Listyo Sigit Serahkan Panji Tribrata, Suyudi Resmi Pimpin Polri

Jenderal Listyo Sigit Prabowo resmi menyerahkan panji Tribrata kepada Jenderal Suyudi Ario Seto di Lapangan Bhayangkara, Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (2/10). Penyerahan panji kepolisian ini menandai berpindahnya pucuk kepemimpinan institusi Polri secara utuh melalui rangkaian upacara tradisi serah terima jabatan.
Teknisi Jibom Utama TK II Korbrimob Polri, Brigjen Amostian, bertindak sebagai komandan upacara. Ritual dimulai dengan menyanyikan mars Polri, lalu diteruskan penghormatan pasukan kepada kedua jenderal bintang empat tersebut. Setelah itu, Sigit menyerahkan langsung panji Tribrata kepada Suyudi sebagai simbol perpindahan tongkat komando tertinggi di tubuh kepolisian.
Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko menegaskan bahwa prosesi ini bukan sekadar formalitas. "Ini merupakan bagian daripada rangkaian pergantian kepemimpin di lingkungan Polri," kata Trunoyudo. Ia menerangkan lebih jauh bahwa tradisi penyerahan panji membawa makna penghormatan terhadap perjalanan dan pengabdian pejabat Polri sebelumnya. "Rangkaian kegiatan ini menjadi bagian dari tradisi organisasi Polri yang tentu memiliki nilai-nilai yang memiliki makna sebagai penghormatan perjalanan pengabdian pejabat Polri," tutur dia.
Seremoni di Mabes Polri ini menggenapi pelantikan yang dilakukan Presiden RI Prabowo Subianto sehari sebelumnya. Pada Kamis (1/10), Kepala Negara resmi melantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri baru. Pergantian ini berlandaskan Keputusan Presiden Nomor 96 dan 97/TK/2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia serta Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Suyudi mengisi posisi yang ditinggalkan Sigit. Jenderal Sigit telah menjabat Kapolri sejak 27 Januari 2021 saat dilantik oleh Presiden ketujuh RI Joko Widodo (Jokowi). Selama hampir lima tahun memimpin, ia membawa institusi ini melewati berbagai dinamika penegakan hukum nasional yang kerap menjadi sorotan tajam publik.
Bersamaan dengan penunjukan Kapolri baru, Presiden Prabowo juga merombak posisi nomor dua di Polri. Komjen Wahyu Hadiningrat dilantik menjadi Wakapolri menggantikan Komjen Dedi Prasetyo. Wahyu sebelumnya menjabat Asisten Utama Bidang Perencanaan Umum dan Anggaran (Astamarena) Kapolri. Sementara Dedi ditarik ke luar struktur kepolisian dan ditunjuk Presiden Prabowo Subianto sebagai Kepala Badan Reforma Agraria Nasional (BRAN).
Analisis Redaksi
Pergantian pimpinan Polri selalu membawa konsekuensi strategis bagi arah penegakan hukum di Indonesia. Masuknya Jenderal Suyudi Ario Seto dan Komjen Wahyu Hadiningrat ke pucuk pimpinan menandakan pergeseran peta kekuatan internal yang signifikan. Keputusan Presiden Prabowo menarik Komjen Dedi Prasetyo ke BRAN menunjukkan keinginan istana untuk menempatkan figur-figur kepolisian pada pos lintas sektoral, sebuah pola yang perlu dicermati dampaknya terhadap independensi institusi.
Publik harus mengawasi langkah seratus hari pertama duet kepemimpinan baru ini. Warisan kebijakan era Jenderal Listyo Sigit selama hampir lima tahun terakhir akan menjadi batu uji apakah pimpinan baru memilih kontinuitas atau justru melakukan koreksi fundamental. Isu reformasi kultural di tubuh Polri yang terus didengungkan masyarakat sipil tidak boleh tenggelam dalam euforia serah terima jabatan.
Secara logis, rotasi besar-besaran di tingkat kapolda dan kapolres akan segera menyusul. Pola mutasi ini biasanya mencerminkan kecenderungan gaya kepemimpinan Kapolri baru. Masyarakat patut menanti apakah jajaran di bawah akan diarahkan pada pendekatan represif atau justru lebih mengedepankan pelayanan sipil yang terukur dan minim kekerasan.
BERITA TERKAIT (Hukum)

6 Warga Tewas Ditabrak Truk Molen Rem Blong di Bekasi, Polisi Selidiki Dampak Laka

Bareskrim Bongkar Cengkeraman Sindikat Solar Ilegal di Bandung, Amankan Ribuan Liter dan Truk Modifikasi

Bareskrim Sita 103 Aset PT DSI di Sukoharjo, Total Penelusuran Klaim Melebihi Rp500 Miliar
