Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

BI Ubah Strategi Rupiah: Intervensi Spot Turun ke 30%, Fokus ke DNDF dan NDF

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNN Ekonomi
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

BI Ubah Strategi Rupiah: Intervensi Spot Turun ke 30%, Fokus ke DNDF dan NDF
BAGIKAN:

Bank Indonesia resmi memangkas porsi intervensi langsung di pasar spot valuta asing menjadi hanya 30 persen dari total operasi stabilisasi nilai tukar. Pergeseran kebijakan ini menandai perubahan struktur intervensi, di mana bank sentral kini mengutamakan instrumen kontrak berjangka seperti Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan Non-Deliverable Forward (NDF) sebagai lini depan pertahanan rupiah.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menjelaskan pergeseran taktis ini dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR di Jakarta, Senin (28/9). Menurutnya, dominasi intervensi spot di masa lalu secara langsung menggerus posisi cadangan devisa negara. "Kalau dulu dominannya spot, karena kita langsung jual dolar, itu langsung gerus cadev kita," tegas Destry. Ia menekankan bahwa intervensi di pasar spot adalah langkah yang mahal karena melibatkan penjualan fisik dolar AS dari cadangan devisa.

Sebaliknya, instrumen derivatif seperti DNDF dan NDF dinilai lebih efektif untuk meredam gejolak nilai tukar tanpa mengorbankan stok devisa secara signifikan. Destry menyebut BI terus mengembangkan pasar DNDF terlebih dahulu, lalu NDF, karena kedua instrumen ini mampu menyerap tekanan nilai tukar meski ada masalah fundamental. "Dengan kita kembangkan DNDF dulu, kemudian NDF, itu lebih efektif walau tekanan masih ada," ujar Destry. Langkah ini dilakukan sambil BI berdiskusi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), khususnya Kementerian Keuangan, mengenai akar masalah struktural.

Destry mengingatkan bahwa intervensi pasar tidak bisa menjadi satu-satunya penopang stabilitas rupiah secara permanen. Pergerakan nilai tukar sangat dipengaruhi oleh sentimen global dan domestik yang kompleks. Stabilitas jangka panjang harus didukung oleh penguatan fundamental ekonomi, terutama pada sektor eksternal yang kini masih dinilai lemah. Tanpa perbaikan di sektor riil, upaya moneter akan semakin berat.

Oleh karena itu, Bank Indonesia mendorong penguatan program peningkatan ekspor, penarikan investasi asing, baik berupa investasi langsung (real investment) maupun portofolio. "Kalau sektor eksternal kita masih lemah tentu itu akan berat, sehingga kami bicara bagaimana program-program tingkatkan ekspor, investasi, termasuk real investment maupun portfolio investment," tegas Destry. Fokus bergeser dari sekadar menjaga angka kurs harian menjadi membangun ketahanan ekonomi fundamental.

Analisis Redaksi

Analisis Redaksi Langkah Bank Indonesia untuk memperbesar porsi instrumen derivatif seperti DNDF dan NDF bukanlah sekadar pergantian menu teknis, melainkan perubahan paradigma dalam mengelola risiko valuta asing. Dengan menurunkan porsi intervensi spot ke 30 persen, BI berupaya melindungi cadangan devisa dari drainase yang tidak efisien. Ini krusial di tengah situasi di mana bank sentral tidak bisa terus menjadi pembeli dolar tanpa batas untuk menahan pelemahan rupiah.

Yang perlu diwaspadai adalah efektivitas instrumen baru ini yang tetap bergantung pada likuiditas pasar dan kepercayaan investor. Jika masalah fundamental, seperti lemahnya ekspor dan investasi, tidak segera teratasi oleh pemerintah, tekanan pada rupiah akan terus terjadi. Mengandalkan derivatif saja tanpa perbaikan struktural hanya menunda masalah. KSSK harus memastikan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter berjalan sinkron, di mana program peningkatan ekspor yang ditekankan Destry benar-benar terimplementasi di lapangan, bukan sekadar wacana rapat.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ