Unair Duga Keracunan Massal 178 Peserta PPDS Akibatkan Dapur Fakultas FK

Kesehatan
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Unair Duga Keracunan Massal 178 Peserta PPDS Akibatkan Dapur Fakultas FK
BAGIKAN:

Keragutan massal yang menimpa ratusan peserta didik Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di RSUD Dr Soetomo Surabaya kini telah teridentifikasi sumbernya. Universitas Airlangga resmi menduga bahwa pemicu insiden tersebut adalah konsumsi nasi kotak yang disuplai oleh vendor katering pihak luar. Klarifikasi ini disampaikan untuk memisahkan tanggung jawab institusi dari penyedia jasa di luar kampus.

Koordinator Media dan Branding Pusat Humas dan Protokol (PHMP) Unair, Gesang Manggala Nugraha Putra, menegaskan bahwa makanan yang disajikan bukan berasal dari Dapur FK Unair. "Bisa kami pastikan bahwa makanannya bukan berasal dari Dapur FK Unair sebagai institusi, tapi dari penyedia pihak luar," ujar Gesang dalam konferensi pers di RSUD Dr Soetomo pada Selasa (29/9). Informasi ini menjadi krusial karena melibatkan pihak ketiga dalam rantai pasok pangan.

Menurut Gesang, kampus tersebut memang sudah beberapa kali menjalin kerjasama dengan vendor tersebut untuk menyediakan konsumsi kegiatan. Namun, ini merupakan kejadian pertama kali muncul masalah keracunan selama masa kerja sama berlangsung. Saat ditanya mengenai identitas dan domisili vendor, Gesang mengaku belum dapat membeberkannya secara detail karena masih dalam proses pendataan internal.

Direktur RSUD Dr Soetomo, Prof. Dr. Cita Rosita Sigit Prakoeswa, menambahkan bahwa dalam rapat koordinasi, ia mendengar informasi bahwa vendor asal wilayah Kabupaten Sidoarjo, tepatnya di Buduran. Meskipun demikian, Cita menegaskan bahwa pihaknya tidak mengetahui detail nama atau identitas legal vendor tersebut dan menyerahkan hal itu kepada FK Unair sebagai panitia utama. "Saya tidak tahu, nanti ditanyakan ke FK saja," tuturnya singkat. Kejadian ini menegaskan pentingnya transparansi data pemasok di fasilitas kesehatan.

Total korban dugaan keracunan ini terus bertambah dan kini mencapai 178 orang. Jumlah tersebut tidak hanya mencakup calon dokter spesialis, tetapi juga melibatkan pegawai kebersihan RSUD Dr Soetomo. Kejadian bermula saat kegiatan Pra-pendidikan (Pradik) di Gedung Pusat Diagnostik Terpadu lantai 7 pada Senin (28/9). Sebagai langkah awal, Unair telah meliburkan sementara kegiatan Pradik dan menunggu hasil uji laboratorium untuk menentukan tindak lanjut hukum dan administrative terhadap vendor terkait.

Analisis Redaksi

Pengakuan Unair bahwa sumber makanan berasal dari pihak luar adalah langkah strategis untuk melindungi reputasi institusi, namun ini juga menyorongkan pertanyaan tajam tentang standar pengawasan katering di fasilitas pendidikan tinggi kedokteran. Kerjasama yang sudah berlangsung lama tanpa insiden sebelumnya kini berhadapan dengan risiko besar yang seharusnya bisa dicegah dengan audit pangan yang lebih ketat. Kegagalan melacak identitas vendor secara cepat menunjukkan adanya potensi celah dalam manajemen vendor di lingkungan kampus.

Bagi publik, insiden ini menjadi pengingat bahwa keamanan pangan di fasilitas medis tidak bisa hanya bergantung pada jaminan verbal dari institusi. Dengan korban meluas hingga staf kebersihan, dampak ekonomi dan operasional RSUD Dr Soetomo akan terasa signifikan. Unair dan vendor harus menghadapi konsekuensi hukum yang serius jika hasil laboratorium membuktikan pelanggaran standar keamanan pangan.

Langkah meliburkan kegiatan Pradik adalah respons wajar, tetapi publik kini menunggu bukti validasi laboratorium. Tanpa data ilmiah yang kuat, spekulasi akan terus berkembang dan dapat menggerus kepercayaan masyarakat terhadap standar keselamatan di institusi pendidikan dokter terkemuka di Jawa Timur ini.

Meow! Tanya Nesi!
😸