Rak Ritel Modern Kosong, Stok Beras Premium di Pasar Tradisional Tetap Aman dan Harga Turun
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Kelangkaan beras premium ukuran 5 kilogram yang mengosongkan rak sejumlah ritel modern ternyata tidak menjalar ke pasar tradisional. Pedagang di Pasar Warung Buncit dan Pasar Mampang, Jakarta Selatan, memastikan pasokan beras premium maupun medium masih tersedia aman, meski harga jualnya terpantau naik tipis pada Kamis (1/10). Ironisnya, di tengah kelangkaan stok ritel tersebut, jumlah pembeli di pasar tradisional justru menyusut dari hari biasanya.
Seorang pedagang di Pasar Warung Buncit secara tegas membantah adanya krisis pasokan di lapak mereka. "Pasokannya masih aman," ujar pedagang tersebut saat ditemui CNN Indonesia.com. Ketersediaan barang ini berbanding terbalik dengan nasib konsumen ritel modern. Pantauan CNN Indonesia.com di Bekasi menunjukkan stok beras 5 kg di Alfamart telah kosong sekitar dua bulan. Di Indomaret, kekosongan berlangsung lebih dari satu bulan. Superindo masih menyisakan beras premium 5 kg, tetapi pilihan merek dan jumlahnya sangat terbatas.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) akhirnya buka suara mengenai kesenjangan distribusi ini. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas Hermawan menjelaskan keterbatasan stok di ritel modern bukan disebabkan oleh krisis pasokan beras nasional. Salah satu pemicu utamanya adalah penghentian produksi serta penarikan beras fortifikasi yang kedapatan bermasalah pada label dan mutu. "Terkait terbatasnya stok di ritel modern, itu adalah sebagai efek mungkin yang produsen-produsen yang kemarin menyalurkan beras fortifikasi ke ritel modern, itu kan tidak boleh lagi memproduksi beras fortifikasi dikarenakan banyak yang bermasalah," kata Hermawan dalam keterangan tertulis, Rabu (30/9).
Skala penarikan produk ini cukup masif. Bapanas mencatat terdapat 25 merek beras fortifikasi dari 11 pelaku usaha yang tengah ditindaklanjuti. Satgas Pangan Polri bergerak cepat memerintahkan penarikan hampir 90 persen produksi bermasalah tersebut dari peredaran. Di balik kekacauan distribusi ini, Hermawan mencium aroma permainan kotor. Ia menduga ada oknum yang sengaja memanfaatkan situasi untuk menciptakan kelangkaan semu demi mendongkrak harga. "Ini masalahnya banyak oknum-oknum nih atau istilah kata Pak Mentan/Kepala Bapanas, mafia yang memanfaatkan kondisi saat ini untuk menaikkan harga," tegasnya.
Data pemantauan Bapanas membuktikan pasar tradisional tetap menjadi jangkar stabilitas. Di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) Jakarta, harga beras premium berada di kisaran Rp14.200 per kilogram. Angka ini masih bertengger di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) Zona I sebesar Rp14.900 per kilogram. Hermawan membeberkan alasan logis mengapa produsen lebih memilih memasok pasar tradisional: margin keuntungan di ritel modern dinilai terlalu tipis akibat potongan biaya terhadap produk yang dijual.
Tren penurunan harga juga terekam jelas dalam data rata-rata pangan per 1 Oktober 2026. Harga beras kualitas super I tercatat Rp17.350 per kilogram, turun Rp600 atau 3,34 persen. Beras kualitas super II berada di level Rp16.600 per kilogram, anjlok Rp750 atau 4,32 persen. Untuk kategori menengah, harga beras medium I turun Rp200 atau 1,2 persen menjadi Rp16.400 per kilogram, sementara beras medium II turun Rp250 atau 1,52 persen ke posisi Rp16.150 per kilogram.
Analisis Redaksi
Penarikan 25 merek beras fortifikasi dari 11 pelaku usaha sekaligus merupakan pukulan telak bagi rantai pasok ritel modern. Ketika hampir 90 persen produk ditarik paksa oleh Satgas Pangan Polri, kekosongan rak selama satu hingga dua bulan adalah konsekuensi matematis yang tak terhindarkan. Masalah ini mengungkap kerentanan sistem distribusi kita yang terlalu bergantung pada segelintir jalur penjualan modern. Produsen langsung mengalihkan arus barang ke pasar tradisional seperti PIBC karena hitungan margin yang lebih masuk akal tanpa tergerus potongan ritel.
Peringatan Hermawan soal keberadaan mafia pangan yang menunggangi kelangkaan semu harus ditanggapi sebagai sinyal bahaya nyata. Penurunan harga beras super dan medium pada 1 Oktober 2026 memang memberikan sedikit ruang napas. Namun, jika praktik penimbunan atau manipulasi distribusi dibiarkan, angka-angka tersebut bisa berbalik arah kapan saja. Masyarakat yang sudah enggan berbelanja ke pasar tradisional karena berbagai faktor akan semakin terbebani ketika akses ke beras murah benar-benar tertutup.
Langkah paling mendesak saat ini adalah penegakan hukum tanpa kompromi terhadap 11 pelaku usaha yang produknya bermasalah. Bapanas dan Polri perlu membuka transparansi nama-nama merek tersebut agar publik tahu persis siapa yang bermain curang. Tanpa ketegasan ini, siklus kelangkaan buatan akan terus berulang setiap kali pemerintah melakukan intervensi pasar, dan rakyat kecil selalu menjadi pihak yang membayar harga termahal dari sebuah tata niaga yang rapuh.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Bandingkan Laba Kuartal III-2026, Alfamart Unggul 3,7 Kali Lipat dari Indomaret

Wamenlu AS Jacob Helberg Dorong Investasi Energi dan Teknologi RI Senilai US$2 Miliar

Wamenlu AS Diskusikan Deal Energi & Teknologi US$2 Miliar dengan Danantara di Jakarta
