Utang Rp4,7 T Buat INKA Dibawa ke Bawah KAI, Rampung Jan 2027
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Badan Pengaturan (BP) BUMN menegaskan PT Industri Kereta Api (INKA) bakal masuk ke bawah PT Kereta Api Indonesia (KAI) dalam proses konsolidasi sektor perkeretaapian, ditarget rampung sebelum Januari 2027. Kepala BP BUMN Dony Oskaria menjelaskan langkah ini diambil karena INKA tengah terduduk di utang unsustainable loan mencapai Rp4,7 triliun, sementara ekuitasnya nyaris negatif.
"Harusnya sudah (selesai konsolidasi di Januari), sebelum Januari malah harusnya. Tapi saya cek, makanya saya cek. Ini kan proses konsolidasi per sektor kita kan," ujar Dony di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Selasa (29/9).
Ia menekankan bahwa industri seperti INKA wajib ditata ulang karena kapasitas produksinya saat ini dinilai belum mampu menjawab kebutuhan sarana transportasi publik nasional secara keseluruhan.
Dari sisi operator, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin membeberkan detail teknis integrasi. Akta inbreng atau pengalihan aset akan diproses pada September 2026 dengan skema bersyarat, sehingga konsolidasi secara legal berlaku efektif pada 1 Januari 2027. Saat ini, proses due diligence tengah diselesaikan oleh tim KAI.
Bobby menyebut sinergi ini mengawinkan kemampuan rekayasa KAI melalui Balai Yasa dengan kapasitas manufaktur INKA. Keterlambatan penyerahan sembilan rangkaian kereta dan kapasitas produksi KRL di pabrik INKA yang baru 3 unit per tahun disebut jadi alarm serius.
Konsep integrasi ini juga menyasar efisiensi logistik. KAI akan memanfaatkan fasilitas di Sumatra Selatan dan Lampung untuk merampingkan produksi gerbong datar batubara yang kini terpecah antara Banyuwangi dan Madiun.
Bobby memberi contoh keruwetan biaya logistik saat ini. "Jadi seperti misalnya kereta barang, gerbong datar, batu bara, itu kan peruntukannya Sumatra Selatan. Sementara selama ini gerbong datar itu produksinya di Banyuwangi. Ada sebagian di Banyuwangi, ada sebagian rangka bawahnya itu masih di Madiun. Ini kan biaya logistiknya cukup mahal," katanya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (23/9).
Untuk melancarkan distribusi, KAI tengah menyiapkan jalur rel sepanjang 3-4 kilometer dari fasilitas INKA menuju pelabuhan di Banyuwangi. Tujuannya agar pengiriman kereta tidak lagi bergantung pada truk towing yang rentan macet di terowongan. Skema integrasi ini dijalankan bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia dengan target pemenuhan 156 rangkaian KRL hingga 2040.
Analisis Redaksi
Pengambilalihan INKA oleh KAI bukan sekadar soal efisiensi, melainkan soal penyelamatan nyara keuangan. Ekuitas negatif dan utang Rp4,7 triliun membuat INKA rapuh. Tanpa suntikan modal dan efisiensi logistik berbasis pelabuhan, target 156 rangkaian KRL di 2040 hanya jadi angan.
Perlu diwaspadai risiko jangka pendek: integrasi belum berarti produksi melonjak, dan KAI masih harus bergantung pada impor KRL bekas Jepang sebagai penyangga. Artinya, rakyat pengguna KRL masih menguras waktu tunggu saat mesin produksi dalam masa transisi.
Langkah ke depan yang wajib dipantau adalah realisasi inbreng dan pembangunan jalur rel ke pelabuhan, bukan sekadar janji. Jika kedua fondasi itu tidak tertancap sebelum 2027, konsolidasi ini hanya akan menambah beban KAI.


