Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Tekanan Inflasi dan Utang Judi Daring Ancam Peluang Lula Menang Lagi di Brasil

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNBC Indonesia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Tekanan Inflasi dan Utang Judi Daring Ancam Peluang Lula Menang Lagi di Brasil
BAGIKAN:

Ketidakpuasan warga Brasil terhadap melonjaknya biaya hidup dan maraknya utang dari judi daring menjadi penghalang utama bagi Presiden Luiz Inacio Lula da Silva dalam kontestasi pemilu mendatang. Bagi jutaan pemilih kelas pekerja, klaim perbaikan ekonomi makro pemerintah terasa hampa karena harga kebutuhan pokok masih membubung tinggi.

Kleyton Zacarioto, 39 tahun, seorang pekerja di toko daging dekat kawasan pusat bersejarah Sao Paulo, menggambarkan erosi daya beli tersebut secara langsung. Ia mengaku jumlah pelanggannya terus merosot drastis dalam beberapa tahun terakhir akibat lonjakan harga pangan yang tak kunjung mereda. Kondisi ekonomi rumah tangga yang kian terjepit itu membuat Zacarioto secara tegas menolak memberikan suara bagi Lula untuk masa jabatan keempatnya.

“Seseorang yang berpenghasilan upah minimum tidak punya peluang untuk memperbaiki nasib,” ujar Zacarioto, dikutip dari Reuters, Minggu (27/9/2026). Meski mengakui sang petahana sempat menorehkan prestasi positif pada awal kepemimpinannya di era 2000-an, ia merasa situasi saat ini sudah jauh berbeda. Frustrasi ini mencerminkan fenomena global pascapandemi, di mana sulit meyakinkan publik tentang perbaikan data ekonomi di atas kertas ketika mereka sendiri masih megap-megap menanggung beban harga barang.

Lula, yang kini menginjak usia 80 tahun, kerap meminta kesabaran para pemilih. Ia berulang kali menyoroti pencapaian seperti tingkat pengangguran yang menyentuh rekor terendah, penurunan angka ketimpangan sosial, serta laju inflasi yang mulai melandai sebagai bukti kebangkitan ekonomi. “Saya tahu kondisinya belum ideal, tetapi saya menjamin inflasi akan tetap terkendali,” janji Lula dalam sebuah tayangan kampanye, sembari mengeklaim bahwa dirinya sangat memahami kesulitan hidup rakyat kecil.

Persaingan politik memanas dengan hasil jajak pendapat yang menunjukkan ketatnya kontestasi antara Lula melawan Senator Flavio Bolsonaro, putra dari mantan Presiden sayap kanan Jair Bolsonaro yang divonis bersalah atas upaya kudeto. Survei lembaga Quaest bulan September menunjukkan hampir separuh warga Brasil menilai kondisi ekonomi justru memburuk dalam setahun terakhir, berbanding jauh dengan hanya 19% yang menyatakan sebaliknya. Kekhawatiran seputar ekonomi menjadi alasan utama mengapa Lula kesulitan mendulang keunggulan signifikan.

Analisis Redaksi

Sensor politik ekonomi di Brasil kini didorong oleh fenomena “vibecession”, yaitu kondisi krisis yang lebih didorong oleh sentimen psikologis ketimbang data statistik riil. Senator Flavio Bolsonaro memanfaatkan isu anjloknya daya beli sebagai amunisi utama, bahkan membandingkan harga kebutuhan saat ini dengan era kepemimpinan ayahnya. Tim kampanye Lula merespons dengan meluncurkan situs “Market of Lies” dan melaporkan kubu lawan ke Mahkamah Pemilu atas tuduhan penyebaran informasi palsu terkait harga pangan.

Meskipun data makro menunjukkan kerja pemerintahan yang baik, beban finansial publik tetap berat. Data bank sentral mencatat rasio pembayaran utang rumah tangga melonjak hingga rekor tertinggi di angka 26,6% dari total pendapatan pada Juni lalu. Lonjakan ini dipicu oleh menjamurnya pinjaman instan dari fintech berbunga tinggi serta maraknya judi online yang menyedot pendapatan miliaran real dari kantong keluarga kelas pekerja, diperparah oleh suku bunga acuan Brasil yang masih bertahan di level 13,75%.

Kelangsungan politik Lula kini bergantung pada seberapa cepat ia dapat menjembatani kesenjangan antara narasi “pertumbuhan” di atas kertas dan realitas “kekempesan” di dompet warga. Kecuali beban utang dan harga pangan dapat diringankan secara nyata sebelum pemilihan umum, sentimen negatif terhadap petahana akan tetap menjadi penghalang struktural yang sulit ditembus oleh kampanye ekonomi konvensional.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸