Proyektil Houthi Hantam Sekolah di Najran, Arab Saudi Jelang Pertemuan Pakta Pertahanan Makkah

Sebuah proyektil yang ditembakkan kelompok Houthi menghantam bangunan sekolah di Kota Najran, Arab Saudi, pada Jumat (2/10) waktu setempat. Serangan lintas batas ini memicu kerusakan material dan memaksa tim darurat turun ke lokasi saat eskalasi militer antara kedua kubu kembali memanas.
Juru Bicara Pertahanan Sipil Arab Saudi mengonfirmasi bahwa tim darurat telah merespons serangan tersebut sesaat setelah proyektil jatuh. "Prosedur standar untuk insiden semacam itu telah ditambahkan," ujar dia, melansir Anadolu. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban yang terdampak langsung dari hantaman proyektil ke fasilitas pendidikan itu.
Klaim serangan tidak datang dari satu arah. Mengutip AFP, Houthi menyatakan bahwa Arab Saudi telah melancarkan 94 serangan di sejumlah wilayah yang berada di bawah kendali mereka dalam kurun 24 jam sebelumnya. Angka itu menambah daftar panjang total 1.350 serangan yang dilaporkan sejak konflik kembali mencuat secara signifikan.
Di front lain, militer Yaman melaporkan pelaksanaan 474 operasi terhadap target Houthi di beberapa front pertempuran. Mereka juga mengklaim sebanyak 1.540 anggota Houthi tewas atau terluka akibat rentetan operasi militer tersebut. Pertumpahan darah terus bertambah tanpa tanda-tanda jeda kemanusiaan yang berarti.
Eskalasi ini terjadi pada momen diplomatik yang krusial. Pekan depan, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan dijadwalkan bertemu di Riyadh untuk membahas serangan Houthi berdasarkan kerangka Pakta Pertahanan Makkah. Pertemuan tiga negara ini menjadi sinyal bahwa ancaman dari Yaman kini dipandang sebagai isu keamanan kolektif yang membutuhkan respons gabungan.
Sementara diplomasi disiapkan, pertempuran udara tetap berlangsung. Koalisi pimpinan Saudi yang mendukung pemerintahan Yaman mengaku telah mencegat dan menghancurkan tiga rudal balistik yang diluncurkan Houthi ke arah Kota Khamis Mushait. Kota ini memang bukan target baru. Pada medio September lalu, Houthi mengklaim serangan skala besar yang melibatkan puluhan rudal balistik dan drone terhadap Pangkalan Udara Raja Khalid di kota tersebut. Arab Saudi sendiri telah memimpin koalisi militer yang mendukung pemerintah Yaman melawan Houthi sejak Maret 2015, sementara Houthi menguasai ibu kota Sanaa dan beberapa provinsi sejak September 2014.
Analisis Redaksi
Hantaman proyektil ke sebuah sekolah di Najran bukan sekadar insiden taktis. Ini adalah pesan politik. Kelompok Houthi sengaja memilih target sipil di perbatasan selatan Arab Saudi tepat menjelang pertemuan trilateral Riyadh pekan depan. Tujuannya jelas: mendikte agenda pembicaraan dengan menciptakan tekanan psikologis. Ketika fasilitas pendidikan bisa ditembus sistem pertahanan udara, narasi tentang keamanan absolut yang dibangun koalisi pimpinan Saudi runtuh seketika di mata publik domestik maupun internasional.
Pertemuan antara Arab Saudi, Turki, dan Pakistan di bawah payung Pakta Pertahanan Makkah menandai pergeseran strategi yang patut dicermati. Riyadh tidak lagi mengandalkan koalisi lama yang mulai kehilangan daya tekan, melainkan merangkul kekuatan regional baru untuk membendung pengaruh Houthi. Namun, klaim saling serang—94 serangan dari Saudi versus 474 operasi dari militer Yeman—menunjukkan bahwa medan tempur masih jauh dari kata stabil. Angka 1.540 anggota Houthi yang diklaim tewas atau terluka oleh militer Yaman hanya akan memperkeras perlawanan jika tidak dibarengi jalur diplomasi yang kredibel.
Yang perlu diwaspadai ke depan adalah potensi eskalasi balasan pasca-pertemuan Riyadh. Jika ketiga negara menyepakati langkah militer lebih agresif, Houthi hampir pasti akan meningkatkan intensitas serangan rudal balistik dan drone ke infrastruktur vital Saudi, termasuk pangkalan militer seperti yang pernah terjadi di Khamis Mushait. Siklus kekerasan ini sudah berjalan sejak 2014-2015 tanpa titik temu. Selama akar konflik di Yaman tidak diselesaikan secara politik, sekolah-sekolah di Najran dan kota perbatasan lainnya akan terus menjadi sandera perang yang tak berkesudahan.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Indonesia Desak Rusia Hentikan Rekrutmen WNI sebagai Tentara Bayaran, Satu Warga Sudah Tewas

Mamdani Kecam Haley Stevens: Dukungan Kandidat Republik Jadi Pengkhianatan Kelas Pekerja

Trump dan Netanyahu Bahas Serangan Iran di Tengah Penurunan Populeritas Politik Keduanya
