Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

FBI Tangkap Pegawai Nuklir DOE Ashton Ellaboudy, Diduga Rakit Drone dan Bantu Milisi Houthi

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

FBI Tangkap Pegawai Nuklir DOE Ashton Ellaboudy, Diduga Rakit Drone dan Bantu Milisi Houthi
BAGIKAN:

Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) menangkap Ashton Hamed Ellaboudy, pegawai Kementerian Energi AS (DOE), langsung di fasilitas pembangkit tenaga nuklir Hanford, Washington, atas tuduhan membantu memfasilitasi milisi Houthi di Yaman. Pria berusia 51 tahun asal Richland itu kini menghadapi dakwaan upaya memberikan dukungan materiil atau sumber daya kepada kelompok proksi Iran tersebut.

Tuduhan yang dibidik ke Ellaboudy bukan perkara ringan. Ia diduga mencoba meningkatkan kemampuan komunikasi kelompok milisi itu, membeli bahan-bahan untuk bahan peledak rakitan, hingga merakit pesawat nirawak (drone). Lebih dari sekadar transaksi jarak jauh, pria ini bahkan bepergian langsung ke Yaman. Jika terbukti bersalah di pengadilan, ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara menantinya.

Asisten Jaksa Agung untuk Keamanan Nasional, John Eisenberg, tidak menyembunyikan keterkejutannya saat membacakan rincian kasus ini. "Ellaboudy memperoleh bahan-bahan untuk pembuatan bahan peledak dan pesawat nirawak yang mampu membawa bahan peledak tersebut," ujar Eisenberg dalam pernyataan yang dikutip dari The Hill. Ia menambahkan satu kalimat yang menggambarkan bobot kejahatan ini: "Dugaan-dugaan ini sangat meresahkan hingga hampir sulit dibayangkan."

Jaring penyelidikan FBI terurai setelah mereka menerima informasi bahwa Ellaboudy membeli bahan kimia prekursor serta komponen lain yang umum dipakai membuat alat peledak rakitan. Dokumen pengadilan mencatat sebuah detail janggal pada Desember 2024. Saat itu, ia mengambil cuti sakit dengan alasan terpapar asam nitrat berkonsentrasi tinggi—bahan kimia yang lazim digunakan dalam pembuatan bahan peledak. Penyelidikan berlanjut dan menemukan fakta bahwa ia juga membeli suku cadang untuk merakit pesawat nirawak beserta sistem udara yang dioperasikan dari jarak jauh.

Puncak pergerakan Ellaboudy terjadi pada September 2025. Ia terbang dari Richland menuju Oman menggunakan paspor dinas yang diterbitkan saat ia bekerja untuk Korps Insinyur Angkatan Darat AS (U.S. Army Corps of Engineers). Dari Oman, ia melintasi perbatasan masuk ke Yaman dengan dugaan niat menuju Sanaa, ibu kota yang berada di bawah kendali penuh Houthi. Sekembalinya ke AS, Ellaboudy berbohong kepada petugas Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP) dengan mengklaim perjalanan itu urusan dinas resmi pemerintah. Atasannya di DOE langsung membantah klaim tersebut karena ia sama sekali tidak memiliki izin perjalanan dinas ke wilayah itu.

Kasus ini mengungkap celah keamanan yang mengerikan di jantung infrastruktur vital Amerika Serikat. Selama penyelidikan berlangsung, Ellaboudy justru semakin nekat. Ia mulai berkomunikasi dengan seorang informan FBI yang menyamar sebagai bawahan seorang "kolonel" Houthi. Tujuannya spesifik: mendapatkan peralatan komunikasi untuk dikirim ke Yaman guna membangun pusat komunikasi bergerak bagi kelompok milisi tersebut.

Analisis Redaksi

Penangkapan pegawai DOE di fasilitas nuklir Hanford membuka mata publik tentang kerentanan sistem pemeriksaan latar belakang di lembaga strategis Amerika Serikat. Fakta bahwa Ellaboudy bisa memanfaatkan paspor dinas lama dari Korps Insinyur Angkatan Darat AS untuk menembus perbatasan internasional menunjukkan lemahnya sinkronisasi data antar-lembaga pemerintahan. Seorang pegawai sipil di sektor energi nuklir seharusnya tidak lagi memiliki akses terhadap dokumen perjalanan militer yang sudah kedaluwarsa secara fungsi.

Perjalanan fisik Ellaboudy ke Sanaa pada September 2025 adalah lonceng peringatan paling keras bagi komunitas intelijen Barat. Membeli komponen drone dari jarak jauh adalah satu hal; terbang langsung ke zona konflik untuk berkoordinasi dengan jaringan Houthi adalah eskalasi tingkat tinggi. Tindakan ini mengindikasikan bahwa dukungannya bukan sekadar simpati ideologis, melainkan keterlibatan operasional yang terencana dan sistematis.

Langkah selanjutnya yang logis dari Departemen Kehakiman AS adalah membongkar apakah Ellaboudy bertindak sendirian atau merupakan bagian dari sel pendukung yang lebih luas di dalam negeri. Audit menyeluruh terhadap seluruh pemegang paspor dinas mantan personel militer yang kini bekerja di lembaga sipil harus segera dilakukan. Kegagalan menutup celah ini berpotensi mengubah fasilitas-fasilitas kritis AS dari aset pertahanan menjadi titik awal ancaman keamanan nasional.

Meow! Tanya Nesi!
😸