Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Kritik Scott Bessent Gema di PBB, Delegasi Iran Tetap Gesit Gunakan Maskapai Ashianeh

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Kritik Scott Bessent Gema di PBB, Delegasi Iran Tetap Gesit Gunakan Maskapai Ashianeh
BAGIKAN:

Menteri Keuangan AS Scott Bessent melontarkan pertanyaan bernada sindiran di Sidang Majelis Umum PBB, meragukan logistik kepulangan delegasi Iran setelah Presiden Donald Trump melarang seluruh maskapai Iran beroperasi di wilayah global. Tekanan diplomatik ini bukan sekadar basa-basi; ia merupakan bagian dari "Operasi Economic Outcast", sebuah kampanye sanksi yang Bessent klaim telah menghentikan 80 hingga 90 persen penerbangan internasional dari Teheran. Narasi Washington di New York ini dirancang untuk mengisolasi Iran secara total, namun realitas di lapangan menunjukkan celah yang mengejutkan: delegasi Iran tidak terjebak.

Ronald Bessent tidak sendirian dalam narasi tekanan ini. Ia secara eksplisit mengancam bahwa AS akan menargetkan setiap lembaga keuangan, perusahaan, dan pelaku usaha asing yang masih berhubungan dengan Iran. "Kami telah menyampaikan dengan sangat jelas kepada seluruh dunia... bahwa kami tahu siapa kalian," tegas Bessent, mengutip Anadolu Agency. Ancaman ini menargetkan spektrum luas, mulai dari penyandang dana hingga pemasok kebutuhan vital. Tujuannya jelas: memutus arteri ekonomi Iran hingga paralis, menggunakan dominasi dolar AS dan jejaring perbankan global sebagai senjata.

Di tengah gertakan tersebut, media Gulf News mengungkap strategi alternatif Iran yang tak terduga. Ashianeh, maskapai Iran yang relatif minim di radar publik, menjadi andalan delegasi. Unlike maskapai komersial lainnya, Ashianeh tidak mengoperasikan layanan penumpang terjadwal atau menjual tiket ke publik. Data dari situs Plane Spotters mengonfirmasi bahwa Ashianeh berfungsi sebagai operator penerbangan khusus pemerintah atau misi VIP untuk pejabat tinggi Iran. Ketika Presiden Pezeshkian meninggalkan Teheran, pesawat ini tampaknya tidak berada di bawah sanksi AS atau Uni Eropa, memberikan kelonggaran regulasi yang krusial bagi keberangkatan pejabat tertinggi negara tersebut.

Pelacakan data penerbangan menunjukkan pesawat Ashianeh sempat berhenti di Aljir, Aljieria, kemungkinan besar untuk pengisian bahan bakar dalam perjalanan ke New York. Laporan media mengklarifikasi bahwa pertanyaan Bessent tidak boleh ditafsirkan secara harfiah sebagai bukti delegasi Iran terlantar. Meskipun belum ada konfirmasi publik apakah pesawat yang sama membawa Pezeshkian kembali ke Teheran pada hari Sabtu, penggunaan pesawat tersebut pada keberangkatan menggarisbawahi kompleksitas situasi. Masih ada ketidakpastian apakah pesawat ini akan menghadapi pembatasan pengisian bahan bakar atau layanan lain saat kepulangan, namun keberadaannya membuktikan bahwa jalur udara Iran tidak sepenuhnya tertutup.

Penggunaan Ashianeh menggambarkan salah satu kesulitan fundamental yang dihadapi Washington dalam upaya mengisolasi sektor penerbangan Iran. Sanksi yang diterapkan sangat luas, namun pengecualian untuk penerbangan khusus pemerintah atau jalur logistik non-komersial menciptakan lubang keamanan yang sulit dipasuki. Bagi publik, ini adalah pengingat bahwa sanksi ekonomi modern adalah permainan kucing dan tikus; ada upaya keras untuk menutup pintu, tetapi selalu ada celah jendela atau pintu samping yang dicari oleh pihak yang disanksi untuk tetap beroperasi. Kejelian Iran dalam memanfaatkan maskapai nirkomersial ini menunjukkan adaptabilitas tinggi terhadap tekanan eksternal yang intens.

Analisis Redaksi

Kritik Bessent di forum PBB merupakan manuver psikologis dan politik untuk memvalidasi efektivitas sanksi AS di mata komunitas internasional. Namun, fakta bahwa delegasi Iran berhasil bepergian menggunakan Ashianeh membongkar ketidakefektifan mutlak dalam implementasi sanksi tersebut. Washington berteriak bahwa mereka memutus konektivitas Iran, tetapi realitas operasional menunjukkan bahwa Teheran masih memiliki jalur eskape yang valid. Ini adalah ironi strategis: semakin keras tekanan verbal, semakin jelas terlihat celah teknis yang mengecoh penegakan aturan.

Apa yang perlu diwaspadai adalah eskalasi taktis. Jika AS menyadari celah yang digunakan Ashianeh, tekanan berikutnya mungkin tidak hanya menargetkan maskapai komersial, tetapi juga mengejar entitas logistik dan bahan bakar yang memungkinkan penerbangan VIP tetap beroperasi. Kemungkinan langkah selanjutnya secara logis adalah pelacakan aset dan sanksi sekunder terhadap penyedia jasa darat atau pengisian bahan bakar di negara-negara transit seperti Aljir. Iran, di sisi lain, akan terus menguji batas legalitas dan operasional untuk memastikan mobilitas pejabatnya tetap terjaga. Ini adalah perang logistik yang berlangsung di balik layar diplomasi.

BERITA TERKAIT (Dunia)

Meow! Tanya Nesi!
😸