Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Prabowo Lantik 17 Pejabat Baru, Reshuffle Ketujuh Kabinet Merah Putih Jadi yang Terbesar

PolitikBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Prabowo Lantik 17 Pejabat Baru, Reshuffle Ketujuh Kabinet Merah Putih Jadi yang Terbesar
BAGIKAN:

Presiden Prabowo Subianto merombak total 17 posisi strategis di jajaran menteri hingga kepala badan dalam reshuffle ketujuh Kabinet Merah Putih di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (1/10). Langkah masif ini sekaligus menandai pergantian Kapolri dari Jenderal Listyo Sigit Prabowo kepada Jenderal Suyudi Ario Seto. Ini adalah perombakan kabinet dengan jumlah pejabat terbanyak sejak pemerintahan Prabowo berjalan.

Pelantikan tersebut memiliki landasan hukum kuat melalui dua keputusan presiden sekaligus. Pertama, Keputusan Presiden Nomor 104/P/2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Menteri dan Wakil Menteri Negara. Kedua, Keputusan Presiden Nomor 105/P/2026 yang mengatur pemberhentian serta pengangkatan Kepala Staf Kepresidenan dan Kepala Badan Reforma Agraria Nasional. Cakupan perombakan kali ini sangat luas, meliputi rotasi, pencopotan, hingga penunjukan pejabat baru lintas sektor.

Perubahan paling mencolok terjadi pada tampuk kepemimpinan Polri. Jenderal Suyudi Ario Seto resmi menjabat sebagai Kapolri didampingi Wahyu Hadiningrat sebagai Wakapolri. Posisi Listyo Sigit Prabowo sendiri tidak dibiarkan kosong tanpa tugas. Mantan Kapolri itu langsung digeser menduduki kursi Kepala Staf Kepresidenan (KSP), menggantikan struktur lama istana.

Selain sektor keamanan, pos-pos kementerian ekonomi turut mendapat sentuhan signifikan. Dua kursi wakil menteri keuangan yang sempat lowong beberapa bulan terakhir akhirnya terisi oleh Nurkholisoh Ibnu Aman dan Luky Alfirman. Di sektor industri, M. Sarmuji ditunjuk menjadi Menteri Perindustrian menggantikan kolega satu partainya, Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK). Pergantian antar-kolega partai ini memunculkan dinamika politik tersendiri di tubuh koalisi pendukung pemerintah.

Daftar lengkap pejabat yang dilantik menunjukkan distribusi kekuasaan yang merata di berbagai klaster. Untuk posisi koordinator, Bahlil Lahadalia menempati Menko Hilirisasi dan Transisi Energi, Sugiono sebagai Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), serta Dudung Abdurachman dipercaya memegang Menko Politik dan Keamanan (Polkam). Arrmanatha Nasir mengambil alih jabatan Menteri Luar Negeri. Di level wakil menteri, Drajat Hari Wibowo masuk sebagai Wamenko Perekonomian, Muhamad Soleh Mustofa menjadi Wakil Menteri Pertanian, dan Irwan Meilano mengisi pos Wamen KKP. Jabatan Kepala Badan Reforma Agraria Nasional kini dipegang Dedi Prasetyo, sementara Fadil Imran ditunjuk sebagai Wakil Kepala Badan Otorita Pantai Utara Jawa dan Arianto Wibowo menjadi Wakil BPKP. Komposisi lembaga lain juga diperbarui dengan Nuzran Joher sebagai Ketua dan Radian Syam sebagai Anggota.

Langkah perombakan 17 pejabat secara bersamaan membawa dampak langsung terhadap arah kebijakan publik dalam waktu dekat. Penunjukan figur-figur baru di sektor ekonomi seperti hilirisasi, keuangan, dan perindustrian mengisyaratkan percepatan program prioritas nasional. Masyarakat dan pelaku usaha kini harus segera menyesuaikan diri dengan gaya kerja para menteri dan wakil menteri anyar ini, terutama terkait regulasi yang akan mereka dorong ke depan.

Analisis Redaksi

Reshuffle ketujuh dengan volume 17 pejabat bukanlah manuver administratif biasa. Angka ini menjadikannya perombakan terbesar sepanjang era Kabinet Merah Putih. Rotasi Jenderal Listyo Sigit Prabowo dari Kapolri menuju Kepala Staf Kepresidenan memperlihatkan pola khas Prabowo yang lebih memilih mendaur ulang orang-orang lingkaran dalamnya daripada melepas mereka dari orbit kekuasaan. Pergeseran AGK dari Kementerian Perindustrian yang digantikan Sarmuji—sesama kader partai—juga mengindikasikan adanya kalkulasi internal partai koalisi yang sedang diseimbangkan ulang oleh presiden.

Yang patut diwaspadai publik adalah potensi transisi kebijakan yang tersendat akibat terlalu banyaknya pergantian pucuk pimpinan secara serentak. Kursi wakil menteri keuangan yang dibiarkan lowong selama berbulan-bulan sebelum akhirnya diisi oleh Nurkholisoh Ibnu Aman dan Luky Alfirman menyisakan pertanyaan soal manajemen sumber daya manusia di lingkungan istana. Keterlambatan pengisian pos vital semacam ini bisa berdampak pada lambatnya eksekusi anggaran negara di kuartal terakhir tahun ini.

Secara logis, langkah selanjutnya yang akan diambil para pejabat baru ini adalah konsolidasi cepat di kementerian masing-masing. Kita perlu memantau apakah Bahlil Lahadalia di pos Menko Hilirisasi dan Transisi Energi mampu langsung mengeksekusi target investasi tanpa hambatan birokrasi transisi. Begitu pula dengan Dudung Abdurachman di Menko Polkam yang kini harus menyinkronkan kerja keamanan dalam negeri bersama Kapolri baru, Jenderal Suyudi Ario Seto. Keberhasilan reshuffle jumbo ini baru bisa diukur tiga hingga enam bulan ke depan, bukan dari seremoni pelantikannya.

BERITA TERKAIT (Politik)

Meow! Tanya Nesi!
😸