Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Lima Karyawan Depot Nasi Tempong Luka Bakar Wajah, 41 Bangunan Hancur dalam Ledakan Gas

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Lima Karyawan Depot Nasi Tempong Luka Bakar Wajah, 41 Bangunan Hancur dalam Ledakan Gas
BAGIKAN:

Lima karyawan Depot Nasi Tempong Sri Dewi mengalami luka bakar pada wajah akibat ledakan dahsyat di kompleks Ruko San Antonio, Pakuwon City, Mulyorejo, Surabaya, Selasa (6/10) pagi. Insiden yang berpusat dari tiga tabung gas LPG 50 kilogram ini tidak hanya mencederai pekerja, tetapi juga menghancurkan puluhan bangunan dan kendaraan di sekitarnya. Seluruh korban kini tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit, sementara tim gabungan masih melakukan pendataan kerugian material.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya, Irvan Widyanto, memastikan kelima korban tersebut merupakan pekerja di depot tersebut. Irvan menyatakan bahwa tiga orang dirawat di RSUD Haji Surabaya, sedangkan dua orang lainnya dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo karena membutuhkan tindakan medis lanjutan. "Untuk tiga orang ini masih berada di Rumah Sakit Haji. Untuk yang dua orang ini perlu penanganan lebih lanjut, kita rujuk ke RSUD Dr Soetomo," ujar Irvan di lokasi kejadian. Kondisi fisik para korban didominasi luka bakar di area wajah, meskipun persentase tingkat keparahan belum dapat dipastikan secara presisi oleh pihak BPBD saat ini.

Dampak fisik ledakan sangat signifikan. Pantauan di lokasi menunjukkan bangunan ruko depot mengalami kerusakan total atau luluh lantak, diikuti oleh toko-toko di sebelahnya. Data sementara mencatat setidaknya 41 bangunan rusak, terdiri dari deretan ruko dan permukiman warga. Kerugian juga meluas ke sektor transportasi dengan 11 kendaraan roda dua, empat kendaraan roda empat, dan satu truk mengalami kerusakan akibat getaran dan pecahan material.

Kapolrestabes Surabaya, Kombes Luthfie Sulistiawan, menjelaskan bahwa indikasi kebocoran gas sebenarnya sudah terdeteksi sesaat sebelum ledakan terjadi. Luthfie menuturkan, sekitar pukul 07.00 WIB, koki di rumah makan tersebut sempat mencium bau gas. "Tadi sekitar pukul 07.00 WIB, ketika koki sedang masak, memang sempat mencium bau gas. Kemudian dalam sekejap terjadi semacam ledakan," kata Luthfie. Pusat ledakan dikonfirmasi berasal dari tiga tabung gas LPG berkapasitas 50 kilogram yang mengalami kebocoran pada bagian pipa.

Saat ini, tim gabungan dari BPBD, aparat kecamatan, dan pengelola Pakuwon City sedang melakukan pendataan ke area permukiman terdampak. Terkait skema penggantian kerugian bagi warga, pemerintah kota masih dalam tahap validasi data di lapangan. Irvan menegaskan pentingnya keakuratan data sebelum keputusan diambil. "Kita ini kan masih melakukan pendataan ya. Jadi termasuk pendalaman. Jangan sampai ketika kita melakukan pendataan ternyata data itu tidak valid. Oleh sebab itu sampai dengan sekarang masih kita dalami," tutur Irvan.

Analisis Redaksi

Meskipun ledakan gas di rumah makan bukanlah kejadian baru, insiden kali ini menggarisbawahi potensi risiko yang mengintai kawasan komersial padat penduduk seperti Pakuwon City. Dampak domino yang menghancurkan 41 bangunan menunjukkan betapa rentannya struktur bangunan di sekitar titik sumber kebocoran, terutama jika instalasi gas tidak memiliki sistem deteksi dan pemutus otomatis yang memadai.

Bagi publik dan pelaku usaha kuliner, peristiwa ini menjadi peringatan keras tentang standar keselamatan kerja. Deteksi dini kebocoran gas yang sudah tercium oleh pekerja seharusnya menjadi pemicu evakuasi segera, bukan sekadar catatan sebelum ledakan. Proses validasi data kerugian yang dilakukan pemerintah kota menjadi krusial untuk menjamin kompensasi yang proporsional bagi para korban dan pemilik usaha yang terdampak secara tidak langsung.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸