Siti Hasmah Mohamad Ali Wafat Usia 100, Anwar Perintahkan Pemakaman Kenegaraan

Anwar Ibrahim mengumumkan duka cita mendalam atas wafatnya mantan Ibu Negara Siti Hasmah Mohamad Ali, istri ke-2 dari mantan PM Mahathir Mohamad, yang menghembuskan napas terakhir pada usia 100 tahun di Institut Jantung Negara, Kuala Lumpur, Senin pagi. Sang Perdana Menteri menyatakan bahwa almarhumah merupakan sosok keibuan yang jasa dan pengabdiannya sangat dihargai oleh seluruh rakyat Malaysia.
"Atas nama Pemerintah MADANI dan seluruh rakyat Malaysia, saya menyampaikan rasa duka cita yang mendalam dan belasungkawa atas wafatnya almarhumah Tun Dr Siti Hasmah Mohd Ali," tegas Anwar dalam pernyataan resmi yang diunggah di media sosial. Ia menambahkan bahwa Malaysia akan terus merindukan figur perempuan di balik layar politik Malaysia selama empat dekade ini.
Menurut laporan The Star, jenazah dipulangkan dari rumah sakit pada pukul 10.48 waktu setempat dan tiba di kediaman pribadi The Mines, Seri Kembangan, Selangor, pukul 11.15. Salat jenazah dijadwalkan dilaksanakan setelah Asar di Masjid As Syarif, Taman Sungai Besi Indah, sebelum akhirnya dimakamkan di Pemakaman Muslim Presint 20, Putrajaya. Prosesi ini menjadi rangkaian resmi penghormatan negara terhadap figur pertama yang menjabat sebagai Ibu Negara Malaysia.
Anwar telah menginstruksikan Sekretaris Utama Negara dan Panglima Angkatan Bersenjata untuk mengawal seluruh proses pengurusan pemakaman dengan protokol kenegaraan. "Pikiran dan doa saya menyertai Tun Dr Mahathir Mohamad beserta seluruh keluarga dalam menghadapi kehilangan ini," ujarnya. Doa restu agar Allah SWT menerima amal almarhumah turut disertakan dalam pernyataan kenegaraan tersebut.
Sementara itu, Institut Jantung Negara memilih untuk tidak mengeluarkan pernyataan apa pun terkait wafatnya almarhumah, menjaga privasi di saat terakhir dalam riwayat hidupnya. Kehadiran negara dalam pemakaman ini menegaskan posisi Siti Hasmah bukan sekadar keluarga besar PM terdahulu, melainkan institusi moral dan simbol keibuan negara yang warisannya kini berpindah ke generasi politik berikutnya.
Analisis Redaksi
Pemakaman kenegaraan untuk istri mantan PM bukan sekadar ritual, melainkan penegasan bahwa negara Malaysia menghormati dinamika keluarga politik sebagai pilar legitimasi. Instruksi langsung dari Anwar ke Panglima ABM menunjukkan betapa tingginya level sensitivitas politik di balik penguburan ini. Tidak ada ruang untuk kesalahan protokol, karena setiap detail menjadi cerminan stabilitas pemerintah MADANI yang masih relatif baru.
Wafatnya Siti Hasmah menandai berakhirnya sebuah era. Selama Mahathir masih berkecimpung dalam wacana publik, istrinya adalah 'jaring pengaman' moral yang mengikat narasi keluarga di tengah badai politik 1MDB dan reshuffle kabinet. Kini, tanpa figur keibuan tersebut, ruang bagi Mahathir untuk mengkritik Anwar menjadi lebih terbuka secara personal. Keluarga besar Mahathir yang sebelumnya kompak di balik tirai, kini berpotensi terfragmentasi menjadi barisan politik yang berbeda.
Masyarakat harus waspada terhadap potensi mobilisasi massa dari penguburan ini. Aliran massa ke Putrajaya dan Serdang bisa menjadi panggung silat politik terselubung. Di balik do'a dan bunga, para pemain politik junior dari kubu Mahathir akan memanfaatkan momen ini untuk menguji loyalitas basis akar rumput DAP dan MCA. Ini adalah panggung terakhir di mana mereka dapat menyatukan narasi 'keadilan sosial' melalui penghormatan terhadap Ibu Negara.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Senator AS Chris Murphy Kena Stroke di Pertandingan Hoki, Dokter Optimistis

Haley Stevens Dikecualikan Demokrat Michigan Usai Dukung Kandidat Republik

Eisenkot Bongkar Ambisi Netanyahu Giring Pemilu Ulang, Qatar Bantah Tuduhan Campur Tangan
