Turis India Klaim Diperlakukan Seperti Warga Kelas Tiga di Kafe Dharamkot

Seorang turis asal India mengeluhkan dugaan diskriminasi yang dialaminya di kawasan Dharamkot, Himachal Pradesh, setelah merasa diperlakukan seperti "warga kelas ketiga" oleh sejumlah kafe dan restoran. Dalam unggahannya yang dikutip oleh
Keluhan ini bukan kejadian pertama yang mengaitkan pemilik usaha di wilayah tersebut dengan bias etnis. Pada 2015, sebuah kafe bernama Freekasol di desa Kasol, Himachal Pradesh, pernah menjadi sorotan publik setelah dilaporkan menerapkan kebijakan yang disebut hanya menerima pelanggan "berkulit putih". Saat itu, kafe ini secara luas diberitakan menyajikan masakan Israel dan diklaim milik warga Israel, memicu perdebatan hangat di media sosial. Kasus tersebut menyoroti adanya segregasi pelayanan yang berbasis persepsi rasial atau kewarganegaraan.
Dalam insiden 2015, seorang perempuan India bernama Ritika mengaku ditolak masuk ke Freekasol ketika datang bersama pasangannya yang berkewarganegaraan Inggris, Stefan. Alasan yang diberikan pihak kafe adalah bahwa tempat tersebut hanya diperuntukkan bagi anggota. Ironinya, ketika Stefan yang berkulit putih meminta menu, ia justru dilayani. "Pelanggannya semuanya berkulit putih. Sebagian besar pengunjung adalah orang Israel," kata Stefan kepada Channel 10 News. Insiden tersebut memicu kritik keras terhadap sikap rasis yang dianggap masih melekat pada beberapa pelaku usaha di wilayah pegunungan India.
Reaksi publik saat itu juga mencakup kesaksian dari warga Israel sendiri. Seorang di antaranya mengaku melihat tiga pemuda India diminta meninggalkan kafe meskipun mereka sudah duduk. Pemilik kafe Freekasol saat itu menolak memberikan komentar resmi atas tuduhan tersebut. Dampaknya, kasus tersebut tidak hanya menjadi isu lokal, tetapi memicu gelombang kritik di media sosial India yang mempertanyakan standar layanan di industri perhotelan dan restauran yang terhubung dengan komunitas internasional.
Analisis Redaksi
Pola keluhan yang muncul lebih dari satu dekade setelah kasus Freekasol menunjukkan bahwa masalah persepsi bias etnis di sektor pariwisata India mungkin belum sepenuhnya terselesaikan di tingkat akar rumput. Meskipun kasus 2015 spesifik pada satu kafe di Kasol, kemunculan keluhan serupa di Dharamkot menandakan bahwa praktik "seleksi pelanggan" berdasarkan persepsi ras atau kewarganegaraan masih menjadi stigma yang membayangi industri keramahan di wilayah Himalaya. Bagi pemerintah daerah, ini adalah sinyal alarm bahwa edukasi kepada pelaku usaha mengenai standar pelayanan setara masih perlu diperkuat secara masif.
Secara strategis, narasi "warga kelas tiga" yang digunakan oleh turis lokal ini berpotensi memicu sentimen nasionalis di media sosial, serupa dengan reaksi yang terjadi pada 2015. Hal ini dapat berdampak negatif pada citra India sebagai destinasi wisata ramah di mata publik global, di mana isu diskriminasi terhadap warga negara sendiri seringkali dipersepsikan sebagai kelemahan struktural dalam inklusi sosial. Waspadalah terhadap viralnya klaim serupa tanpa verifikasi lapangan yang ketat; setiap insiden diskriminasi yang terekspos di media sosial akan memperburuk kepercayaan publik terhadap standar etika bisnis pariwisata.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Senator AS Chris Murphy Kena Stroke di Pertandingan Hoki, Dokter Optimistis

Haley Stevens Dikecualikan Demokrat Michigan Usai Dukung Kandidat Republik

Eisenkot Bongkar Ambisi Netanyahu Giring Pemilu Ulang, Qatar Bantah Tuduhan Campur Tangan
