Warga Bandung Tewas Tersetrum dan Ditikam Anak Tiri, Motif Dendam dan Penguasaan Harta

Apriyanti (53) tewas secara tragis usai diduga diserang dan ditikam secara brutal oleh anak tirinya, DH (32), di kediamannya di Jalan Pamitran, Kecamatan Panyileukan, Kota Bandung, Jawa Barat, Minggu (27/9) sore. Aksi keji itu dilakukan saat korban sedang duduk beristirahat di ruang tamu, sementara suami korban dan ayah kandung pelaku sedang bekerja di luar rumah.
Aksi brutal berdarah Kapolsek Panyileukan AKP Anang Sunarya menjelaskan kronologi awal kejadian. Pelaku nekat melumpuhkan korban menggunakan alat kejutan listrik sebelum menusukkan pisau dapur berkali-kali. “Korban awalnya disetrum, lalu ditikam dengan pisau berkali-kali,” ujar Anang saat dihubungi, Minggu (27/9). Akibat penganiayaan berat tersebut, korban menderita sejumlah luka tusuk parah di bagian leher, perut, pelipis kanan, serta mata kanan.
Dalam kondisi kaget, pelaku hanya duduk terdiam di dalam rumah setelah melakukan aksinya. Keadaan itu baru dipergoki oleh tetangga sekitar, yang kemudian mengevakuasi korban. Apriyanti sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat, namun nyawanya tidak tertolong. Jasad korban kini berada di Rumah Sakit (RS) Polri Sartika Asih Bandung untuk menjalani proses pemeriksaan medis demi kepentingan penyidikan hukum.
Motif dendam dan harta Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, polisi mengungkap bahwa aksi kejam ini dipicu oleh rasa dendam akibat masalah personal. Pelaku mengaku kerap tidak diberi makan oleh korban. Selain itu, ada pula indikasi motif penguasaan harta. “Pelaku juga berniat untuk memiliki rumah yang saat ini ditinggalinya,” kata Anang. Saat ini, pelaku telah ditangkap dan diamankan di Mapolsek Panyileukan. Tim penyidik kepolisian masih melengkapi olah tempat kejadian perkara (TKP) serta mengumpulkan keterangan saksi guna mendalami kasus pembunuhan tersebut.
Kasus ini menjadi sorotan karena melibatkan relasi keluarga yang sangat dekat, namun berakhir dengan kekerasan fisik yang melampaui batas. Proses hukum kini berjalan untuk memastikan keadilan bagi almarhumah Apriyanti dan mengungkap segala detail di balik kematian tragis ini.
Analisis Redaksi
Kasus ini menyoroti pentingnya peran pengawasan dalam dinamika keluarga. Dendam yang berakar pada masalah sehari-hari seperti pemberian makan, jika tidak ditangani, bisa berkembang menjadi kekerasan ekstrem. Fakta bahwa pelaku memiliki indikasi ingin menguasai harta juga menunjukkan bagaimana ambisi material bisa memicu tindakan kriminal yang dingin dan terencana. Langkah logis berikutnya bagi pihak berwajib adalah tidak hanya fokus pada penangkapan pelaku, tetapi juga melakukan autopsi mendalam untuk memastikan semua luka dan penyebab kematian tercatat dengan presisi hukum. Ini akan menjadi dasar yang kuat untuk tuntutan pidana maksimal. Publik perlu diingatkan bahwa konflik domestik yang dibiarkan mengendap bisa berujung pada tragedi yang tidak terulang. Pencegahan melalui mediasi atau campur tangan pihak ketiga seringkali lebih efektif daripada menunggu kekerasan fisik terjadi.BERITA TERKAIT (Kriminal)

Kecelakaan Truk Molen di Bekasi Tewaskan 6 Orang, Diduga Rem Blong

Dua Eks Napiter Terlibat Pembakaran Warung Mi Babi di Sukoharjo, Satu Masih Buron

Polisi Ungkap Motif Cemburu di Balik Pembunuhan Sadis Ibu-Anak di Madiun
