Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Zapin: Empat Negara Melayu Teken Nominasi Bersama ke UNESCO, Ditunggu 2027

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNBC Indonesia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Zapin: Empat Negara Melayu Teken Nominasi Bersama ke UNESCO, Ditunggu 2027
BAGIKAN:

Singapura, Malaysia, Brunei, dan Indonesia resmi memutuskan langkah kolektif dengan mengajukan tarian zapin ke UNESCO. Nominasi bersama ini bertujuan mendaftarkan seni persembahan tradisional Melayu tersebut ke dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan. Dewan Warisan Nasional Singapura (NHB) mengonfirmasi bahwa dokumen pencalonan telah diserahkan dan ditargetkan masuk pada Maret 2027.

CEO NHB, Chang Hwee Nee, menegaskan bahwa inisiatif multinasional ini bukan sekadar seremonial. "Kami berharap tonggak pencapaian ini akan menginspirasi generasi baru praktisi untuk melestarikan bentuk tarian ini sebagai bagian dari warisan budaya kita yang hidup, sekaligus mendorong masyarakat Singapura untuk mengeksplorasi dan merangkul tradisinya yang kaya," ujarnya. Pernyataan ini dikutip dari The Star pada Minggu (27/9/2026), menandai komitmen jangka panjang para pemangku kepentingan.

Langkah ini mencatatkan sejarah bagi Singapura. NHB menyatakan bahwa untuk pertama kalinya, negara tersebut mengajukan nominasi bersama untuk bentuk seni pertunjukan. Secara keseluruhan, ini merupakan nominasi keempat Singapura ke daftar UNESCO. Dua sebelumnya, yakni budaya kuliner hawker dan kebaya, telah sukses. Kebaya sendiri dinominasikan bersama Brunei, Malaysia, Indonesia, dan Thailand, lalu ditetapkan pada 2024.

Sementara itu, nominasi ketiga, yaitu Chingay, masih dalam tahap evaluasi. Kerja sama dengan Malaysia untuk tarian Chingay terus berjalan di latar belakang. NHB menambahkan bahwa di keempat negara tersebut, komunitas praktisi zapin berkembang pesat. "Nominasi multinasional ini merupakan peluang bagi keempat negara untuk mempererat hubungan budaya dan meningkatkan kerja sama internasional dalam mempromosikan zapin serta para pelakunya," kata NHB. Konteks ini menggarisbawahi bahwa zapin masih hidup di masyarakat melalui pendidikan dan partisipasi aktif.

Dampak langsung dari keputusan ini akan terasa pada sektor pelestarian dan diplomasi budaya. NHB berkomitmen untuk bekerja sama dengan masyarakat dalam mendukung berbagai inisiatif promosi. Tujuannya jelas: meningkatkan kesadaran publik dan partisipasi masyarakat dalam merayakan warisan budaya hidup yang beragam. Sinergi antarnegara diharapkan mampu memperkuat posisi tanih zapin di panggung global.

Analisis Redaksi

Mekanisme multinasional ini menunjukkan tren baru dalam diplomasi budaya Asia Tenggara. Keberhasilan sebelumnya dalam nominasi kebaya yang melibatkan lima negara, membuktikan bahwa solidaritas regional dapat mempercepat pengakuan lembaga internasional. Proses yang dimulai dengan pengajuan dokumen pada 2026 untuk ditargetkan 2027 ini menuntut konsistensi komitmen dari empat negara pemilik tradisi. Jika tatanan ini efektif, hal itu akan menjadi preseden penting untuk seni tradisi Melayu lainnya yang berisiko punah karena modernisasi.

Yang perlu diwaspadai adalah aspek keberlanjutan praktik di lapangan. UNESCO membutuhkan bukti otentisitas dan transisi antar-generasi yang aktif. Tanpa dukungan edukasi formal dan komunitas yang kuat di setiap negara, status Warisan Budaya Takbenda bisa menjadi sekadar label formalitas. Ke depan, keberhasilan ini sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan masyarakat sipil untuk mengubah momentum politis menjadi gerakan pelestarian budaya yang inklusif dan berkelanjutan.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸