⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Livin' by Mandiri Raih 42,1 Juta Pengguna, SBN dan Deposito Kini Bisa Jadi Agunan Kredit

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNN Ekonomi
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Livin' by Mandiri Raih 42,1 Juta Pengguna, SBN dan Deposito Kini Bisa Jadi Agunan Kredit
BAGIKAN:

Aplikasi Livin' by Mandiri kini menguasai 89 persen total saldo tabungan bank setelah lima tahun beroperasi dengan mencatatkan 42,1 juta pengguna terdaftar hingga Agustus 2026. Pencapaian ini mengonfirmasi pergeseran perilaku nasabah yang tidak lagi sekadar memanfaatkan platform digital untuk transfer dana, melainkan menjadikannya pusat pengelolaan kekayaan dan pengajuan pembiayaan.

Dominasi aplikasi ini terhadap akuisisi nasabah baru terlihat sangat mencolok. Sembilan dari sepuluh nasabah baru Bank Mandiri saat ini membuka rekening langsung melalui Livin'. Angka tersebut membuktikan bahwa kanal fisik di kantor cabang perlahan kehilangan fungsi utamanya sebagai pintu masuk bagi pelanggan retail.

SVP Digital Retail Banking Bank Mandiri Yanto Masyap menjelaskan evolusi kebutuhan nasabah terjadi dalam rentang waktu kurang dari setengah dekade. "Selama hampir lima tahun ini, kami melihat perubahan kebutuhan nasabah dari yang awalnya fokus pada kemudahan bertransaksi, kini bergerak menuju pengelolaan aset dan pencarian solusi pembiayaan yang paling menguntungkan bagi nasabah," ujar Yanto dalam keterangan resminya, Kamis (1/10).

Yanto membongkar miskonsepsi umum di kalangan masyarakat soal investasi dan utang. Banyak orang menganggap investasi hanya bisa dilakukan saat ada kelebihan dana, sementara pembiayaan baru dicari ketika aset sudah habis. Padahal, instrumen investasi seperti SBN Perdana maupun SBN Sekunder yang dimiliki nasabah kini dapat dijadikan agunan untuk pengajuan kredit tanpa harus mencairkan investasinya. Deposito juga bisa difungsikan sebagai cash collateral. Seluruh proses pengajuan Kredit Agunan SBN dan Kredit Agunan Deposito itu berjalan langsung dari aplikasi tanpa perlu menghubungi pegawai cabang atau menyerahkan dokumen tambahan apapun.

Fasilitas serupa merambah sektor properti melalui fitur Livin' KPR. Nasabah bisa mencari rumah dari pengembang papan atas di katalog aplikasi maupun mengajukan kredit untuk rumah bekas. Fitur ini melampaui kalkulator KPR konvensional karena langsung melakukan pengecekan kesanggupan bayar secara detail sehingga hasil simulasi otomatis menjadi penawaran kredit resmi. Pasca pembelian, nasabah tetap bisa menarik dana tunai dengan mengagunkan rumah tersebut.

Ekosistem investasi di dalam aplikasi ini dirancang agar nasabah tidak perlu berpindah platform. Reksa Dana bisa dibeli mulai Rp10 ribu, partisipasi pendanaan negara lewat SBN tersedia, hingga transaksi saham bisa dieksekusi. Seluruh portofolio terintegrasi rapi di satu layar. Menjelang HUT ke-28 Bank Mandiri pada 2 Oktober 2026, pengembangan ini diklaim sejalan dengan semangat "Tumbuh Bersama Majukan Indonesia" dan posisinya sebagai bagian dari Ekosistem Danantara.

"Inovasi teknologi yang kami hadirkan di Livin' bukan sekadar tentang kecanggihan sistem, melainkan tentang bagaimana kami bisa memberikan dampak yang nyata. Kami berkomitmen untuk terus menjadi mitra finansial yang adaptif, mendampingi nasabah melalui setiap fase kehidupnya agar kita bisa terus tumbuh bersama mewujudkan masa depan finansial yang lebih baik. Nantikan berbagai inovasi yang akan segera kami hadirkan," pungkas Yanto.

Analisis Redaksi

Langkah Bank Mandiri menjadikan SBN dan deposito sebagai agunan kredit langsung di dalam aplikasi merupakan manuver cerdas untuk mengunci likuiditas nasabah. Selama ini, pencairan dini investasi selalu menjadi hambatan psikologis utama ketika seseorang membutuhkan dana mendesak. Dengan menghapus gesekan tersebut, bank sekaligus mengamankan basis dana pihak ketiga yang berkontribusi 89 persen terhadap total saldo tabungan mereka. Ini adalah strategi retensi berlapis yang sulit ditiru oleh bank digital murni yang tidak memiliki kedalaman produk investasi selengkap ini.

Namun, kemudahan mengambil pembiayaan berbasis aset investasi membawa risiko tersendiri yang patut diwaspadai publik. Ketika batas antara berinvestasi dan berutang menjadi sangat tipis, nasabah retail rentan terjebak dalam siklus leverage berlebihan tanpa pemahaman memadai tentang risiko gagal bayar. Simulasi KPR yang langsung berubah menjadi penawaran kredit memang efisien, tetapi efisiensi ini menuntut literasi keuangan yang jauh lebih tinggi dari rata-rata pengguna aplikasi perbankan saat ini.

Ke depan, posisi Bank Mandiri di dalam Ekosistem Danantara akan sangat bergantung pada seberapa kuat infrastruktur manajemen risiko mereka menahan lonjakan kredit yang berasal dari kanal digital. Integrasi penuh antar-instrumen keuangan di satu genggaman tangan memang menjanjikan kenyamanan, tetapi regulator perlu memastikan bahwa algoritma persetujuan kredit otomatis tidak mengorbankan prinsip kehati-hatian demi mengejar target pertumbuhan pengguna.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸