana riset yang memadai dan kebebasan akademik yang sehat, target ini bisa berubah menjadi beban administratif semata. Sejarah mencatat bahwa pendekatan top-down sering kali melahirkan respons mekanis dari bawahan, bukan inovasi organik.

Yang perlu diwaspadai adalah munculnya industri jasa penerbitan predator yang memanfaatkan celah kebutuhan cepat lulus. Jika pembinaannya hanya fokus pada teknik lolos seleksi jurnal tanpa memperkuat fondasi metodologi, maka kita akan dibanjiri paper berkualitas rendah yang merusak citra akademik nasional. Kunci keberhasilannya terletak pada konsistensi evaluasi pasca-publikasi, bukan hanya pada angka seremonial di akhir kuartal.

BERITA TERKAIT (Teknologi)

Meow! Tanya Nesi!
😸