Kabel Fiber Optik Ngerusik 5 Tahun di Kuningan Barat, Bahayakan Sekolah dan Warung
Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.

Sebuah tiang di ujung Jalan Kuningan Barat Raya, Jakarta Selatan, kini menjadi pusat ribuan helai kabel fiber optik yang menjuntai liar, menciptakan bahaya laten bagi pengendara dan pelajar selama hampir lima tahun. Kabel-kabel raksasa ini tidak hanya memblokir halaman toko material milik Ira, tetapi juga menjalar sepanjang 60 meter menuju tiga sekolah Islam. Kondisi semrawut ini memicu kecelakaan motor, kerusakan kunci, dan jatuhnya para pedagang ke jalan raya, terutama saat cuaca hujan membuat permukaan licin.
Ira, pemilik toko material yang terdampak langsung, menuturkan bahwa kabel di halaman tokonya menghalangi pandangan dan menjadi jebakan bagi pelanggan. "Itu tuh banyak motor pada jatoh kalau belanja, ada yang sampai kuncinya patah, ada yang orangnya terguling, apalagi kalau abis hujan, licin banget," kata Ira, Senin (28/9). Ia menuduh para petugas galian bekerja tidak maksimal dan tidak mengurus izin, sehingga kedalaman galian dangkal dan kabel kerap menyembul ke permukaan ketika hujan.
Dampak kerusakan tidak berhenti di pinggir jalan; ia merambat ke fasilitas pendidikan. Komar, satpam di sebuah sekolah di area tersebut, membenarkan banyaknya korban pengendara motor yang terpeleset. Ia mengeluh bahwa petugas pemasang kerap menutup galian secara asal-asalan tanpa semen yang kuat. "Tadi ini kan melur sendiri, sekolah sendiri, bukan dari dia ini, soalnya kalau pas belok itu sering tauh kalau malam," ujar Komar. Sekolah bahkan harus merogoh kocek sendiri untuk memperbaiki jalan masuk karena kabel yang tertanam di depan gerbang telah merusak akses selama lima tahun.
Teknisi Rudi menjelaskan bahwa kekusutan ini bukan sekadar sampah elektronik, melainkan tulang punggung internet nasional. Kabel tebal tersebut adalah fiber optik yang menampung data dari berbagai provider internet dan terhubung ke pusat data besar di Indonesia. "Kebetulan di dalam sini nih ada data center indonesia, jadi keseluruhan internet indonesia tuh terpusat dari sini semua gitu," kata Rudi. Ia menegaskan bahwa membenahi jaringan ini tidak bisa dilakukan dengan memotong kabel begitu saja karena akan memutus akses internet ke seluruh Jabodetabek hingga daerah lainnya.
Pembenahan fisik yang dijanjikan pada awal Januari 2026 untuk menata jalur seperti standard protokol SCBD masih tertunda. Yuliana, pedagang es teh, dan Ketua RW 03, Sariman, mengonfirmasi bahwa perusahaan data seperti Gedung NTT dan Cyber 4 di sekitar sana adalah sumber utama pertumbuhan kabel ini. "Tinggal yang anu di ujung belum dikerjakan," kata Sariman. Bahkan permintaan pemasangan lampu penerangan jalan umum di area tersebut terpaksa ditunda karena galian kabel yang tidak selesai-selesai, menciptakan lingkaran setan antara infrastruktur digital dan keselamatan publik.
Analisis Redaksi
Pelanggarannya bukan pada teknis, melainkan pada koordinasi antar-pengelola jaringan di wilayah padat. Keberadaan Data Center seperti NTT dan Cyber 4 membuat Kuningan Barat menjadi simpul vital yang seharusnya mendapatkan prioritas tata kota, bukan dibiarkan menjadi "patung kabel" selama lima tahun. Keterlambatan pembenahan yang dijanjikan awal 2026 menunjukkan kelambatan birokrasi dalam menyinkronkan kepentingan infrastruktur publik (keamanan jalan) dengan kepentingan korporasi (pelanggan internet).
Masyarakat tidak bisa terus menanggung risiko keselamatan demi kecepatan koneksi. Jika galian tidak ditutup dengan standar beton yang memadai dan penerangan jalan tertunda, maka area ini akan tetap menjadi sumber konflik hukum seperti gugatan warga RW 02 ke pengadilan. Pemerintah daerah perlu menetapkan batasan waktu (deadlines) yang mengikat bagi seluruh provider agar proses "membenahi sedikit demi sedikit" yang diklaim Rudi tidak lagi menggunakan waktu sebagai alasan untuk mengorbankan ruang publik.


