Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Pritta Tyas: Kehadiran Orang Tua Kunci Cegah Anak Lari ke Kecerdasan Buatan

KesehatanBudi SantosoBudi SantosoSumber: Antara News
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Pritta Tyas: Kehadiran Orang Tua Kunci Cegah Anak Lari ke Kecerdasan Buatan
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Makna kehadiran orang tua Menurut Pritta, anak tidak sekadar butuh jawaban logis dari AI.
  • Ketika orang tua hadir dengan penuh perhatian, anak merasa didengar.
  • Perasaan didengar ini menjadi pembeda utama dibandingkan interaksi dingin dengan algoritma.

Psikolog klinis dan keluarga Pritta Tyas Mangestuti menegaskan bahwa kehadiran fisik dan emosional orang tua menjadi benteng utama agar anak-anak tidak lari ke kecerdasan buatan (AI) sebagai tempat curhat atau penghilang rasa kesepian.

Makna kehadiran orang tua Menurut Pritta, anak tidak sekadar butuh jawaban logis dari AI. Mereka butuh tempat aman. Ketika orang tua hadir dengan penuh perhatian, anak merasa didengar. Perasaan didengar ini menjadi pembeda utama dibandingkan interaksi dingin dengan algoritma.

AI memang bisa memberikan respons instan. Namun, respons itu tidak memiliki kepekaan terhadap nuansa emosi manusia. Anak yang merasa kesepian di rumah cenderung mencari pelukan virtual. Pritta mengingatkan bahwa ini adalah tanda alarm. Tanda itu menandakan terputusnya jembatan emosional di dalam keluarga.

Konteks digital Peran orang tua kini berubah. Dulu, tugas mengasuh terbatas pada ruang fisik. Kini, tugas itu meluas ke ruang digital. Anak menghabiskan waktu di dunia maya. Jika dunia maya itu tidak bisa mereka jajarkan dengan dunia nyata, mereka akan merasa terasing. AI mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh keterlambatan atau ketidakhadiran orang tua.

Pritta menyarankan pendekatan sederhana. Hentikan layar saat anak ingin bicara. Tatap mata anak. Biarkan mereka merasa menjadi prioritas. Bukan sebagai orang tua yang sibuk, tapi sebagai manusia yang mau meluangkan waktu. Langkah kecil ini membangun fondasi kepercayaan yang sulit digantikan oleh mesin.

Dampak jangka panjangnya jelas. Anak yang terbiasa curhat ke AI kehilangan keterampilan sosial dasar. Mereka terlatih untuk berbicara dengan mesin, bukan dengan manusia. Ini akan menghambat perkembangan empati dan kemampuan mereka membangun relasi sehat di masa depan.

Analisis Redaksi

Peringatan Pritta Tyas Mangestuti ini menyoroti blind spot besar dalam diskusi parenting modern. Masyarakat sibuk membicarakan "digital detox" atau batasan waktu layar. Padahal, inti masalahnya bukan pada lamanya paparan teknologi, melainkan pada kualitas koneksi manusia di baliknya. Jika orang tua absen secara emosional, teknologi apa pun akan mengambil alih peran pengasuh dan sahabat bagi anak.

Yang perlu diwaspadai adalah normalisasi hubungan ini. Anak menganggap normal bahwa AI lebih sabar dan tidak menghakimi dibanding orang tua. Ini berbahaya bagi kesehatan mental. Masyarakat perlu menggeser narasi dari sekadar "membatasi HP" menjadi "menghadirkan diri secara penuh". Kehadiran tanpa syarat adalah satu-satunya antivirus efektif bagi kesepian anak di era ini.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ