Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Saudi Rancang Operasi Militer Serempak Musnahkan Gengguan Houthi di Selat Bab el-Mandeb

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Saudi Rancang Operasi Militer Serempak Musnahkan Gengguan Houthi di Selat Bab el-Mandeb
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Arab Saudi bersiap melancarkan ofensif militer besar-besaran untuk memukul mundur milisi Houthi dan menjamin keamanan pelayaran di [Laut Merah](https://www.google.com/search?q=Laut+Merah).
  • Riyadh menyimpulkan bahwa negosiasi dengan Houthi mustahil selama mereka masih menguasai Selat Bab el-Mandeb.
  • Bulan lalu, milisi pemberontak ini berhasil maju menyusuri pantai dan merebut kendali strategis selat tersebut.

Arab Saudi bersiap melancarkan ofensif militer besar-besaran untuk memukul mundur milisi Houthi dan menjamin keamanan pelayaran di [Laut Merah](https://www.google.com/search?q=Laut+Merah). Enam sumber dari wilayah Timur Tengah dan negara-negara Barat mengungkapkan bahwa operasi ini akan dipukul lewat kendali pasukan pemerintah Yaman yang diawasi ketat oleh [Riyadh](https://www.google.com/search?q=Riyadh). Rencana serangan diperkirakan dimulai dalam hitungan pekan, meskipun waktu pastinya masih menjadi pertanyaan karena bisa terjadi dalam seminggu atau setelah pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada awal November.

Motif utama dari manuver ini jelas. Riyadh menyimpulkan bahwa negosiasi dengan Houthi mustahil selama mereka masih menguasai Selat Bab el-Mandeb. Bulan lalu, milisi pemberontak ini berhasil maju menyusuri pantai dan merebut kendali strategis selat tersebut. Bab el-Mandeb bukan sekadar jalur sempit; ia adalah pintu keluar utama Laut Merah yang menghubungkan Mediterania dengan Asia, serta menjadi alternatif krusial jika Selat Hormuz terganggu. Houthi telah memblokade jalur maritim Saudi, menciptakan ancaman eksistensial terhadap keamanan energi global.

Sumber-sumber yang sama menyebutkan bahwa Saudi sedang mematangkan dua skenario operasi. Opsi pertama adalah serangan yang fokus dan sempit, mengincar wilayah sekitar Bab el-Mandeb. Opsi kedua jauh lebih agresif: serangan luas dan serentak di berbagai front di wilayah Yaman, mencakup provinsi Al-Bayda, Marib, Taiz, dan Al-Jawf. Fleksibilitas ini menunjukkan kesiapan logistik yang matang. Diperkirakan lebih dari 100.000 personel militer dapat dikerahkan untuk operasi ini, tergantung pada skala serangan yang akhirnya dipilih oleh komando tertinggi.

Mantan duta besar AS untuk Arab Saudi, Michael Ratney, memberikan perspektif analitis. Ia memperkirakan serangan kemungkinan besar akan terfokus secara sempit dan sederhana dibandingkan operasi besar-besaran pada tahun 2015. "Sebagaimana mereka ingin mengalahkan Houthi sepenuhnya, mereka juga perlu kembali ke status quo sebelum Houthi menguasai wilayah di sepanjang Bab el-Mandeb," kata Ratney. Menurutnya, tujuan idealnya adalah operasi terbatas yang merebut kembali daerah pesisir dan mengembalikan lalu lintas maritim ke keadaan normal.

Situasi di lapangan sudah memanas. Dalam beberapa waktu terakhir, koalisi pasukan Saudi dan Yaman bertempur terus-menerus dengan Houthi. Kedua sisi saling gempur dengan meluncurkan serangan udara dan peluncuran rudal. Ketegangan ini bukan hanya konflik regional, melainkan ujian ketahanan infrastruktur transportasi global. Jika jalur pesisir Yaman jatuh ke tangan Houthi, tekanan ekonomi terhadap negara-negara penghasil minyak dan importir barang di Asia akan meningkat drastis, membuat keputusan Saudi untuk bertindak secara ofensif menjadi sangat mendesak.

Analisis Redaksi

Manuver Saudi ini menandakan pergeseran strategis dari pertahanan pasif ke ofensif pre-emptif. Dengan melibatkan lebih dari 100.000 personel, Riyadh tidak sekadar melakukan pembalasan, melainkan berupaya merebut inisiatif perang. Keberhasilan operasi ini sangat bergantung pada kemampuan koordinasi antara pasukan pemerintah Yaman dan pengawasan Saudi. Jika opsi serangan luas di Marib atau Taiz dipilih, risiko eskalasi menjadi perang darat penuh meningkat signifikan. Namun, opsi serangan sempit yang disarankan Ratney terlihat lebih realistis untuk mencapai tujuan strategis: memulihkan status quo dan membuka selat tanpa terjerat lumpuh perang darat yang berkepanjangan.

Dampak bagi publik global akan terasa langsung pada harga energi dan biaya logistik. Selat Bab el-Mandeb mengangkut sekitar 10-12% perdagangan global. Jika blokade Houthi berhasil digagalkan, tekanan inflasi pada barang impor di Asia dan Eropa akan mereda. Namun, proses pemulihan tidak instan. Investor dan pasar komoditas akan memantau setiap perkembangan di front Al-Bayda dan Marib. Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor energi, stabilitas di Laut Merah adalah faktor kunci bagi ketahanan energi nasional. Pengawasan ketat terhadap selat ini bukan lagi urusan Saudi semata, melainkan isu keamanan maritim internasional yang mendesak solusi permanen.

Langkah selanjutnya secara logis adalah menunggu eskalasi dalam 30 hari ke depan, menjelang pemilu AS di awal November. Jendela waktu ini akan menentukan apakah Saudi memilih tekanan maksimal atau operasi cepat dan terbatas. Jika serangan lambat, ada risiko Houthi memperdalam kontrol mereka di Bab el-Mandeb. Sebaliknya, serangan dini bisa mengakhiri blokade sebelum pemilu AS mengubah dinamika dukungan internasional. Para pengamat harus memantau apakah Houthi akan merelakan wilayah pesisir ini atau tetap bertahan dengan dukungan teknologi rudal yang mereka miliki.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ