Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Kelangkaan Beras Premium 5 Kg di Ritel Modern Diduga Akibat Eksploitasi Mafia Pangan

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNN Ekonomi
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Kelangkaan Beras Premium 5 Kg di Ritel Modern Diduga Akibat Eksploitasi Mafia Pangan
BAGIKAN:

Kelangkaan stok beras premium ukuran 5 kilogram di minimarket dan supermarket besar ternyata bukan sinyal Krisis pangan nasional. Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ketersediaan beras di pasar tradisional masih aman dan harga tetap terkendali di bawah ambang batas resmi. Penarikan massal produk bermasalah justru menjadi pemicu utama kekosongan rak di ritel modern, kata Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, Hermawan.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, Hermawan, menjelaskan bahwa situasi kosongnya stok 5 kg di minimarket seperti Alfamart dan Indomaret adalah dampak langsung dari penghentian produksi. Produsen yang produknya terbukti melanggar aturan label dan mutu kandungan kini dilarang beredar. Mereka tidak boleh lagi menyalurkan beras fortifikasi yang klaim gizinya tidak sesuai isi.

"Terkait terbatasnya stok di ritel modern, itu adalah sebagai efek mungkin yang produsen-produsen yang kemarin menyalurkan beras fortifikasi ke ritel modern, itu kan tidak boleh lagi memproduksi beras fortifikasi dikarenakan banyak yang bermasalah. Artinya, apa yang disampaikan di label itu tidak sesuai dengan isi kandungan," ujar Hermawan dalam keterangan tertulis, Rabu (30/9).

Tindakan tegas ini melibatkan 25 merek dari 11 pelaku usaha. Satgas Pangan Polri memerintahkan penarikan hampir 90 persen dari total produksi yang bermasalah tersebut. Petugas menyisir ritel modern untuk menarik semua beras tersebut dari peredaran guna menjaga kualitas pangan masyarakat.

Hermawan menambahkan, ada pihak-pihak yang sengaja memanfaatkan situasi penarikan produk ini untuk menciptakan kelangkaan semu. "Ini masalahnya banyak oknum-oknum nih atau istilah kata Pak Mentan/Kepala Bapanas, mafia yang memanfaatkan kondisi saat ini untuk menaikkan harga," ungkapnya. Ia menyebut produsen enggan memasok ritel modern karena potongan harga membuat keuntungan menjadi sangat tipis, sehingga mereka lebih memilih pasar tradisional.

Berdasarkan pemantauan di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) Jakarta, harga

Ia memastikan untuk harga

Analisis Redaksi

Insiden ini memperlihatkan kerentanan sistem distribusi pangan saat regulasi kualitas ditegakkan. Ketika produk bermasalah ditarik secara masif, celah pasar di ritel modern tidak segera terisi karena produsen enggan mengambil risiko margin tipis. Ini menunjukkan betapa rapuhnya hubungan antara kebijakan pangan dan mekanika pasar modern yang bergantung pada margin keuntungannya.

Unggahan adanya "oknum mafia" yang mendongkrak harga menjadi peringatan serius bagi otoritas. Jika kelangkaan semu ini terjadi sengaja, dampaknya bukan hanya kenaikan harga, melainkan juga keraguan publik terhadap ketersediaan pangan. Ini membuka pintu bagi spekulasi harga yang merugikan konsumen dan petani.

Langkah logis selanjutnya harus fokus pada percepatan suplai pengganti yang sah dan berlabel benar, serta penegakan hukum yang tegas terhadap pihak-pihak yang sengaja memborong stok atau menahan distribusi untuk menciptakan kelangkaan semu. Ketersediaan pangan tidak boleh dijadikan alat spekulasi di saat masyarakat sedang rentan terhadap lonjakan biaya hidup.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ