Prabowo Desak TNI Kikis Budaya Senioritas, Soroti Isu Premanisme
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) harus mengutamakan prestasi sebagai basis utama dalam sistem kerja, bukan lagi berdasarkan senioritas jabatan atau usia. Instruksi tegas ini disampaikan langsung oleh Kepala Negara di hadapan jajaran pimpinan militer, menandai pergeseran fundamental dalam filosofi kepemimpinan TNI yang selama ini masih kental dengan hierarki tradisional.
Prabowo secara terbuka meminta prajurit dan perwira untuk tidak lagi menjadikan usia atau lama pengabdian sebagai bekal utama penilaian. Prestasi, kompetensi, dan dedikasi nyata di lapangan kini menjadi tolok ukur yang wajib diterapkan secara menyeluruh. "TNI harusnya mengutamakan prestasi," tegasnya, mengisyaratkan bahwa sistem meritokrasi harus lebih dominan dibanding budaya militer lama yang sering kali mengesampingkan kemampuan individu.
Penekanan ini muncul di tengah upaya reformasi struktural yang sedang digencarkan di lingkungan pertahanan nasional. Selama ini, isu senioritas sering kali menghambat inovasi dan efektivitas operasional karena promosi lebih sering dipandang sebagai hak atas masa kerja, bukan capaian. Perubahan paradigma ini bertujuan untuk menciptakan institusi yang lebih responsif, profesional, dan bebas dari intervensi politik internal yang bersifat dinasti atau golongan.
Di balik retorika prestasi, Presiden juga memperingatkan keras agar TNI menjauhi sikap premanis. "Jangan TNI jadi preman," sindirannya, merujuk pada potensi disintegrasi sosial jika institusi berseragam bertindak arogan terhadap sipil atau mengutamakan kepentingan kelompok di atas tugas negara. Pernyataan ini mengingatkan kembali pada komitmen TNI untuk tetap berada di garis belakang sebagai pelindung rakyat, bukan penyerang atau penyebar ketakutan.
Implikasi dari instruksi ini akan segera dirasakan dalam mekanisme mutasi dan promosi perwira tinggi dalam waktu dekat. Evaluasi kinerja akan menjadi sorotan utama, dengan risiko perwira senior yang tidak memiliki rekam jejak prestasi yang jelas berpotensi tersingkir dari kursi strategis. Ini adalah langkah tegas untuk memurnikan korp perwira dari "penumpang gelap" yang mengandalkan loyalitas politik semata, bukan kontribusi strategis.
Analisis Redaksi
Dorongan untuk menggeser basis dari senioritas ke prestasi merupakan pembersihan logis dari beban historis militer Indonesia. Selama puluhan tahun, budaya "yang tua harus dihormati apa adanya" sering kali menciptakan kompartemen-kompartmental di mana perwira muda berbakat kesulitan naik karena terhalang oleh senior yang stagnan. Dengan menjadikan prestasi sebagai basis, sistem menjadi lebih dinamis dan sehat secara organisasi, meski prosesnya akan brutal bagi mereka yang terbiasa hidup dari kepastian jalur tua.
Peringatan anti-premanisme bukan sekadar retorika, melainkan peringatan dini terhadap potensi penyalahgunaan wewenang di daerah. Jika TNI fokus pada prestasi kompetitif tanpa diimbangi etika, ada risiko munculnya kelompok-kelompok kecil yang merasa berhak memaksakan kehendak. Oleh karena itu, korelasi antara prestasi dan kedisiplinan etis harus diawasi ketat. Langkah selanjutnya adalah audit menyeluruh terhadap sistem promosi dan transparansi kinerja di setiap satuan, memastikan bahwa "basis prestasi" tidak hanya menjadi slogan di atas kertas, tetapi menjadi kontrak sosial baru antara prajurit dan negara.
BERITA TERKAIT (Politik)

Anis Matta: Akar Rumput dan Cita-Cita Besar Jadi Fondasi Menuju Pemilu 2029

Presiden Prabowo Panggil Tim Ekonomi ke Istana untuk Koordinasi Kebijakan

Demokrat Nilai Gibran Tak Lagi Memenuhi Syarat Wapres Usai MA Putuskan Suket Tidak Sah
