Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Telkom Spin-off Aset Rp85,7 T ke InfraNexia untuk Buka Akses Infrastruktur Nasional

TeknologiKelvin WijayaKelvin WijayaSumber: CNN Teknologi
Kelvin Wijaya
Kelvin Wijaya
Software Engineer

Membahas teknologi dari kacamata pengembang dan inovasi perangkat lunak.

Telkom Spin-off Aset Rp85,7 T ke InfraNexia untuk Buka Akses Infrastruktur Nasional
BAGIKAN:

Dalam langkah strategis yang mengubah peta jaringan nasional, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk resmi memisahkan aset infrastruktur jaringan senilai Rp85,7 triliun kepada entitas anak, PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia). Pemisahan ini bukan sekadar restrukturisasi internal, melainkan upaya krusial untuk membuka akses publik terhadap tulang punggung digital negara yang sebelumnya tertutup. Langkah ini dirancang agar infrastruktur tersebut dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak pelaku industri, mengubah model bisnis dari vertikal menjadi terbuka.

Skala transfer aset ini masif. InfraNexia kini mengelola lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan Telkom. Secara fisik, entitas baru ini memegang kendali atas 112 ribu kilometer jaringan fiber optik darat serta 26 ribu kilometer sistem komunikasi kabel laut (SKKL) domestik. Jumlah ini menjadikan InfraNexia entitas tunggal terbesar dalam penguasaan aset fisik telekomunikasi di Indonesia. Konsolidasi aset dalam satu atap ini dimaksudkan untuk efisiensi operasional dan potensi investasi asing yang lebih kuat di sektor infrastruktur pasif.

Proses hukum dan korporat dari pemisahan ini telah rampung. Persetujuan pemegang saham independen diberikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) pada Rabu, 30 September 2025. Dokumen akta pemisahan atau deed of spin-off ditandatangani langsung oleh Direktur Utama Telkom, Nanang Hendarno, dan Direktur Utama InfraNexia, Lukman Hakim Abd. Rauf, di Telkom Landmark Tower, Jakarta. Penandatanganan ini menjadi penanda formal bahwa kedua entitas kini memiliki batas hukum yang jelas, meski masih di bawah payung grup yang sama.

Nanang Hendarno menegaskan bahwa konsolidasi ini akan mempertajam fokus bisnis. "Kami yakini InfraNexia menjadi penyedia infrastruktur terbesar di Indonesia, dengan jaringan yang membentang di berbagai wilayah Indonesia, dapat semakin mempertajam fokus bisnis dan produktivitas aset infrastruktur sehingga kontribusi terhadap pendapatan segmen business to business infrastructure TelkomGroup menjadi jauh lebih besar," ujar Nanang. Dengan memisahkan aset fisik, Telkom induk dapat fokus pada layanan konsumen dan korporat, sementara InfraNexia menggarap segmen wholesale yang lebih efisien dan skalabel.

Model bisnis baru InfraNexia dibangun di atas prinsip open-access dan carrier-neutral. Lukman Hakim Abd. Rauf menjelaskan bahwa perusahaan akan menjalankan dua lini utama: wholesale connectivity dan wholesale FTTx. Ini berarti telco lain, penyedia layanan data center, atau even perusahaan AI dapat menyewa kapasitas jaringan tanpa perlu membangun menara atau menarik kabel sendiri. "Fokus kami tidak hanya memperluas pemanfaatan aset tapi memastikan infrastruktur yang kami miliki dapat menjadi pondasi bagi pertumbuhan lebih banyak mitra, layanan digital dan mendukung penguatan ekosistem serta kedaulatan digital Indonesia," tambah Lukman. Hal ini krusial untuk mengurangi biaya masuk (barrier to entry) bagi pemain digital baru.

Analisis Redaksi

Langkah spin-off ini menandai pergeseran paradigma di industri telekomunikasi Indonesia dari model silo menuju ekosistem kolaboratif. Dengan aset yang terkonsentrasi di satu entitas netral, daya tawar negara dalam negosiasi investasi asing untuk infrastruktur digital menjadi lebih kuat. Potensi ini akan mempercepat integrasi layanan cloud dan data center yang membutuhkan bandwidth masif dan latensi rendah, sesuatu yang sulit dilakukan jika aset tersebar di entitas vertikal yang kompetitif.

Yang perlu diwaspadai adalah dinamika pasar pasca-spin-off. Dengan munculnya pemain infrastruktur netral berkapasitas raksasa, tekanan pada operator seluler dan ISP independen untuk menurunkan biaya interkoneksi akan meningkat drastis. Ini sebenarnya baik bagi konsumen akhir dan pengembang aplikasi, karena biaya akses ke jaringan tulang punggung akan menjadi lebih transparan dan kompetitif. Namun, risiko konsentrasi kekuasaan di tangan satu entitas infrastruktur juga ada, sehingga pengawasan regulasi terhadap tarif wholesale harus ketat untuk mencegah monopoli ganda di lapisan hulu.

Secara logis, langkah selanjutnya yang patut diantisipasi adalah masuknya investasi asing ke InfraNexia untuk memperluas jaringan ke daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) atau penambahan kapasitas data center. Arah "AI Ready Infrastructure" yang ditekankan Lukman Hakim Abd. Rauf bukanlah slogan kosong; ia mengindikasikan bahwa arsitektur jaringan sedang dimodifikasi untuk mendukung beban komputasi tinggi kecerdasan buatan. Jika berhasil, Indonesia akan memiliki fondasi fisik yang solid untuk bersaing di era ekonomi data global.

BERITA TERKAIT (Teknologi)

Meow! Tanya Nesi!
😸