172 Mahasiswa PPDS Unair Keracunan, RSUD Dr Soetomo Uji Sampel Makanan ke Puslabfor dan BPOM
Mengamati dinamika politik nasional dan kebijakan pemerintah secara kritis.

- Respons cepat datang dari RSUD Dr Soetomo Surabaya yang langsung mengambil alih penanganan medis dan membentuk tim investigasi untuk menguji sampel makanan yang dianggap menjadi sumber masalah.
- Kabag Umum RSUD Dr Soetomo, Robeth Jabbar, menjelaskan bahwa langkah ini bukan sekadar penanganan darurat, melainkan upaya pencarian fakta yang rigor.
- Pihak rumah sakit menggandeng sejumlah institusi berwenang untuk menyelidiki sisa konsumsi acara tersebut.
Sebanyak 172 mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) dilaporkan mengalami gejala keracunan massal berupa mual, muntah, dan pusing usai mengikuti kegiatan Pra-pendidikan (Pradik) pada Senin (28/9). Respons cepat datang dari RSUD Dr Soetomo Surabaya yang langsung mengambil alih penanganan medis dan membentuk tim investigasi untuk menguji sampel makanan yang dianggap menjadi sumber masalah.
Kabag Umum RSUD Dr Soetomo, Robeth Jabbar, menjelaskan bahwa langkah ini bukan sekadar penanganan darurat, melainkan upaya pencarian fakta yang rigor. Pihak rumah sakit menggandeng sejumlah institusi berwenang untuk menyelidiki sisa konsumsi acara tersebut. "Untuk memastikan kondisi dan mengetahui penyebab keluhan kesehatan yang terjadi, RSUD Dr Soetomo telah melakukan sejumlah langkah pemeriksaan dan koordinasi," ujar Robeth dalam keterangan tertulis yang tersebar pada Selasa (29/9).
Proses investigasi medis ini berjalan paralel dengan pengujian klinis. Selain memeriksa sisa makanan, tim medis juga mengambil spesimen langsung dari para pasien terdampak, termasuk sampel tinja (rectal swab). Sampel-sampel vital ini telah dikirim ke tiga laboratorium utama: Puslabfor Polda Jawa Timur, Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas), dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Koordinasi lintas sektor ini menunjukkan keseriusan lembaga dalam mengurai akar masalah.
Menyadari potensi dampak kesehatan publik, RSUD Dr Soetomo juga telah melaporkan insiden ini kepada Dinas Kesehatan setempat sebagai langkah pelaporan wajib. Sementara menanti hasil uji laboratorium yang bisa memakan waktu, evaluasi internal sudah dimulai. Rumah sakit meminta pertanggungjawaban panitia penyelenggara, yakni FK Unair, terkait standar kebersihan dan keamanan penyediaan konsumsi selama kegiatan pradik tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Unair belum memberikan komentar resmi. Mereka menyatakan akan memberikan keterangan lengkap dalam konferensi pers yang dijadwalkan digelar di RSUD Dr Soetomo. Tekanan kini berada di pundak institusi pendidikan tinggi ini untuk membuktikan standar pengawasannya, mengingat insiden menimpa ratusan calon dokter spesialis yang seharusnya menjadi garda terdean kesehatan masyarakat.
Analisis Redaksi
Insiden ini mengungkap celah pengawasan rantai pasok makanan di lingkungan institusi akademik-keperawatan. Keterlibatan Puslabfor dan BPOM dalam pengujian sampel menandakan bahwa dugaan penyebabnya bukan sekadar higiene biasa, tetapi berpotensi melibatkan zat berbahaya atau kontaminasi biologis yang serius. Bagi publik, ini menjadi peringatan bahwa standar keamanan pangan (food safety) di fasilitas kesehatan dan universitas tidak boleh kompromi.
Langkah selanjutnya yang perlu diwaspadai adalah potensi efek domino jika sumber keracunan terkonfirmasi berasal dari vendor atau dapur umum yang juga melayani institusi lain. Evaluasi tanggung jawab FK Unair akan menjadi preseden penting dalam regulasi pengadaan konsumsi kampus. Hasil uji laboratorium nanti tidak hanya akan menentukan sanksi, tetapi juga protokol pencegahan serupa di masa depan.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Kemnaker Buka Gelombang Terakhir Registrasi Pelatihan Vokasi Nasional Batch 7, Deadline 11 November

BPS Catat Lonjakan Harga Cabai 23,47 Persen, Ancam Stabilitas Inflasi Pangan Nasional

DKI Hadapi Tantangan Infrastruktur: Dari Darurat Air Angke hingga Akuisisi Lahan Pemprov
