Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Han Zheng: China Tegaskan Prinsip Kedaulatan Setara Meski Terjepit Geopolitik AS

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: Antara News
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Han Zheng: China Tegaskan Prinsip Kedaulatan Setara Meski Terjepit Geopolitik AS
BAGIKAN:

Wakil Presiden China, Han Zheng, memberikan penekanan tegas bahwa seluruh negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memiliki kedudukan setara dalam organisasi tersebut, tanpa memandang besarnya negara tersebut. Pernyataan ini dipublikasikan dengan latar visual bendera PBB yang simbolis, menandai posisi Beijing yang konsisten dalam mendukung sistem multilateralisme. Sikap ini bukan sekadar retorika diplomatik, melainkan respons strategis terhadap tekanan hegemoni di panggung global.

Han Zheng mengartikulasikan bahwa ukuran kekuatan ekonomi atau militer tidak boleh menjadi faktor penentu hierarki dalam forum internasional. Ia menekankan bahwa prinsip 'satu negara, satu suara' harus tetap menjadi landasan utama dalam pengambilan keputusan global. Penolakan terhadap bias ukuran negara ini menjadi poin kunci dalam diplomasi China saat ini, terutama di tengah meningkatnya ketegangan dengan kekuatan Barat.

Latar belakang pernyataan ini cukup krusial. Di tengah era di mana Amerika Serikat dan sekutunya cenderung membentuk blok eksklusif atau mengabaikan pendapat negara-negara berkembang dalam keputusan strategis, Beijing justru memilih jalur sebaliknya. Mereka memposisikan diri sebagai penopang utama sistem PBB yang berlandaskan pada kesetaraan kedaulatan. Ini adalah kontras jelas terhadap pendekatan 'sekutu terpilih' yang semakin populer di kalangan elite kebijakan Washington.

Dampak dari penegasan ini dirasakan langsung oleh negara-negara berkembang yang melihat China sebagai alternatif kemitraan yang lebih adil secara prosedural. Dengan terus menggaungkan prinsip kesetaraan, Beijing berupaya membangun koalisi global yang lebih luas di luar orbit pengaruh tradisional Amerika. Hal ini mengubah dinamika diplomasi, di mana suara negara kecil menjadi lebih relevan bukan hanya secara moral, tetapi juga secara politik melalui dukungan institusional China.

Untuk publik di Indonesia, pemahaman ini penting untuk memetakan posisi negosiasi kita di forum multilateral. Indonesia, sebagai negara G20 dan anggota tetap Dewan Keamanan PBB, memiliki kepentingan langsung dengan interpretasi 'kesetaraan' ini. Memahami nuansa pernyataan Han Zheng membantu kita mengantisipasi bagaimana aliansi strategis akan terbentuk di masa depan, khususnya dalam isu perubahan iklim dan keamanan regional.

Analisis Redaksi

Secara substansi, penegasan dari Han Zheng ini harus dibaca bukan hanya sebagai prinsip idealisme, tetapi sebagai taktik perlawanan naratif terhadap hegemoni Barat. Ketika mayoritas kekuatan global bergerak menuju proteksionisme dan blok-blok perdagangan eksklusif, China memperjuangkan kembali prinsip-prinsip inti PBB yang sering kali diabaikan. Ini adalah strategi 'soft power' yang efektif untuk memenangkan simpati negara-negara Global South.

Apa yang perlu diwaspadai adalah potensi eskalasi konflik nilai-nilai antar-kawasan. Penekanan pada kesetaraan PBB yang absolut sering kali bertabrakan dengan kepentingan strategis negara adidaya yang ingin memaksakan standar mereka sendiri. Jika geserannya prinsip ini tidak diikuti oleh tindakan nyata di forum-forum seperti G20 atau PBB, pernyataan tersebut berisiko menjadi sekadar lip service diplomatik. Kita harus melihat apakah China konsisten menerjemahkan kata-kata menjadi dukungan finansial dan politik nyata bagi negara-negara kecil.

Langkah selanjutnya secara logis akan terlihat dalam mekanisme voting di Majelis Umum PBB. Perhatikan bagaimana blok negara-negara yang didukung Beijing memberikan suara pada resolusi-resolusi sensitif. Jika terdapat pergeseran signifikan dalam dukungan terhadap isu-isu hak asasi manusia atau perdamaian, maka pernyataan kesetaraan ini benar-benar sedang dioperasionalkan. Kita akan pantau apakah prinsip 'ukuran tidak penting' ini akan mengubah peta geopolitik atau hanya menjadi alat propaganda sementara dalam persaingan dua kutup yang semakin intens.

BERITA TERKAIT (Dunia)

Meow! Tanya Nesi!
😸