Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Bandar Narkoba Tewas, Tujuh Polisi Polda Sulsel Diperiksa Propam

HukumBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Bandar Narkoba Tewas, Tujuh Polisi Polda Sulsel Diperiksa Propam
BAGIKAN:

Tujuh personel Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulawesi Selatan kini berada di bawah sorotan Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam). Pemeriksaan intensif ini menyusul tewasnya seorang bandar narkoba berinisial R akibat luka tembak di bagian kaki dan paha. Insiden tragis tersebut memicu penyelidikan internal untuk memastikan apakah prosedur penangkapan telah berjalan sesuai standar operasional.

Direktur Reserse Narkoba Polda Sulsel Kombes Pol Sugeng Sudarso mengonfirmasi status pemeriksaan ketujuh anggotanya pada Rabu (30/9). Menurut Sugeng, fokus utama propam adalah menelusuri alur kejadian sejak awal pengejaran hingga proses pelumpuhan tersangka. "Pemeriksaan ini untuk memastikan seluruh prosedur penangkapan telah dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP)," tegasnya. Langkah ini diambil guna menjamin transparansi dan akuntabilitas dalam setiap tindakan penegakan hukum yang berpotensi fatal.

Kronologi kematian R bermula dari penangkapan pada Minggu (27/9) setelah polisi memburunya sejak pertengahan September. R merupakan residivis kasus narkoba yang terlibat dalam jaringan pengedar besar. Dalam pengembangan kasus sebelumnya, petugas berhasil menangkap tiga rekan R serta menyita 150 gram narkotika jenis sabu. Keberadaan R akhirnya terdeteksi di pinggir jalan di Kabupaten Bulukumba saat ia kehabisan bahan bakar sepeda motor.

Situasi memanas ketika R mencoba melarikan diri ke arah hutan. Polisi mengklaim tersangka melawan dengan mengacungkan badik dan mengancam keselamatan petugas. Setelah tembakan peringatan tidak diindahkan, R masuk ke rumah warga dan bersembunyi di kamar mandi. Petugas kemudian melakukan tindakan pelumpuhan berupa tembakan di kaki. Sugeng menjelaskan bahwa R mengalami dua luka tembak, masing-masing di bagian paha dan lutut, sebelum dibawa ke rumah sakit setempat lalu dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sulsel di Makassar.

Ironisnya, kondisi R sempat dinyatakan stabil pasca-penanganan medis awal. Ia bahkan masih berkomunikasi dengan tim penyidik. Namun, sekitar pukul 04.00 WITA, anggota penjaga memantau R mengalami kejang-kejang hebat. Nyawanya tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 07.10 WITA. Sugeng membantah keras tudingan adanya penganiayaan. "Bukan karena tindakan penganiayaan, namun murni akibat luka tembak pelumpuhan dan benturan saat berhadapan dengan anggota," ujarnya. Pihak keluarga menolak autopsi jenazah meski polisi telah menyiapkan pernyataan resmi tanpa paksaan.

Analisis Redaksi

Kematian tersangka dalam custody atau segera setelah penangkapan selalu menjadi titik kritis kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian. Fakta bahwa tujuh anggota diperiksa menunjukkan keseriusan internal Polri dalam menangani potensi pelanggaran SOP. Namun, penolakan autopsi oleh keluarga menciptakan celah informasi yang lebar; tanpa otopsi forensik independen, penyebab pasti kematian—apakah murni trauma balistik, komplikasi medis, atau faktor lain—sulit diverifikasi secara objektif. Ini menempatkan polisi dalam posisi defensif yang rentan terhadap spekulasi liar jika komunikasi publik tidak dikelola dengan sangat hati-hati dan berbasis bukti ilmiah.

Aspek 'residivis' dan perlawanan menggunakan senjata tajam (badik) sering kali digunakan sebagai justifikasi tindakan represif aparat. Namun, penggunaan kekuatan mematikan atau pelumpuhan harus tetap tunduk pada prinsip proporsionalitas. Jika hasil pemeriksaan Propam menemukan indikasi kelalaian medis atau penggunaan kekuatan berlebih, hal ini bisa menjadi preseden buruk bagi reformasi birokrasi kepolisian di daerah. Publik berhak tahu apakah protokol evakuasi medis darurat sudah dijalankan optimal selama masa kritis antara penangkapan hingga meninggalnya R.

Meow! Tanya Nesi!
😸