Oemar: Kolintang Jadi Kendaraan Diplomasi Budaya Indonesia di Forum UNESCO
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.
Duta Besar RI untuk Prancis, Monako, dan Andorra sekaligus Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Mohamad Oemar, menegaskan bahwa instrumen musik kolintang harus diposisikan sebagai salah satu instrumen diplomasi budaya yang efektif untuk memperkuat narasi identitas Indonesia di panggung global. Pernyataan ini dilontarkan Oemar dalam rangka merumuskan strategi diplomasi publik yang lebih agresif, di mana kekayaan seni tradisional Nusantara tidak lagi sekadar menjadi pajangan etnografis, melainkan bertransformasi menjadi jembatan lunak yang mampu memengaruhi persepsi geopolitik internasional.
Menurut Oemar, upaya ini bukan hal baru, melainkan kelanjutan dari komitmen panjang delegasi Indonesia di PBB dan UNESCO untuk mengabadikan warisan budaya tak benda. Kolintang dipilih sebagai representasi utama karena keunikannya yang melambangkan harmoni dan kesederhanaan, nilai-nilai yang selaras dengan misi perdamaian dunia yang diusung oleh badan PBB tersebut. Strategi ini berfokus pada pemanfaatan momen-momen krusial di Dewan Eksekutif UNESCO untuk memperkenalkan instrumen ini lebih luas, bukan hanya kepada pengamat seni, tetapi juga kepada pengambil kebijakan global yang menentukan arah kerja sama internasional.
Latar belakang pergerakan ini terlihat dari tingginya minat masyarakat internasional terhadap musik etnik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah dominasi budaya pop Barat yang mendominasi kurikulum pendidikan dan hiburan global, suara gamelan dan kolintang mulai menemukan tempatnya di festival-festival besar Eropa. Namun, potensi ini belum terkelola secara sistematis oleh negara. Inilah mengapa Oemar menekankan pentingnya peran negara dalam ‘mengawinkan’ minat publik dengan kebijakan luar negeri yang solid, agar budaya tidak hanya hadir sebagai komoditas hiburan sesaat, tetapi sebagai modal diplomasi jangka panjang.
Di sisi lain, tantangan terbesar yang dihadapi bukanlah pada aspek teknis musik, melainkan pada persepsi dan ketersediaan data akademik yang kuat di level internasional. Oemar menyadari bahwa diplomasi budaya memerlukan dukungan riset dan dokumentasi yang kredibel. Tanpa landasan ilmiah yang jelas, upaya mempromosikan kolintang berisiko dianggap sebagai gerakan nostalgia semata. Oleh karena itu, koordinasi antara lembaga kebudayaan nasional dengan perwakilan diplomatik di Paris menjadi krusial untuk memastikan setiap klaim keunikan budaya Indonesia memiliki bobot argumentatif yang tajam di forum multilateral.
Dampak dari strategi ini bagi publik Indonesia bersifat multidimensi. Pertama, adanya pengakuan internasional terhadap kolintang akan meningkatkan kebanggaan nasional dan potensi ekonomi kreatif di sektor pariwisata budaya. Kedua, ini membuka ruang bagi musisi dan seniman Indonesia untuk lebih mudah mengakses panggung-panggung Eropa melalui jalur resmi diplomatik. Dengan menempatkan budaya di hati kebijakan luar negeri, Indonesia sedang membangun semacam ‘soft power’ yang tak terlihat dampaknya dalam sekejap, tetapi akan mengakar kuat dan membentuk citra negara yang lebih humanis dan kolaboratif di mata dunia.
Analisis Redaksi
Langkah yang diambil oleh Dubes Oemar merepresentasikan pergeseran paradigma dalam diplomasi Indonesia yang semakin matang. Dari sekadar diplomasi ekonomi atau politik konvensional, kini negara mulai menyadari bahwa budaya adalah alat penetrasi yang paling efektif karena menyentuh sisi emosional dan psikologis masyarakat target. Kolintang, dengan karakter suaranya yang hangat dan tidak konfrontatif, menjadi simbol yang tepat untuk membangun ‘goodwill’ (kebaikan niat) di kawasan Eropa yang strategis bagi kelanjutan mandat Indonesia di UNESCO.
Yang perlu diwaspadai adalah agar gerakan ini tidak terjebak dalam sentralisasi yang mengabaikan akar rumput. Diplomasi budaya yang otentik harus berangkat dari komunitas pelakon, bukan hanya dari kedutaan. Jika kolintang hanya dipromosikan oleh diplomat tanpa dukungan seniman di kampung halamannya, maka narasinya akan terasa artifisial. Sinergi antara kebijakan atas (top-down) dan inisiatif bawah (bottom-up) adalah kunci agar diplomasi ini bertahan lama dan tidak layu di tengah dinamika politik global yang berubah cepat.
Secara logis, langkah selanjutnya yang harus ditempuh adalah digitalisasi arsip dan distribusi konten kolintang melalui platform-platform media sosial UNESCO dan lembaga seni Eropa. Era di mana informasi menyebar dalam hitungan detik menuntut kelincahan adaptasi. Jika Indonesia konsisten, kita dapat melihat kolintang tidak lagi sekadar instrumen tradisional, melainkan ikon baru dari identitas Asia yang dinamis dan inklusif, sebuah lompatan penting dalam peta diplomasi budaya global.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Senator AS Chris Murphy Kena Stroke di Pertandingan Hoki, Dokter Optimistis

Haley Stevens Dikecualikan Demokrat Michigan Usai Dukung Kandidat Republik

Eisenkot Bongkar Ambisi Netanyahu Giring Pemilu Ulang, Qatar Bantah Tuduhan Campur Tangan
