Basarnas Ganti Mode Kejaran: Pencarian 5 Jurnalis Selat Sunda Masuk Operasi Rutin 24 Jam
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) resmi mengalihkan operasi pencarian gabungan menjadi operasi rutin yang berlangsung 24 jam. Keputusan ini diambil setelah operasi besar-besaran yang dimulai pada Kamis (17/9) dinilai tidak lagi efektif. Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menegaskan bahwa perubahan status operasi ini bukan berarti pencarian terhadap lima jurnalis dan dua kru kapal yang hilang di perairan Selat Sunda dihentikan total.
"Nah, pada saat sudah hasil rapat terus diputuskan bahwa operasi bukan ditutup, tapi dialihkan ke operasi rutin," kata Syafii saat berada di Grand Hotel De Djokja, Kota Yogyakarta, DIY, pada Selasa (29/9). Ia menjelaskan bahwa setelah fase intensif berakhir, tanggung jawab pencarian dikembalikan ke masing-masing kantor SAR wilayah terkait. Di fase gabungan sebelumnya, Kantor SAR Banten dan Kantor SAR Lampung bekerja sama di bawah kendali Search Mission Coordinator (SMC), dengan Kepala Kantor SAR Banten sebagai SMC.
Transisi ke operasi rutin ini terjadi di tengah temuan terbaru yang cukup krusial. Satu jenazah kru KM Arupadatu, kapal yang membawa rombongan jurnalis tersebut, ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, pada Sabtu (12/9). Jasad tersebut baru teridentifikasi resmi atas nama Surakman (60) pada Rabu (23/9). Meskipun ada penemuan ini, Syafii memastikan bahwa Kantor SAR Bengkulu tetap memfokuskan upaya pencarian di sekitar Pulau Enggano.
"Pada saat itu sebenarnya Kantor SAR Bengkulu memfokuskan terhadap pencarian yang ada di sana dengan melibatkan seluruh warga, baik itu yang ada di pesisir pantai, TNI, Polri, untuk bisa memberikan informasi kalau ada tanda-tanda ditemukan korban," imbuh Syafii. Menurutnya, hingga saat ini belum ada perkembangan lanjutan dari upaya tersebut. Pencarian kini melibatkan masyarakat pesisir, TNI, dan Polri secara terstruktur di bawah kendali operasi rutin.
Syafii menegaskan bahwa di tahap ini, masing-masing kantor SAR melaksanakan operasi 24 jam sepanjang masa. "Masing-masing kantor SAR melaksanakan operasi 24 jam sepanjang masa," tegasnya. Strategi ini menandai fase baru di mana intensitas pencarian tetap tinggi, tetapi distribusinya lebih menyebar ke berbagai potensi SAR di wilayah terkait. Publik kini menunggu apakah operasi rutin ini akan membuahkan hasil setelah beberapa minggu pencarian intensif sebelumnya.
Analisis Redaksi
Peralihan dari operasi gabungan ke rutin adalah prosedur standar dalam protokol pencarian di Indonesia ketika fase golden hour sudah lewat dan efektivitas pencarian massal menurun. Namun, dalam kasus Hilangnya Jurnalis Selat Sunda, langkah ini tetap harus dievaluasi dengan ketat. Fakta bahwa satu jenazah baru teridentifikasi lebih sepekan setelah ditemukan menyoroti betapa kompleksnya logistik identifikasi di wilayah kepulauan terpencil seperti Pulau Enggano.
Yang perlu diwaspadai adalah persepsi publik terhadap istilah "rutin". Bagi keluarga korban dan masyarakat luas, penurunan status operasi sering kali disalahartikan sebagai penurunan prioritas atau harapan. Padahal, Syafii sudah menegaskan komitmen 24 jam. Tantangan ke depan bukan lagi pada mobilisasi sumber daya besar, melainkan pada ketekunan intelijen lokal. Libat masyarakat pesisir, TNI, dan Polri adalah kunci di fase ini, karena mereka yang paling memahami medan dan arus lokal yang tidak terpetakan secara detil oleh tim gabungan pusat.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

200 Warga Pondok Bambu Ikuti Sosialisasi Jemput Bola Perlindungan Sosial dan Desil

Ancol Transformasi Masjid Apung An-Nur Jadi Pusat Ibadah dan Silaturahmi Sosial

Cegah Balap Liar, Pemkot Jaksel Tutup Lima Akses JLNT Antasari Saat Akhir Pekan
