Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Trump Tolak Proposal Damai Iran, Minyak Melesat ke US$105,64 Per Barel, Pasokan Terancam

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Trump Tolak Proposal Damai Iran, Minyak Melesat ke US$105,64 Per Barel, Pasokan Terancam
BAGIKAN:

Negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran di ujung tanduk setelah Presiden Donald Trump secara resmi menolak proposal yang diajukan Teheran, memicu lonjakan harga minyak mentah global pada Senin (28/9).

Keputusan Trump yang menolak rancangan damai tersebut langsung tercermin di pasar komoditas. Harga minyak mentah Brent melonjak 1,27 persen atau setara US$1,32, menyentuh level US$105,64 per barel pada pukul 00.36 GMT. Kenaikan serupa dialami minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS yang naik 0,76 persen menjadi US$93,11 per barel.

Proposal damai itu sebenarnya telah diumumkan Iran pekan lalu di Sidang Umum PBB, New York, dan diserahkan ke AS melalui mediator Qatar. Namun, Trump menegaskan penolakannya pada Sabtu (26/9), meski dalam wawancara telepon dengan Axios pada Minggu (27/9), ia memperkirakan negosiator AS akan kembali duduk satu meja dengan Iran dalam waktu dekat. Ambiguitas diplomasi ini membuat pasar bingung dan waspada.

Ketergantungan pasar pada stabilitas Selat Hormuz semakin terlihat rentan. Analis ANZ dalam catatannya menegaskan bahwa risiko geopolitik tetap tinggi karena kelompok Houthi dan Iran terus melakukan serangan terhadap Arab Saudi. Hal ini dikonfirmasi oleh koalisi pimpinan Arab Saudi yang menyebutkan sudah mencegat dua rudal balistik dan dua drone yang diluncurkan Houthi ke wilayah Arab Saudi pada Sabtu pagi.

Di sisi lain, dinamika pasokan global menunjukkan gambaran yang kompleks. Harga Brent naik 0,4 persen sepanjang pekan lalu, berbanding terbalik dengan WTI yang justru anjlok 7,9 persen akibat kekhawatiran AS akan melarang ekspor solar untuk meredam harga yang sempat mencapai rekor. Kebijakan tersebut berpotensi menekan produksi minyak olahan domestik. Namun, data Kpler menunjukkan ekspansi di sisi timur; ekspor minyak mentah dari Timur Tengah mencapai 12,8 juta barel per hari pada September, level tertinggi sejak perang dimulai Februari, seiring pemulihan aliran 7,4 juta barel per hari melalui Selat Hormuz. Arab Saudi pun mengalihkan ekspornya dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah ke Ras Tanura di wilayah timur setelah jaringan pipa East-West rusak akibat serangan.

Analisis Redaksi

Langkah Trump menolak proposal damai meski membuka celah negosiasi ulang menunjukkan taktik tekanan ekonomi yang klasik: menahan solusi permanen demi mempertahankan leverage di meja perundingan. Bagi investor dan publik, ini bukan sekadar fluktuasi harga, melainkan sinyal bahwa risiko pasokan di Selat Hormuz belum tereliminasi. Fakta bahwa Arab Saudi harus mengalihkan rute ekspor dari Laut Merah ke Teluk Persia membuktikan bahwa infrastruktur energi regional telah rusak serius dan butuh waktu untuk pulih.

Apa yang perlu diwaspadai adalah kontradiksi antara pulihnya volume ekspor mentah (12,8 juta barel per hari) dan tekanan pada produk olahan. Jika AS benar membatasi ekspor solar untuk menekan inflasi domestik, ketimpangan pasokan global akan makin tajam, terutama di Eropa yang sudah merespons prospek berkurangnya suplai dari Amerika. Ini bukan hanya masalah harga di pom bensin, tapi ancaman destabilisasi rantai energi yang bisa memicu resesi lokal di negara-negara importir.

Secara logis, langkah selanjutnya yang kemungkinan terjadi adalah eskalasi militer terbatas jika negosiasi pekan ini gagal. Penghentian pasokan di Selat Hormuz bisa jadi skenario terburuk yang sedang diuji pasar. Bagi ekonomi Indonesia sebagai importir neto, volatilitas harga energi global ini harusnya menjadi alarm dini untuk mendiversifikasi sumber energi dan memperketat cadangan devisa, bukan sekadar bereaksi saat harga sudah menyentuh level psikologis.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ