Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

The Fed Naikkan Suku Bunga, BI Waspadai DXY Tembus 101,11 dan Rupiah di 17.917

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNN Ekonomi
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

The Fed Naikkan Suku Bunga, BI Waspadai DXY Tembus 101,11 dan Rupiah di 17.917
BAGIKAN:

The Federal Reserve (The Fed) resmi menaikkan suku bunga acuan AS sebesar 25 basis poin ke rentang 3,75-4 persen, sebuah langkah yang kembali menekan rupiah dan memicu kekhawatiran di Bank Indonesia (BI). Kebijakan moneter ketat tersebut memperburuk tekanan nilai tukar, terutama ketika disoroti dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Jakarta, Senin (28/9). Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan bahwa kondisi ini merupakan tantangan serius yang harus diantisipasi segera.

Destry menjelaskan bahwa kombinasi antara kenaikan suku bunga AS dan inflasi global yang mencapai 4,6 persen menjadi pendorong utama penguatan dolar AS terhadap mata uang dunia. Ia memperingatkan bahwa BI masih memperkirakan adanya satu kali kenaikan suku bunga lagi oleh The Fed pada kuartal IV 2026. "Belum lama ini The Fed juga menaikkan suku bunga 25 bps dan kami masih perkirakan satu kali lagi di kuartal IV. Ini mendorong penguatan pada dolar ke mata uang kuat lainnya, DXY capai 101,11, di Asia 96,26," ujar Destry. Angka DXY yang menyentuh 101,11 menandakan dolar AS sedang dalam fase menguat yang signifikan terhadap sekeranjang mata uang utama.

Tekanan ini terlihat jelas pada data pasar. Pada Jumat (25/9), posisi rupiah berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di level Rp17.917 per dolar AS. BI menilai kondisi global tersebut tidak hanya mempengaruhi spekulasi pasar, tetapi juga berpotensi mengganggu neraca pembayaran dan stabilitas nilai tukar Indonesia secara keseluruhan. Lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik turut memperparah situasi, menciptakan beban ganda bagi impor dan biaya logistik di dalam negeri.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita, mengingatkan bahwa fenomena ini bukan sekadar penguatan dolar, melainkan peningkatan permintaan terhadap aset berdenominasi dolar. "Yang sedang kita hadapi adalah kombinasi antara strong dollar dan strong demand for dollar assets. Dolar AS menguat terhadap banyak mata uang karena yield aset AS meningkat, ketidakpastian global tinggi, risiko geopolitik meningkat, dan investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman," kata Ronny kepada CNNIndonesia.com. Ia menilai ini merupakan external shock yang cukup kuat, di mana persepsi domestik terhadap kredibilitas kebijakan menjadi penentu seberapa besar tekanan global tersebut diteruskan ke rupiah.

Dampak ekonomi mulai terasa dari sisi biaya input. Indonesia masih bergantung pada impor energi, bahan baku, dan barang modal, sehingga kenaikan harga dalam dolar langsung menggerus margin industri. "Kalau harga minyak global juga tinggi, tekanannya menjadi dobel, di mana harga komoditas naik sekaligus rupiah melemah," jelas Ronny. Meskipun ada sedikit keuntungan bagi eksportir yang mendapat windfall dari kurs yang melemah, beban kewajiban valuta asing pemerintah dan korporasi justru meningkat, sehingga biaya lindung nilai atau hedging menjadi lebih mahal.

Analisis Redaksi

Di balik angka-angka teknis itu, yang sedang terjadi adalah pergeseran persepsi risiko global yang masif. Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai bahwa ketika imbal hasil aset dolar naik, investor otomatis meminta kompensasi lebih besar untuk memegang aset negara berkembang. "Ini bukan sekadar cerita dolar kuat, tetapi perubahan harga risiko global," ujar Syafruddin. Ini berarti, tanpa peningkatan fundamental, tekanan pada surat berharga negara (SBN) dan pasar saham domestik akan terus berlanjut, memaksa BI untuk bekerja ekstra keras dalam menjaga kepercayaan investor asing.

Jangak pendek, BI memiliki ruang manuver berkat cadangan devisa yang tercatat sekitar US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026, setara dengan 5,4 bulan impor. Namun, intervensi pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) saja tidak cukup jika fundamental ekonomi tidak diperkuat. Ronny Sasmita menegaskan bahwa strong dollar ini adalah stress test bagi ketahanan ekonomi Indonesia. Jika ketergantungan pada impor dan capital inflow jangka pendek tetap tinggi, tekanan kurs akan memperlihatkan titik-titik kerentanan struktural negara.

Jalan keluar yang paling rasional bukanlah melawan dolar, melainkan memperkuat fundamental ekonomi secara permanen. Memperluas Local Currency Transaction (LCT), mempercepat ekspor bernilai tambah, dan menarik investasi asing langsung yang menghasilkan devisa adalah langkah wajib. Seperti disimpulkan Syafruddin Karimi, keberhasilan kebijakan moneter harus diukur dari kemampuan menjaga stabilitas rupiah dengan biaya sekecil mungkin terhadap kredit dan pertumbuhan, agar tidak terjebak dalam jebakan suku bunga tinggi yang justru membunuh investasi jangka panjang.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ