Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Pujian Trump untuk Indonesia di PBB Beririsan dengan Ancaman Hancurkan Iran dan Kuba

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Pujian Trump untuk Indonesia di PBB Beririsan dengan Ancaman Hancurkan Iran dan Kuba
BAGIKAN:

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, di tengah pidato panjangnya di Sidang Majelis Umum ke-81 PBB, secara eksplisit menyebut nama Indonesia sebagai bagian dari upaya stabilisasi Jalur Gaza, di samping menyuarakan ancaman militer serius terhadap Iran dan Kuba.

Pada Selasa (22/9), Trump menyampaikan orasi yang berlangsung antara 37 hingga 40 menit di New York. Narasi yang dibangunnya tajam dan polarisasi. Di satu sisi, ia memuji 30 negara yang bergabung dalam "Dewan Perdamaian" (Board of Peace), sebuah inisiatif di mana Indonesia menjadi salah satu anggota. "Saya juga ingin berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah berkomitmen mengerahkan pasukan, personel kepolisian, dan memberikan pelatihan untuk membantu menstabilkan Gaza, termasuk Indonesia, Maroko, Albania, Kosovo, Kazakhstan, Mesir, Yordania, dan yang lain," ujar Trump dalam forum tersebut. Pujian ini disertai sorotan pada negara-negara pendonor seperti Qatar, Kuwait, Arab Saudi, dan Turki yang menyumbang miliaran dolar AS untuk rekonstruksi Gaza.

Di sisi yang bertolak belakang, nada pidato berubah drastis ketika menyinggung Iran dan Kuba. Kepada Iran, Trump tidak sembunyikan niat agresifnya. "Atau haruskah saya memusnahkan Republik Islam dan melakukannya dengan cepat, tanpa pernah memberi mereka kesempatan untuk membunuh dan menghancurkan orang dan negara lagi?" tantangnya. Ia menambahkan bahwa persatuan Barat akan menghasilkan "dunia yang bebas dari ancaman teror Iran selama 51 tahun terakhir" dan memicu anjloknya harga minyak. Kepada Kuba, Trump melabelinya sebagai "negara gagal" dan menegaskan bahwa rezim komunis setempat tengah menghadapi tekanan terbesar dalam sejarah. Pernyataan blak-blakan ini memicu reaksi keras di ruang sidang; delegasi Kuba memutuskan untuk meninggalkan ruangan sebagai bentuk protes diplomatik.

Penyebutan Indonesia dalam pidato tersebut bukan sekadar basa-basi diplomatik. Indonesia telah berkomitmen mengirim 8.000 personel untuk misi perdamaian dan stabilisasi di Gaza. Namun, realitas di lapangan belum tercapai. Rencana pengerahan tersebut kini ditunda, sebuah keputusan pragmatis yang beririsan langsung dengan eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang tengah memanas. Bagi Washington, kehadiran pasukan dari negara-negara sekutu seperti Indonesia adalah bagian dari strategi "Dewan Perdamaian" yang dipimpin langsung oleh Trump.

Momen pidato ini menjadi barometer perggeseran kebijakan luar negeri AS. Dari ancaman destruktif terhadap musuh bebuyutannya hingga apresiasi terhadap negara berkembang yang mau berjejalan di barisan pertama menjaga kedamaian Gaza, Trump memposisikan dirinya sebagai arbiter tunggal. Pujian kepada Indonesia dan negara-negara Asia lainnya menjadi kontras nyata dengan retorika permusuhan yang ia layangkan ke Teheran dan Havana. Publik dan analis dunia kini memantau bagaimana komitmen 8.000 personel Indonesia itu akan direalisasikan di tengah bayang-bayang perang regional yang belum juga padam.

Analisis Redaksi

Momen di Majelis Umum PBB ini memperlihatkan strategi Amerika Serikat yang membingungkan namun terstruktur: mendefinisikan "Dewan Perdamaian" sebagai entitas keamanan baru di mana negara-negara seperti Indonesia diundang untuk masuk, sementara di saat yang sama, retorika militeris terhadap Iran mencapai titik didih. Penyebutan spesifik nama Indonesia oleh Presiden Trump bukan tanpa tujuan. Ini adalah upaya legitimasi bagi inisiatif "Board of Peace" yang saat ini masih menjadi alat proyeksi kekuatan AS. Dengan menyebut negara berkekuatan besar di Asia Tenggara, Trump berusaha membangun legitimasi internasional untuk arsitektur keamanan alternatifnya yang menolak peran PBB secara konvensional. Hubungan internasional kini berubah menjadi soal memilih pihak di antara dua kutub kebijakan Trump: sisi yang kooperatif dengan Gaza, dan sisi yang konfrontatif dengan Iran. Kebijakan luar negeri Indonesia kini teruji dalam ketegangan ini.

Ancaman Trump untuk "memusnahkan" Iran bukan sekadar retorika keras seorang politikus, melainkan sinyal eskalasi militer yang serius dan berpotensi memicu krisis global, terutama terkait stabilitas energi. Pernyataan bahwa harga minyak akan "anjlok" jika dunia bebas dari "ancaman teror Iran" menunjukkan bahwa Trump membaca konflik ini melalui kacamata ekonomi sekaligus strategis. Untuk Indonesia, tantangan utamanya adalah menjaga jarak. Mengirim 8.000 personel ke Gaza adalah langkah moral dan strategis yang besar, tetapi menunda pengerahannya karena perang AS-Iran adalah langkah realistis. Negara-negara perlu waspada bahwa masuk ke "Dewan Perdamaian" di bawah bendera AS berarti mengikat diri pada dinamika kebijakan luar negeri AS yang sangat fluktuatif dan personalistik. Kepatuhan pada resolusi PBB kini bertabrakan dengan realitas kebijakan pragmatis yang diutarakan langsung oleh Presiden AS di podium tertinggi dunia.

BERITA TERKAIT (Dunia)

Meow! Tanya Nesi!
😸