Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Basarnas Dorong Pengangkatan BMV 87004: Arus Kencang Hambat Evakuasi di Laut Jawa

KriminalSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Basarnas Dorong Pengangkatan BMV 87004: Arus Kencang Hambat Evakuasi di Laut Jawa
BAGIKAN:

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) kini berpacu dengan waktu untuk mengevakuasi korban kapal KM Virgo Transport 8 yang masih terjebak di Laut Jawa, sebuah upaya krusial yang dipicu oleh semakin memudarnya kesempatan identifikasi jenazah oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri.

Kepala Basarnas Mohammad Syafii menegaskan bahwa operasi penyelaman bawah air tetap dilanjutkan selama cuaca memungkinkan, namun tim menghadapi tekanan waktu yang signifikan. "Makin lama, teman-teman DVI makin kesulitan untuk identifikasi dari korban," ujar Syafii di Hotel Grand De Djokja, Kota Yogyakarta, Selasa (29/9). Pernyataan ini menandai pergeseran fokus dari pencarian semata menjadi evakuasi masif yang bergantung pada kondisi lingkungan laut yang tidak ramah.

Di lapangan, tantangan teknis menjadi penghalang utama. Kapal ditemukan dalam kondisi terbalik, meningkatkan potensi adanya korban di dalamnya. Namun, kecepatan arus yang biasanya 1,5 knot untuk operasi ROV melonjak hingga 6-7 knot, membuat operasi penyelaman hanya bisa dilakukan saat pasang surut menguntungkan. "Alat dan penyelam tidak direkomendasikan untuk operasi underwater" di kondisi arus tersebut, jelas Syafii, sebelum menambahkan bahwa Basarnas mendorong proses salvage atau pengangkatan bangkai kapal secepatnya untuk membuka akses evakuasi.

Di sisi identifikasi, Tim DVI Polri mengakui proses mulai melambat drastis. Kombes dr Much Sofwan, Kabid Dokkes Polda Kalsel, menjelaskan bahwa jenazah yang ditemukan setelah hari kelima mengalami pembusukan yang mengubah fitur wajah dan sidik jari. "Perlu kita ketahui, makin ke sini proses identifikasi agak sedikit lama," katanya dalam konferensi pers Senin (28/9). Kini, tim forensik bergantung pada analisis gigi, properti fisik, dan tes DNA yang memakan waktu minimal lima hari per siklus pengiriman ke Jakarta.

Kombes dr Wahyu Hidayati, Kabid DVI Pusdokkes Polri, menambahkan bahwa banyak jenazah ditemukan tanpa identitas atau pakaian yang sudah terlepas. "Kita berharap pada DNA... pemeriksaan DNA butuh waktu," tutur Wahyu. Meskipun tim bekerja tanpa jeda hingga akhir pekan, keterlambatan hasil tes DNA menjadi faktor penentu mengapa setiap jam pencarian di laut kini sama pentingnya dengan setiap jam pemrosesan data di laboratorium.

Analisis Redaksi

Kondisi ini menciptakan dilema ganda yang jarang terjadi dalam operasi SAR: hambatan alamiah (arus laut) dan biologis (dekomposisi jenazah) bekerja secara simultan untuk memangkas jendela waktu identifikasi. Dorongan Basarnas untuk segera melakukan salvage bukan sekadar keinginan teknis, melainkan keputuan hukum dan etis. Tanpa pengangkatan badan kapal, akses terhadap kompartemen tertutup terhalang, sementara semakin lama jenazah berada di air, semakin rendah akurasi data biometrik yang bisa diambil tim DVI di darat.

Yang perlu diwaspadai publik adalah potensi disinformasi atau frustrasi jika harapan publik akan identifikasi cepat tidak sesuai dengan realitas ilmiah proses forensik. Setiap evaluasi tujuh hari yang dilakukan Basarnas akan menjadi krusial; jika arus tidak kondusif, apakah pengangkatan kapal bisa dilakukan dengan cepat sebelum lebih banyak korban terkubur di dalam badan kapal yang melunak? Langkah selanjutnya sangat bergantung pada ketersediaan kapal salvage yang mumpuni untuk menghadapi arus 6-7 knot di Laut Jawa, sebuah operasi yang berisiko tinggi dan memerlukan koordinasi antar-agency yang lebih agresif dari sebelumnya.

BERITA TERKAIT (Kriminal)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ