Putin Tambah Personel Militer jadi 2,4 Juta, Kiev Khawatir Serangan Rus ke Eropa

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Putin Tambah Personel Militer jadi 2,4 Juta, Kiev Khawatir Serangan Rus ke Eropa
BAGIKAN:

Vladimir Putin resmi menandatangani dekrit nomor 700 pada Senin (28/9), menaikkan jumlah personel resmi Angkatan Bersenjata Rusia menjadi 2,4 juta orang. Kebijakan ini merupakan kenaikan keempat sepanjang 2026, dengan rincian 1,5 juta personel militer aktif. Dekrit yang dipublikasikan di portal informasi hukum resmi tersebut juga memerintahkan pengalokasian anggaran federal untuk Kementerian Pertahanan.

Peningkatan ini terjadi di tengah peringatan keras dari Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengenai potensi mobilisasi tambahan Rusia. Zelensky, mengutip data Intelijen Militer Ukraina (HUR), menyatakan lebih dari 8.000 personel militer Korea Utara kini berada di Rusia. Ia menambahkan bahwa persiapan sedang dilakukan untuk mengerahkan 10.000 personel tambahan lagi, sebuah tanda yang menunjukkan peningkatan keterlibatan pasukan asing dalam skenario perang.

Sebelumnya, jumlah personel Rusia sudah terus merangkak naik sejak awal tahun. Pada Maret, angka ditetapkan menjadi 2.391.770 orang, kemudian naik menjadi 2.399.130 pada Juni. Puncaknya terjadi pada Juli, di mana total personel mencapai 2.426.130, termasuk 1.535.000 personel militer. Menurut TASS, total penambahan sejak Maret mencapai 49.860 orang, sementara badan intelijen Ukraina memperkirakan rencana rekrutmen 600.000 orang pada 2026-2027 telah disiapkan Staf Umum Rusia.

Ketegangan geopolitik kian menebal seiring eratnya kerja sama militer antara Rusia dan Korea Utara. Pyongyang memasok pasukan, senjata, dan tenaga kerja, sementara Moskow memberikan imbalan berupa dukungan finansial dan teknologi. Di sisi lain, negara-negara Eropa meningkatkan kewaspadaan. Perdana Menteri Polandia, Donald Tusk, memperingatkan bahwa Rusia berpotensi melakukan serangan terhadap negara pendukung Ukraina menggunakan drone atau rudal yang disamarkan sebagai kecelakaan.

Di kawasan Baltik, ancaman retoris meningkat setelah Dmitry Medvedev menyatakan Lithuania akan 'lenyap dari peta dunia' jika terjadi konflik terkait pencabutan larangan senjata nuklir. Respons nyata terlihat dari Lithuania yang mengumumkan rencana evakuasi untuk ibu kota Vilnius, dengan salah satu jalur evakuasi menuju Polandia. Meski Kremlin berulang kali membantah adanya mobilisasi baru dan Putin menyangkal persiapan perang dengan Eropa, penguatan pertahanan NATO terhadap ancaman drone dan sabotase terus berlanjut.

Analisis Redaksi

Langkah kuantitatif penambahan personel Rusia ini bukanlah sekadar formalitas statistik, melainkan indikator kapasitas operasional jangka panjang. Dengan memasukkan 1,5 juta personel aktif ke dalam struktur resmi, Moskow sedang merestrukturisasi mesin perangnya untuk menghadapi kelelahan konflik. Keterlibatan Korea Utara yang masif menunjukkan bahwa rantai pasok militer Rusia kini bergantung pada aliansi strategis non-Barat yang mengurangi isolasi diplomatiknya, sebuah pergeseran yang harus menjadi fokus perhatian kebijakan luar negeri regional.

Ancaman terhadap negara-negara NATO, khususnya lewat insiden yang disamarkan, menandai fase baru di mana garis batas antara perang simetris dan asimetris semakin kabur. Rencana evakuasi Vilnius bukan respons berlebihan, melainkan prosedur standar keamanan sipil yang kini diaktifkan karena probabilitas eskalasi nyata. Publik perlu mewaspadai bahwa narasi 'operasi militer khusus' yang terus dipertahankan Kremlin adalah alat disinformasi untuk mengunci persepsi publik, sementara data lapangan menunjukkan intensifikasi ancaman lintas batas.

Meow! Tanya Nesi!
😸