Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

IHSG Menguat Tipis Jelang Akhir Pekan, Investor Asing Terus Keluarkan Dana

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNN Ekonomi
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

IHSG Menguat Tipis Jelang Akhir Pekan, Investor Asing Terus Keluarkan Dana
BAGIKAN:

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memangkas pelemahannya dan berakhir di level 6.009 pada perdagangan Jumat, setelah selama empat hari terakhir indeks tersebut terkoreksi. Pada sesi terakhir pekan ini, IHSG ditutup melemah tipis 61,63 poin atau 1,02 persen, dengan total nilai transaksi mencapai Rp11,06 triliun dan volume perdagangan sebanyak 32,94 miliar lembar saham.

Kondisi ini menegaskan tren negatif yang membayangi pasar di pekan sebelumnya. Secara mingguan, IHSG tercatat anjlok 3,28 persen, sebuah koreksi tajam yang merespons berbagai tekanan global. Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), Elsierra Putri Yosita, menjelaskan bahwa selama periode 28 September hingga 2 Oktober 2026, perdagangan saham ditutup bervariasi namun cenderung melemah. Ia mencatat kapitalisasi pasar bursa turun 2,55 persen dari Rp10.905 triliun menjadi Rp10.627 triliun pada pekan tersebut.

Menariknya, di tengah penurunan nilai kapitalisasi, aktivitas transaksi justru meningkat signifikan. Rata-rata volume transaksi harian melonjak 72,51 persen dari 29,20 miliar menjadi 50,37 miliar lembar saham, diikuti kenaikan nilai transaksi harian sebesar 5,40 persen menjadi Rp12,63 triliun. Sebaliknya, frekuensi transaksi harian turun 7,54 persen menjadi 1,68 juta kali transaksi. Data ini mengindikasikan adanya perubahan pola perilaku investor, mungkin untuk menutup posisi atau bertransaksi dalam lot yang lebih besar.

Salah satu pemicu utama ketidakpastian ini adalah arus keluar dana asing yang masif. Elsierra mengungkapkan investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp1,27 triliun pada hari itu, dan sepanjang tahun 2026 total net sell asing sudah mencapai Rp82,55 triliun. Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memproyeksikan IHSG masih rawan melanjutkan koreksi dengan level support 5.839 dan resistance 6.212. Ia menyoroti bahwa pasar akan sangat sensitif terhadap data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat. Jika data tenaga kerja AS kuat, kekhawatiran atas sikap hawkish The Fed akan meningkat, mendorong yield US Treasury naik dan memperlemah aset berisiko seperti saham Indonesia.

Dari sisi teknikal, Herditya merekomendasikan akumulasi pada beberapa saham dengan fundamental dan momentum kuat. Ia mencantumkan GGRM yang ditargetkan menyentuh 18.250, ISAT dengan target 2.480, dan NCKL dengan target 905. Sementara itu, Hendra Wardana, Founder Republik Investor, memberikan peringatan keras. Ia menilai tekanan pasar saat ini bersifat struktural, bukan siklikal biasa, karena didukung oleh net sell asing sebesar Rp108 triliun secara year to date dan rupiah yang mendekati level psikologis Rp18.000. Meski demikian, ia melihat peluang rebound teknikal di kuartal ini, dengan fokus pada saham-saham komoditas dan properti seperti ANTM, TINS, dan SSIA sebagai alternatif investasi defensif.

Analisis Redaksi

Momentum pasar saat ini terbelah antara sinyal teknikal yang belum jelas dan fundamental makro yang menekan. Data BEI menunjukkan paradoks: volume transaksi melonjak tajam saat indeks melemah, yang biasanya menandakan distribusi atau panik selling, bukan akumulasi sehat. Arus keluar dana asing yang konsisten sebesar ratusan triliun rupiah sepanjang 2026 menjadi pemicu utama pelemahan struktural, yang kini diperparah oleh ekspektasi global terhadap kebijakan moneter The Fed.

Para analis memberikan panduan yang pragmatis namun berisiko. Herditya menekankan pada level teknikal spesifik, sementara Hendra Wardana merekomendasikan sektor komoditas sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan pelemahan rupiah. Namun, rekomendasi saham seperti GGRM, ISAT, ANTM, dan lainnya tetap tunduk pada volatilitas makro global. Investor diperlakukan sebagai pihak yang harus cermat membedakan antara peluang rebound jangka pendek dan tren penurunan jangka menengah yang masih bergejolak.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ