Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

JL van der Velde Tembus Rp680,58 Triliun, Orang Terkaya ke-58 Dunia Berkat Tether

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

JL van der Velde Tembus Rp680,58 Triliun, Orang Terkaya ke-58 Dunia Berkat Tether
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Jean-Louis van der Velde, pebisnis teknologi berkewarganegaraan Belanda, resmi tercatat sebagai orang terkaya ke-58 di dunia dengan kekayaan US$38 miliar atau setara Rp680,58 triliun per Sabtu (26/9).
  • Angka ini mencerminkan lonjakan nilai asetnya yang terikat kuat pada dominasi pasar mata uang kripto .
  • Capaian tersebut mengukir namanya di daftar Forbes, melampaui banyak figur teknolog konvensional.

Jean-Louis van der Velde, pebisnis teknologi berkewarganegaraan Belanda, resmi tercatat sebagai orang terkaya ke-58 di dunia dengan kekayaan US$38 miliar atau setara Rp680,58 triliun per Sabtu (26/9). Angka ini mencerminkan lonjakan nilai asetnya yang terikat kuat pada dominasi pasar mata uang kripto. Capaian tersebut mengukir namanya di daftar Forbes, melampaui banyak figur teknolog konvensional.

Kekayaannya bersumber langsung dari kepemilikan saham dan peran strategis di dua entitas raksasa: Tether, penerbit koin USDT, dan Bitfinex, bursa kripto ternama. Tether sendiri meraup keuntungan miliaran dolar AS dari imbal hasil cadangan obligasi pemerintah AS atau US Treasuries yang menjadi jaminan nilai USDT. Van der Velde, sebagai pemegang saham utama di perusahaan induk kedua entitas itu, ikut memanen hasil dari pertumbuhan sektor aset digital yang melonjak secara global.

Perjalanan kariernya terbilang unik. Pada 1985, ia pindah ke Taiwan untuk menempuh pendidikan di National Taiwan Normal University. Pengalaman itu membekalkan kemahiran berbahasa Mandarin dan membuka pintu untuk karier puluhan tahun di kawasan Asia, khususnya Taiwan dan Hong Kong. Sebelum melangkah ke blockchain, ia menghabiskan lebih dari tiga dekade di industri teknologi, mendirikan berbagai startup di bidang desain perangkat keras, sistem tertanam, hingga platform televisi protokol internet (IPTV).

Kira-kira tahun 2010-an, van der Velde mulai menggarap ekosistem kripto. Ia memimpin Bitfinex sebagai CEO sebelum ditunjuk mengemban peran yang sama di Tether. Di bawah arahannya, USDT bertransformasi dari proyek eksperimental menjadi mata uang kripto dengan volume transaksi harian mencapai puluhan miliar dolar. Pada 2023, ia menyerahkan estafet kepemimpinan CEO Tether kepada Paolo Ardonio, beralih menjadi penasihat strategis, sambil tetap memimpin Bitfinex.

Di balik kemewahannya, van der Velde dijuluki sosok misterius di industri kripto. Ia jarang tampil di media sosial, panggung konferensi, atau memberikan wawancara publik. Kehidupan pribadinya pun sangat tertutup. Meski minim eksposur, ia dikenal aktif membagi ilmu sebagai dosen tamu di National Taiwan University of Science and Technology (NTUST), fokus pada teknologi blockchain dan aspek regulasi teknis.

Analisis Redaksi

Konsentrasi kekayaan di tangan figur setipis van der Velde memperlihatkan risiko struktural di industri kripto. Dominasi Tether atas pasar berarti fluktuasi kebijakan atau kepercayaan publik terhadap USDT berdampak langsung pada portofolio para pemegang saham utama. Ketergantungan pada imbal hasil obligasi AS membuat valuasi ini sangat rentan terhadap perubahan suku bunga dan stabilitas fiskal Amerika Serikat.

Keheningan publik dari van der Velde selama lebih dari dekade beroperasi bukan sekadar privasi, melainkan strategi mitigasi reputasi. Dalam ekosistem yang mudah terpengaruh sentimen, figur publik yang minim keterpaparan bisa dianggap lebih stabil oleh investor institusional. Namun, dari sisi transparansi, obsesitas ini menjadi celah bagi kritik terkait tata kelola perusahaan (governance). Pengamat pasar akan terus menatap ketat bagaimana hilangnya kepemilikan kontrol di level CEO Tether memengaruhi keputusan strategis pasca-2023.

Secara makro, naiknya kekayaan van der Velde mencerminkan keberhasilan integrasi kripto ke dalam arsitektur keuangan global. Jika tren adopsi terus berlanjut, entitas seperti Tether akan semakin menjadi tulang punggung pembayaran lintas batas. Bagi publik, ini adalah pengingat bahwa di balik kode dan algoritma, ada pemain besar yang kemajuannya tak sepenuhnya diatur oleh regulasi tradisional, melainkan oleh efisiensi pasar dan ketahanan teknis.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ