KUR Bank Mandiri Capai Rp29,53 T, 64% Fokus ke Sektor Produksi
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Bank Mandiri telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp29,53 triliun hingga 31 Agustus 2026, dengan 64,48 persen dialirkan ke sektor produksi. Realisasi ini setara dengan 72,03 persen dari target tahunan perseroan yang mencapai Rp41 triliun. Penyaluran tersebut menjangkau 223.284 debitur UMKM di seluruh Indonesia.
Komposisi penyaluran menunjukkan dominasi kuat pada sektor produktif. Hingga delapan bulan pertama 2026, sektor produksi menyerap Rp19,04 triliun, sementara sektor nonproduksi menerima Rp10,48 triliun atau 35,52 persen. Sektor pertanian menjadi penerima terbesar dengan nilai Rp9,84 triliun atau 33,32 persen dari total penyaluran.
Sektor jasa produksi menempati urutan kedua dengan Rp6,47 triliun atau 21,92 persen, disusul industri pengolahan sebesar Rp2,28 triliun atau 7,75 persen. Sektor lain seperti perikanan menerima Rp424 miliar dan pertambangan hanya Rp14,62 miliar. Pola distribusi ini menegaskan fokus Bank Mandiri dalam memperluas pembiayaan ke sektor yang menciptakan nilai tambah.
Senior Vice President Micro Development and Agent Banking Bank Mandiri, Bayu Trisno Arief Setiawan, menegaskan bahwa KUR diarahkan untuk membuka akses pembiayaan bagi pelaku usaha. Hal ini bertujuan membantu mereka meningkatkan produktivitas dan memperkuat kapasitas usaha. "Ketika UMKM khususnya pada sektor produksi bertumbuh, maka terdapat peluang bagi pemerataan tingkat kesempatan kerja," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (29/9).
Kualitas kredit tetap terjaga dengan Non-Performing Loan (NPL) di bawah 1 persen. Secara kumulatif, Bank Mandiri telah menyalurkan Rp332,77 triliun kepada 3,81 juta debitur sejak 2008. Sepanjang 2026, 157.839 debitur baru berhasil diakuisisi, atau 71,75 persen dari target 220.000 debitur. Komitmen ini sejalan dengan tema HUT ke-28 Bank Mandiri, "Tumbuh Bersama Majukan Indonesia".
Analisis Redaksi
Pergeseran signifikan 64 persen KUR ke sektor produksi mengindikasikan perubahan strategi bank dalam merespons mandat pemerintah. Ini bukan sekadar penyaluran dana, tetapi investasi pada multiplier effect ekonomi yang lebih luas.
Perlu diwaspadai potensi konsentrasi risiko di sektor pertanian yang sangat bergantung pada faktor cuaca dan fluktuasi harga komoditas. Namun, rasio NPL di bawah 1 persen menunjukkan manajemen risiko yang masih kuat dan solid.
Ke depan, langkah logis adalah penguatan ekosistem pendukung. Sinergi dengan pemerintah daerah dan kementerian lembaga akan menjadi kunci untuk memastikan dampak kumulatif Rp332,77 triliun ini benar-benar terdistribusi ke sektor strategis.


