Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Polisi Ungkap Lab Narkoba Etomidate Cina di PIK 2, Produsen Digelandar

KriminalSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Polisi Ungkap Lab Narkoba Etomidate Cina di PIK 2, Produsen Digelandar
BAGIKAN:

Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Barat membongkar operasi clandestine laboratorium narkotika jenis etomidate di sebuah rumah di kawasan Cluster Hawai Cove 6, Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Kabupaten Tangerang. Penggerebekan ini berhasil melumpuhkan jaringan produksi yang dikendalikan oleh warga negara China, dengan CF (27) diamankan sebagai pengelola utama. Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Pol Nasriadi, menyatakan bahwa pengungkapan ini memutus mata rantai peredaran sediaan baru narkotika yang meresahkan.

Kriminalitas ini terungkap bermula dari laporan masyarakat di wilayah Slipi, Palmerah, Jakarta Barat. Tim dari Satres Narkoba kemudian melakukan observasi dan menindaklanjuti informasi tersebut. Setelah dilakukan penyelidikan mendalam yang dipimpin AKP Jimi Farid M, target operasi diketahui bersembunyi di PIK 2. CF diamankan pada Senin malam, 21 September, saat sedang bersama dua rekan WN China lainnya, yaitu ZD dan YX. Namun, pemeriksaan awal menunjukkan ZD dan YX tidak memiliki keterkaitan dengan barang bukti yang disita dari CF.

Dari lokasi pertama di Cluster Hawai Cove 8, polisi menyita 22 ikat plastik bungkus pods cartridge etomidate dan satu unit ponsel. CF kemudian mengakui penyimpanan barang bukti lain di lokasi berdekatan. Penggeledahan di Cluster Hawai Cove 6 menemukan 13 bungkus bubuk bahan baku seberat 1.300 gram, 22 botol cairan etomidate sebesar 11.000 mililiter, serta ribuan cartridge kosong dan ratusan pod terisi. Peralatan seperti timbangan digital, perangkat pemanas, dan wadah masak turut disita sebagai alat bukti produksi.

Kasus ini mengungkap modus operandi yang terstruktur melalui internet. CF, yang berasal dari Fujian, China, merekrut diri melalui platform TikTok untuk berkomunikasi dengan instrutor berinisial AC. AC yang kini masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) tersebut menyewa rumah dan menyediakan bahan baku, sekaligus melatih CF secara jarak jauh. CF datang ke Indonesia akhir Agustus 2026 dan beroperasi selama dua bulan dengan iming-iming upah 5.000 RMB atau sekitar Rp13,3 juta.

Penyidik memperkirakan CF mampu memproduksi hingga 20.514 cartridge narkotika dari bahan yang ditemukan. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, CF dijerat Pasal 610 ayat (2) huruf b KUHP terkait produksi narkotika Golongan II melebihi batas tertentu. AKBP Vernal A Sambo menegaskan bahwa proses penyidikan belum selesai; tim masih memburu AC dan menelusuri jaringan distribusi untuk memberantas rantai peredaran gelap secara tuntas.

Analisis Redaksi

Pengungkapan laboratorium etomidate di PIK 2 menggeser fokus pengendalian narkoba dari sekadar peredaran ke hulu, yakni manufaktur dalam negeri. Kehadiran laboratorium clandestine di kawasan hunian premium menandakan kelompok kriminal terorganisir telah memanfaatkan celah keamanan dan privasi di kompleks residensial tertutup. Penggunaan media sosial untuk rekrutmen lintas negara menunjukkan adaptasi cepat sindikat dalam memanfaatkan teknologi untuk evading deteksi hukum.

Keberhasilan membebasan DPO AC menjadi kunci utama untuk memetakan jaringan distribusi dan kemungkinan sindikat lain di Indonesia. Dengan potensi produksi puluhan ribu cartridge, dampak bagi publik bukan hanya kesehatan, tetapi juga pergeseran paradigma ancaman yang kini bersifat terstruktur dan terdigitalisasi. Aparat penegak hukum perlu memperketat pengawasan terhadap aktivitas anomalous di kawasan hunian elit untuk mencegah terbentuknya basis produksi narkotika jenis baru lainnya.

BERITA TERKAIT (Kriminal)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ