Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Asap Karhutla Buat Udara Palembang 'Berbahaya', PM2.5 Tembus 900 µg/m³

KesehatanSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Asap Karhutla Buat Udara Palembang 'Berbahaya', PM2.5 Tembus 900 µg/m³
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, pada Minggu (4/10) semakin pekat hingga mengurangi jarak pandang secara drastis, dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang tak kunjung padam.
  • Di sepanjang Jalan Soekarno Hatta, fenomena ini tampak jelas.
  • Asap terlihat tebal dan pekat dibandingkan pada siang hari sebelumnya.

Kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, pada Minggu (4/10) semakin pekat hingga mengurangi jarak pandang secara drastis, dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang tak kunjung padam. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi menyatakan level udara di kota ini telah memasuki kategori berbahaya, sebuah peringatan serius yang mengancam kesehatan warga yang beraktivitas di luar ruangan.

Di sepanjang Jalan Soekarno Hatta, fenomena ini tampak jelas. Asap terlihat tebal dan pekat dibandingkan pada siang hari sebelumnya. Jarak pandang sangat terbatas, memaksa para pengendara untuk berjaga-jaga. Bukan hanya pandangan yang terganggu, asap juga dapat tercium tajam dan menyebabkan mata terasa perih. Untuk memastikan visibilitas, sejumlah kendaraan di jalan tersebut menyalakan lampu depan sebagai sinyal bagi sesama pengguna jalan.

Ilham, warga Talang Jambe, menjadi saksi langsung bagaimana kondisi jalanan berubah drastis. Ia mengaku sejak keluar rumah, asap sudah terlihat sangat tebal. Rasa perih di matanya menjadi keluhan utama. "Tadi pas keluar dari rumah sudah terlihat asapnya. Di jalan juga cukup tebal asapnya. Saat ini masker jangan sampai lupa dipakai karena tebalnya asap ini, kak," ujarnya. Kesaksian Ilham menggambarkan kekhawatiran umum di kalangan warga yang kini wajib menggunakan masker saat beraktivitas.

Data dari Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang milik BMKG memvalidasi keparahan kondisi tersebut. Sejak pukul 02.00 WIB, angka PM2.5 sudah berada di level berbahaya dengan nilai 358,7 µg/m³. Angka ini terus merangkak naik hingga mencapai puncak pada pukul 05.00 WIB sebesar 903,6 µg/m³, menjadi nilai tertinggi sepanjang tahun ini. "Iya, masih dalam kategori berbahaya, sejak dini hari hingga pagi ini. Angkanya mencapai angka tertinggi pada pukul 05.00 WIB sebesar 903,6 µg/m³, dimana angka tersebut menjadi nilai tertinggi sepanjang pemantauan tahun ini," jelas Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis.

Setelah puncak tersebut, angka perlahan menurun menjadi 673,4 µg/m³ pada pukul 06.00 WIB dan 271,7 µg/m³ pada pukul 08.00 WIB, meski tetap tinggi. Namun, pada pukul 16.00 WIB, kondisi memburuk kembali ke level berbahaya dengan angka 495,6 µg/m³. Ancakan ini bukan tanpa korban. Dalam dua bulan terakhir, kabut asap telah merenggut nyawa, seperti yang dialami Ardiansyah (41), seorang pengemudi ojek online yang meninggal akibat sesak napas. Almarhum memiliki riwayat asma yang semakin parah terpapar asap, sebuah tragedi yang menunjukkan konsekuensi fatal dari krisis kualitas udara ini.

Analisis Redaksi

Kontraksi jarak pandang dan lonjakan angka PM2.5 di atas 900 µg/m³ bukan sekadar gangguan kenyamanan, melainkan kondisi darurat kesehatan masyarakat. Data BMKG menunjukkan pola fluktuasi yang berbahaya: udara yang sempat 'mereda' di pagi hari justru kembali memburuk di sore hari. Pola ini mempersulit perencanaan aktivitas harian warga, terutama kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita penyakit pernapasan kronis. Peningkatan angka di sore hari mengindikasikan bahwa proses pemadaman api di lapangan belum berhasil meredam sumber emisi, atau adanya faktor meteorologis seperti arah angin yang membawa asap ke pusat kota saat suhu turun.

Kematian Ardiansyah menjadi penanda serius bahwa dampak karhutla telah melewati ambang toleransi fisik banyak orang. Bagi warga Palembang dengan riwayat asma atau ISPA, setiap jam tanpa masker di luar ruangan adalah risiko tinggi. Langkah logis selanjutnya adalah intensifikasi operasi penyiraman api dan penghentian total aktivitas yang memperburuk polusi, seperti pembakaran sampah atau kendaraan berat yang tidak perlu di jalanan. Pemantauan real-time PM2.5 harus terus dilakukan, dan protokol kesehatan udara perlu diumumkan secara masif melalui kanal lokal, bukan hanya sekadar himbauan biasa. Krisis ini menuntut respons cepat dari pemadam kebakaran dan penegak hukum untuk menghentikan titik api baru secara tuntas.

Meow! Tanya Nesi!
😸