Keracunan Massal PPDS Unair Capai 178 Orang, 6 Karyawan RSUD Soetomo Ikut Terlibat

Kesehatan
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Keracunan Massal PPDS Unair Capai 178 Orang, 6 Karyawan RSUD Soetomo Ikut Terlibat
BAGIKAN:

Korban dugaan keracunan massal dalam kegiatan Pra-pendidikan (Pradik) Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga kini mencapai 178 orang. Angka ini melampaui laporan awal yang mencatat 172 korban, setelah terkonfirmasi adanya enam pegawai Rumah Sakit dr. Soetomo yang juga mengalami gejala serupa usai mengonsumsi makanan dari acara tersebut. Data ini disampaikan langsung oleh Direktur RSUD Dr Soetomo dalam konferensi pers, menegaskan bahwa skala insiden ini melibatkan lebih banyak pihak daripada sekadar peserta didik kedokteran.

"Kegiatan Pradik diikuti oleh 289 PPDS, dan berdasarkan pendataan terakhir, terdapat 178 orang yang telah melaporkan mengalami gejala, terdiri atas 172 peserta Pradik PPDS dan 6 orang karyawan RSUD Dr Soetomo, termasuk petugas cleaning service yang ikut mengonsumsi makanan tersebut," kata Cita saat konferensi pers, Selasa (29/9).

Direktur RSUD Dr Soetomo, Prof Dr Cita Rosita Sigit Prakoeswa, merinci bahwa penambahan enam korban baru ini berasal dari kalangan staf rumah sakit. Keenam orang tersebut, termasuk petugas kebersihan atau cleaning service, turut menyantap sajian nasi kotak yang disediakan untuk acara Pradik. Fakta ini mengindikasikan bahwa sumber dugaan keracunan bukan berasal dari makanan yang eksklusif hanya untuk peserta PPDS, melainkan mencakup konsumsi umum yang ada di area acara. Klarifikasi ini penting untuk memperluas cakupan investigasi dan penanganan medis, memastikan tidak ada pihak yang terlewat dalam pendataan korban.

Berdasarkan keterangan resmi, mayoritas korban mengeluhkan gejala khas gangguan pencernaan akut. Keluhan tersebut meliputi mual, muntah, diare, pusing, dan gangguan kesehatan lain yang muncul segera setelah mengonsumsi makanan dari acara tersebut. Sebagai rumah sakit rujukan utama, RSUD Dr Soetomo langsung mengaktifkan prosedur standar operasional (SOP) kegawatdaruratan. Proses triase dan penanganan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dilakukan secara masif untuk stabilisasi kondisi para pasien yang membutuhkan pertolongan medis segera.

"Keluhan yang dilaporkan antara lain mual, muntah, diare, pusing, dan gangguan kesehatan lain. Begitu menerima laporan, Soetomo segera melakukan pendataan, pemantauan kondisi, triase, segera menyiapkan pelayanan IGD bagi yang membutuhkan penanganan medis. Memang SOP-nya demikian untuk dugaan keracunan ya," ucapnya. Meski jumlah korban mencapai hampir dua ratus orang, kondisi terkini menunjukkan tren pemulihan yang positif. Tidak ada lagi pasien yang menjalani perawatan inap (rawat inap), dan seluruh korban saat ini dipantau kondisi kesehatannya secara daring untuk memastikan gejala benar-benar mereda.

"Kondisi sekarang sudah tidak ada lagi yang dirawat di rumah sakit. Jadi gejala-gejala sudah membaik semua dan kami terus melakukan pemantauan via WA," katanya. Namun, pihak RSUD Dr Soetomo dengan tegas belum mengambil kesimpulan final mengenai penyebab pasti insiden ini. Status kejadian masih berada pada tahap "dugaan keracunan" atau gangguan kesehatan pasca-konsumsi makanan. Proses forensik dan klinis masih berjalan di laboratorium untuk mengidentifikasi zat pemicu. Koordinasi antara RSUD Dr Soetomo dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga terus dilakukan sembari menunggu hasil uji sampel yang menjadi kunci pembuktian penyebab insiden massal ini.

Analisis Redaksi

Peningkatan jumlah korban dari 172 menjadi 178 orang menyoroti aspek krusial dalam manajemen risiko acara seremonial di lingkungan institusi kesehatan. Keterlibatan karyawan rumah sakit, khususnya petugas kebersihan, menunjukkan bahwa batas antara peserta formal dan staf pendukung sering kali blur dalam distribusi logistik makan. Hal ini menjadi peringatan keras bahwa protokol keselamatan pangan (food safety) tidak hanya wajib diterapkan untuk narasumber dan peserta, tetapi juga harus mencakup seluruh individu yang memiliki akses ke area konsumsi, tanpa memandang status jabatan atau fungsional.

Keputusan untuk menghentikan perawatan inap dan beralih ke pemantauan daring adalah langkah yang logis mengingat gejala yang dilaporkan bersifat akut dan reversible. Namun, ketiadaan kesimpulan final dari laboratorium masih menjadi bayangan abu-abu yang mengintai kredibilitas penanganan pasca-insiden. Publik perlu waspada bahwa "dugaan" yang berkepanjangan dapat memicu spekulasi liar di ruang digital. Langkah logis selanjutnya adalah mempercepat rilis hasil uji sampel untuk memberikan kepastian hukum dan medis, sekaligus mengevaluasi ulang supplier dan proses katering yang digunakan dalam acara berskala ratusan orang ini.

Meow! Tanya Nesi!
😸