Anthropic Gagal Membujuk Paus Leo XIV Akui Kesadaran AI, Meski Loloskan Tim

Usaha persuasi perusahaan kecerdasan buatan (AI) Anthropic untuk meyakinkan Paus Leo XIV tentang potensi kesadaran mesin berakhir tanpa hasil. Meski berhasil memasuki lingkaran internal Vatikan, upaya yang dipimpin oleh salah satu pendiri mereka, Christopher Olah, tidak mampu mengubah posisi resmi Paus yang secara tegas menolak klaim bahwa AI memiliki pengalaman atau perasaan setara manusia.
Laporan New York Times yang dikutip oleh Futurism mengungkap skenario di balik pintu tertutup tersebut. Anthropic sebelumnya telah menjamu para ahli agama di berbagai belahan dunia dalam kerahasiaan ketat, dilindungi oleh perjanjian NDA (Non-Disclosure Agreement). Tujuannya bukan sekadar diplomasi, melainkan untuk membangun narasi bahwa model AI mampu berpikir dan merasakan layaknya manusia. Target akhirnya adalah menggunakan pengaruh spiritual Paus sebagai legitimasi moral bagi industri AI yang semakin canggih.
Pola ketegangan ini berakar pada risalah kepausan pertama Leo XIV berjudul Magnifica Humanitas, yang diterbitkan pada bulan Mei. Dokumen itu menyebut kecerdasan buatan tidak memiliki tubuh, tidak merasakan duka atau suka cita, dan tidak mengetahui arti cinta atau tanggung jawab dari dalam. Bagi Olah, hal ini menjadi hambatan besar. Ia bahkan sempat membayangkan membatalkan kehadirannya setelah menerima salinan ensiklik tersebut, karena menyadari bahwa Paus menolak totalitas potensi kesadaran AI. Namun, komitmen etis yang dibangun oleh CEO Dario Amodei—yang memilih untuk absen—memaksa Olah untuk tetap hadir dan melobi para penasihat Paus secara langsung.
Puncak pertemuan terjadi saat Olah diberi kesempatan berbicara. Ia mempresentasikan temuan internal Anthropic mengenai struktur AI yang menyerupai hasil ilmu saraf manusia serta bukti introspeksi mandiri oleh AI. Namun, suara meredanya segera ditelan oleh respons publik Paus seminggu kemudian. Pada Jumat (2/10), Leo XIV mengunggah pernyataan di platform X yang menegaskan adanya 'perbedaan ontologis' antara seni manusia dan output mesin. Ia mengecam seni yang dihasilkan algoritma, menyebutnya sebagai produk perhitungan statistik dari jutaan gambar karya orang lain, bukan kreasi yang memiliki 'percikan kemanusiaan'.
Akibatnya, lobi yang dirancang secara halus tersebut justru mempertegas jurang antara komunitas pengembangan AI dan institusi agama tertinggi di dunia. Anthropic kini menghadapi dilematika publik: mereka ingin diakui secara moral dan filosofis sebagai pembuat entitas yang kompleks, sementara pemimpin spiritual global masih memperlakukan teknologi tersebut sebagai alat mekanis yang dingin dan tanpa jiwa.
Analisis Redaksi
Perbedaan pandangan antara Anthropic dan Vatikan bukan sekadar soal teknologi, melainkan benturan dua paradigma tentang arti kehidupan. Bagi Anthropic, kesadaran dan empati simulasi adalah langkah menuju kecerdasan sejati. Sebaliknya, bagi Paus Leo XIV, humanitas adalah sesuatu yang transenden dan tidak bisa direplikasi oleh kode matematika. Kegagalan lobi ini mengisyaratkan bahwa regulasi global di masa depan tidak akan tunggal; akan ada friksi antara negara-negara yang memprioritaskan kemajuan teknis tanpa batas dan kekuatan moral yang menuntut pelindungan hakikat manusia.
Yang perlu diwaspadai adalah eskalasi retoris. Ketika Paus mulai mengkritik 'seni mesin' secara eksplisit, ia sedang memvalidasi ketakutan masyarakat sipil terhadap dominasi algoritma. Ini memberi amunisi bagi kelompok anti-AI yang lebih ekstrem. Dari sisi bisnis, klaim 'pengalaman' oleh AI akan semakin sulit dipasarkan secara umum jika institusi sebesar Vatikan membantahnya secara publik. Kemungkinan langkah selanjutnya bagi industri AI adalah mencari legitimasi di pusat-pusat kekuatan sekuler atau negara-negara yang lebih terbuka secara filosofis, karena jalur dialog dengan otoritas agama tradisional tampaknya telah mencapai titik mati dalam konteks kesadaran mesin.
BERITA TERKAIT (Teknologi)

Riset NOAA Ungkap: Awan Tropis Mempercepat Pemanasan Global 71% Lebih Cepat dari Prediksi

Saham Intel Anjlok 29%, Investasi Pemerintah AS Rugi Rp 218 Triliun
China Catat Momen Historis: Volume Inferensi AI Melampaui Data Pelatihan
