Kelangkaan Beras Premium 5 Kg di Ritel Modern Diduga Akibat Eksploitasi Mafia Pangan

Kelangkaan stok beras premium ukuran 5 kilogram di minimarket dan supermarket besar ternyata bukan sinyal Krisis pangan nasional. Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ketersediaan beras di pasar tradisional masih aman dan harga tetap terkendali di bawah ambang batas resmi. Penarikan massal produk bermasalah justru menjadi pemicu utama kekosongan rak di ritel modern, kata Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, Hermawan.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, Hermawan, menjelaskan bahwa situasi kosongnya stok 5 kg di minimarket seperti Alfamart dan Indomaret adalah dampak langsung dari penghentian produksi. Produsen yang produknya terbukti melanggar aturan label dan mutu kandungan kini dilarang beredar. Mereka tidak boleh lagi menyalurkan beras fortifikasi yang klaim gizinya tidak sesuai isi.
"Terkait terbatasnya stok di ritel modern, itu adalah sebagai efek mungkin yang produsen-produsen yang kemarin menyalurkan beras fortifikasi ke ritel modern, itu kan tidak boleh lagi memproduksi beras fortifikasi dikarenakan banyak yang bermasalah. Artinya, apa yang disampaikan di label itu tidak sesuai dengan isi kandungan," ujar Hermawan dalam keterangan tertulis, Rabu (30/9).
Tindakan tegas ini melibatkan 25 merek dari 11 pelaku usaha. Satgas Pangan Polri memerintahkan penarikan hampir 90 persen dari total produksi yang bermasalah tersebut. Petugas menyisir ritel modern untuk menarik semua beras tersebut dari peredaran guna menjaga kualitas pangan masyarakat.
Hermawan menambahkan, ada pihak-pihak yang sengaja memanfaatkan situasi penarikan produk ini untuk menciptakan kelangkaan semu. "Ini masalahnya banyak oknum-oknum nih atau istilah kata Pak Mentan/Kepala Bapanas, mafia yang memanfaatkan kondisi saat ini untuk menaikkan harga," ungkapnya. Ia menyebut produsen enggan memasok ritel modern karena potongan harga membuat keuntungan menjadi sangat tipis, sehingga mereka lebih memilih pasar tradisional.
Berdasarkan pemantauan di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) Jakarta, harga
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Di Tengah Gejolak IHSG, ANTM Disorot: Yield Dividen Potensial Tembus 14% dengan Target Harga Rp5.500

Menteri LH Buka Dugaan Pembakaran Hutan sebagai Sabotase Citra Pemerintah, Telusuri 335 Konsesi Perusahaan

Superbank Catat Lonjakan PBT 376% di Q3-2026, Didorong DPK Naik 79% dan Ekosistem Digital
