Pagi Ditelepon Istana, Sore Hari Suyudi Resmi Dilantik Jadi Kapolri Gantikan Listyo Sigit
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Jenderal Suyudi Ario Seto dilantik menjadi Kepala Kepolisian Republik Indonesia di Istana Kepresidenan Jakarta pada Kamis (1/10), hanya beberapa jam setelah menerima telepon dari pimpinan Istana yang memintanya bersiap menjalani fit and proper test di DPR. Proses pergantian pucuk pimpinan Polri ini berlangsung kilat. Ia menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang kini beralih tugas menjadi Kepala Kantor Staf Presiden.
Kepastian itu disampaikan langsung oleh Suyudi usai pelantikan. "Jadi kalau itu kami baru mendapatkan informasi tadi pagi, sehingga kami langsung mempersiapkan diri untuk melaksanakan ya paparan proper test," kata Suyudi. Ia dihubungi oleh salah seorang pimpinan Istana, namun menolak menyebutkan identitas penelepon tersebut. Menariknya, Suyudi menegaskan bahwa saat ia menemui Presiden Prabowo Subianto di Istana pada Selasa lalu, sama sekali tidak ada pembicaraan mengenai potensinya diangkat sebagai Kapolri.
Sebelum menjabat orang nomor satu di Korps Bhayangkara, Suyudi mengemban tugas sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional. Kunjungannya ke Istana pada Selasa (29/9) sejatinya hanya untuk menggelar rapat membahas persoalan overcapacity lembaga pemasyarakatan bersama Presiden Prabowo. Kendati demikian, mantan Kepala BNN ini mengaku sudah mengantongi konsep-konsep terkait institusi Polri jauh sebelum namanya mencuat. Konsep tersebut kemudian dimatangkan kembali dalam waktu singkat.
DPR bergerak secepat eksekutif. Ketua DPR RI Puan Maharani menjelaskan bahwa Suyudi merupakan satu-satunya nama yang diserahkan Presiden Prabowo melalui Surat Presiden Nomor R57/Pres/09/2026 tertanggal 30 September 2026. "Dari nama yang diusulkan memang biasanya hanya satu calon," ujar Puan seusai Rapat Paripurna pengesahan. Fit and proper test di Komisi III DPR RI berlangsung sangat ringkas, hanya memakan waktu sekitar 20 menit. Seluruh rangkaian uji kelayakan hingga pengesahan di komisi tuntas dalam kurun waktu 30 menit sebelum nama Suyudi langsung dibawa ke forum Paripurna untuk disahkan secara resmi.
Di hadapan anggota dewan, Suyudi memaparkan arah kebijakan jika amanah itu jatuh ke tangannya. Ia berjanji melanjutkan pembenahan dengan melihat kekurangan institusi secara jernih, sekaligus menjaga dan memperluas capaian yang telah dibangun para pendahulunya. "Tema yang saya usung adalah Polisi Bersama Masyarakat, sebagai doktrin kepemimpinan dan arah transformasi yang menempatkan masyarakat sebagai pusat orientasi tugas kepolisian," tegasnya. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa pendekatan humanis akan menjadi fondasi utama kepemimpinannya.
Analisis Redaksi
Kecepatan proses pergantian Kapolri kali ini patut dicatat dalam sejarah birokrasi Indonesia. Jarak antara pemberitahuan pagi hari hingga pelantikan sore hari menunjukkan tingkat kepercayaan penuh Presiden Prabowo terhadap figur Suyudi. Mekanisme penyampaian satu nama calon tunggal lewat Surat Presiden juga menegaskan kuatnya kendali eksekutif atas proses seleksi jabatan strategis negara. DPR, dalam hal ini, menjalankan fungsi persetujuan dengan tempo yang luar biasa cepat tanpa perdebatan panjang.
Pilihan mengangkat mantan Kepala BNN bukan tanpa alasan logis. Latar belakang Suyudi di bidang penegakan hukum narkotika memberikannya pengalaman lapangan yang keras dan terukur. Namun, tantangan memimpin Polri jauh lebih kompleks dari sekadar memburu jaringan narkoba. Isu overcapacity Lapas yang sempat ia bahas dengan Presiden dua hari sebelumnya justru bisa menjadi titik masuk untuk menata ulang hubungan sinergis antara Polri dan Kementerian Hukum dalam manajemen tahanan.
Doktrin "Polisi Bersama Masyarakat" yang diusung Suyudi harus segera diuji di lapangan. Retorika transformasi kerap berhenti di meja kerja perwira tinggi tanpa menyentuh Polsek di pelosok daerah. Publik perlu mengawasi apakah konsep ini benar-benar mengubah kultur pelayanan atau sekadar slogan seremonial pergantian pimpinan. Langkah pertama yang paling ditunggu adalah siapa saja yang akan mengisi posisi wakil dan jajaran utama Mabes Polri dalam minggu-minggu awal pemerintahannya.
BERITA TERKAIT (Politik)

Presiden Prabowo Panggil Tim Ekonomi ke Istana untuk Koordinasi Kebijakan

Demokrat Nilai Gibran Tak Lagi Memenuhi Syarat Wapres Usai MA Putuskan Suket Tidak Sah

Klarifikasi Wamendagri: Insentif Rp1 Triliun untuk Pemda Cakup Stunting, Rumah, dan Inflasi
