Green Partai Inggris Tetapkan Zionisme sebagai Rasisme, Israel Blokir Pemimpinnya
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Partai Hijau Inggris resmi mengklasifikasikan Zionisme sebagai bentuk rasisme setelah pemungutan suara internal pada Minggu (4/10) menghasilkan 1.022 suara pro berbanding 813 suara kontra. Keputusan ini bukan sekadar mosi simbolik, melainkan kebijakan strategis yang mendesak pemerintah Inggris menghentikan seluruh perdagangan senjata dengan
Zionisme secara historis adalah gerakan politik yang mendorong pembentukan dan keberlangsungan negara bagi bangsa Yahudi, faktor krusial dalam berdirinya Israel pada abad ke-20. Namun, definisi operasional dari gerakan ini telah menjadi medan perdebatan sengit selama bertahun-tahun, terutama terkait dampaknya terhadap hak-hak warga non-Yahudi. Bagi sebagian kelompok, ini adalah hak fundamental untuk menentukan nasib sendiri, sementara bagi pihak yang mengesahkan mosi ini, gerakan tersebut telah bermutasi menjadi alat dominasi etnonasionalis yang melampaui batas toleransi politik modern.
Gerakan untuk Yudaisme Progresif segera mengecam keputusan tersebut dengan menyebut Partai Hijau telah menjadikan antisemitisme sebagai kebijakan resmi. "Green Party telah menjadikan antisemitisme sebagai kebijakan partai dan menjadi partai rasis," tegas kelompok itu. Mereka menambahkan bahwa dukungan dari sebagian warga Yahudi tidak cukup untuk memitigasi potensi diskriminasi terhadap kelompok lainnya. Tuduhan ini selaras dengan posisi Kementerian Luar Negeri Israel yang menyatakan bahwa mosi tersebut merupakan teks antisemit berdasarkan definisi Aliansi Peringatan Holocaust Internasional (IHRA) karena menolak hak bangsa Yahudi untuk menentukan nasib sendiri.
Respons paling keras datang dari pemerintahan Israel, yang melalui Menteri Luar Negeri Gideon Sa'ar memutuskan melarang Polanski memasuki negara tersebut. Pemerintah Israel juga mendesak partai-partai lain di Inggris untuk mengutuk Partai Hijau, dengan tuduhan bahwa mosi tersebut mengadopsi ideologi Klasifikasi Zionisme sebagai rasisme oleh sebuah partai politik parlemen utama menandai eskalasi retoris yang signifikan dalam lanskap politik Barat. Langkah ini secara efektif meminggirkan definisi standar dari organisasi pemantau hak asasi manusia dan hukum internasional, menggantinya dengan lensa etnonasionalisme yang sangat konfrontatif. Hal ini membuka ruang bagi tuduhan mutual tentang antisemitisme yang akan semakin memecah belah konsensus global mengenai solusi dua negara. Dampak langsung larangan masuk bagi Polanski menunjukkan bahwa Israel memandang mosi ini sebagai ancaman eksistensial terhadap legitimasi diplomatiknya, bukan sekadar kritik kebijakan. Langkah ini mengindikasikan bahwa ruang diplomasi antara Inggris dan Israel semakin sempit, dengan isu internal partai Inggris kini berimbas pada sanksi personal terhadap pemimpinnya. Secara lebih luas, ini menegaskan bahwa polarisasi global terkait konflik Israel-Palestina telah masuk ke dalam struktur partai-partai politik utama di Eropa Barat, mengubah diskursus dari kemanusiaan menjadi ideologis. Kemungkinan langkah selanjutnya secara logis adalah meningkatnya isolasi Partai Hijau dalam koalisi pemerintahan Inggris jika mereka gagal mencapai kompromi, serta potensi boikot budaya atau akademik dari negara-negara pendukung Israel terhadap institusi yang berafiliasi dengan mosi ini. Partai Hijau harus menyeimbangkan basis pemilih progresif mereka yang mendukung hak Palestina dengan risiko label 'rasis' yang dapat mengikis dukungan dari pemilih sekuler moderat. Ketegangan ini diperkirakan akan berlanjut hingga pemilihan umum berikutnya, dengan isu Palestina menjadi pembeda utama dalam kebijakan luar negeri Eropa.Analisis Redaksi
BERITA TERKAIT (Dunia)

Senator AS Chris Murphy Kena Stroke di Pertandingan Hoki, Dokter Optimistis

Haley Stevens Dikecualikan Demokrat Michigan Usai Dukung Kandidat Republik

Eisenkot Bongkar Ambisi Netanyahu Giring Pemilu Ulang, Qatar Bantah Tuduhan Campur Tangan
