ASN Kemenekraf Meninggal Saat Latsarmil Komcad di Halim, DPR Minta Evaluasi Keselamatan

Seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Ekonomi Kreatif, Vanreko Varkas Bagaskara, mengorbankan nyawanya pada Sabtu (26/9) saat mengikuti Latihan Dasar Militer Komponen Cadangan (Latsarmil Komcad) di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Penyebab kematiannya diduga kuat akibat paparan cuaca panas berlebih atau heatstroke yang dipicu oleh intensitas latihan yang berat. Peristiwa ini langsung memicu sorotan tajam dari DPR RI, khususnya Komisi I yang membidangi pertahanan, menuntut transparansi dan evaluasi menyeluruh terhadap standar keselamatan peserta.
Kronologi insiden ini diungkap oleh Kepala RSAU dr. Esnawan Antariksa, Kolonel Kes dr. Iman Fathurrohman. Kejadian berawal pada Jumat (25/9) pukul 09.30 WIB, ketika Vanreko baru saja menyelesaikan sesi pertama penutupan Latsarmil. Saat hendak memasuki sesi latihan kedua, ia mengeluhkan pandangan gelap dan pusing hingga kehilangan kesadaran. Tim Kesehatan Pusdikkes yang bersiaga segera memberikan pertolongan pertama, berupa pendinginan kompres dingin, resusitasi cairan infus, dan terapi oksigenasi sebelum merujuk korban ke IGD RSAU.
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan Vanreko mengalami hipotensi dan kenaikan suhu tubuh, mengindikasikan serangan heatstroke. Hingga malam hari, kondisinya sempat stabil dengan tanda-tanda vital yang baik. Namun, pada Sabtu (26/9) sekitar pukul 04.30 WIB, kondisinya memburuk drastis disertai kejang berulang yang memicu penurunan kesadaran kembali. Tim medis menyebut ini sebagai komplikasi sistemik dari heatstroke yang memengaruhi fungsi organ vital.
Tim medis segera berkoordinasi dengan RSPAD Gatot Soebroto untuk rujukan penanganan neuro-intensive care. Vanreko diterbangkan menggunakan ambulans standar ICU dengan pendampingan tim medis dan personel POM AU. Setibanya di RSPAD pada pukul 11.30 WIB, ia menjalani CT Scan kepala dan perawatan intensif di ruang ICU di bawah pengawasan dr. Tanov, Sp.S. Sayang, upaya medis gabungan dari Pusdikkes, RSAU, dan RSPAD tidak membuahkan hasil. Vanreko dinyatakan meninggal dunia setelah mendapat penanganan maksimal. Kementerian Pertahanan memfasilitasi seluruh proses pemulasaraan hingga pendorongan jenazah ke rumah duka.
Anggota Komisi I DPR Fraksi PDIP, TB Hasanuddin, menegaskan bahwa kejadian ini tidak boleh dianggap remeh. "Kejadian meninggalnya peserta dalam pelaksanaan latihan militer perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah, khususnya Kementerian Pertahanan. Penyebab kejadian harus diperiksa secara transparan dan menyeluruh," ujar pensiunan jenderal TNI itu pada Senin (28/9). TB Hasanuddin menekankan bahwa pemeriksaan kesehatan tidak boleh sekadar formalitas. Kondisi fisik peserta harus dipastikan mampu mengikuti latihan; jika tidak siap, mereka tidak boleh dipaksakan. Ia meminta evaluasi pada prosedur medik, standar keselamatan, dan mekanisme tanggap darurat selama pendidikan Komcad berlangsung.
Sebagai konteks, Komponen Cadangan (Komcad) adalah program pertahanan semesta yang pertama kali diluncurkan pada era Presiden Joko Widodo bersama Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Program ini didasarkan pada UU Nomor 23 Tahun 2019 dan PP Nomor 3 Tahun 2021, yang允许 warga negara sipil, termasuk ASN, mendaftar secara sukarela. Lembaga Administrasi Negara (LAN) mencatat, pada tahun 2026, pemerintah menargetkan 4.000 ASN untuk mengikuti pelatihan dasar selama kurang lebih 45 hari. Meski begitu, tragedi ini menimbulkan tanda tanya besar mengenai kesiapan fisik peserta sipil dalam menghadapi regimen militer yang intens.
Analisis Redaksi
Kematian Vanreko Bagaskara bukan sekadar insiden medis biasa, melainkan peringatan keras (red flag) bagi kredibilitas program Komcad. Program yang bertujuan memperkuat pertahanan nasional ini sejatinya bertumpu pada sukarela dan partisipasi warga sipil. Namun, ketika nyawa menjadi taruhan karena standar keselamatan yang diabaikan, integritas program ini runtuh. Logis untuk bertanya: apakah protokol penanganan cuaca ekstrem sudah diterapkan dengan benar di lapangan? Apakah skrining kesehatan awal cukup ketat untuk memfilter risiko heatstroke pada peserta yang tidak terbiasa dengan ritme latihan militer?
Dua hal krusial yang perlu diwaspadai ke depan. Pertama, adanya celah antara intensitas "disiplin militer" dengan kapasitas fisik personel sipil. Jika protokol keselamatan hanya berjalan di atas kertas, tragedi serupa berpotensi berulang. Kedua, reputasi institusi. Ketidakjelasan awal penanganan dapat menimbulkan stigma negatif terhadap program rekrutmen Komcad, membuat calon peserta enggan mendaftar. Kemenhan tidak hanya harus memberi duka, tetapi harus menunjukkan perbaikan sistemik yang terukur dan transparan.
Langkah logis selanjutnya adalah pembentukan tim independen yang terdiri dari perwakilan medis TNI, ahli ergonomi, dan pihak keluarga korban untuk mengaudit seluruh prosedur Latsarmil. Jika ditemukan kelalaian standar keselamatan, harus ada sanksi tegas bagi personel terkait. Tanpa perubahan struktural yang jelas, program Komcad berisiko kehilangan daya tarik moralnya sebagai bentuk pengabdian sukarela demi negara.
BERITA TERKAIT (Politik)

Presiden Prabowo Panggil Tim Ekonomi ke Istana untuk Koordinasi Kebijakan

Demokrat Nilai Gibran Tak Lagi Memenuhi Syarat Wapres Usai MA Putuskan Suket Tidak Sah

Klarifikasi Wamendagri: Insentif Rp1 Triliun untuk Pemda Cakup Stunting, Rumah, dan Inflasi
