Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Prabowo Ingatkan Duka Nasional atas Wafatnya Guruh Soekarnoputra, Sahabat Musik dan Politik Era 90-an

PolitikBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Prabowo Ingatkan Duka Nasional atas Wafatnya Guruh Soekarnoputra, Sahabat Musik dan Politik Era 90-an
BAGIKAN:

Presiden Prabowo Subianto resmi menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Guruh Soekarnoputra, adik kandung Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, dalam unggahan Instagram pribadinya pada Sabtu (26/9). Pria yang dikenal luas sebagai musikus dan politisi ini menghembuskan napas terakhirnya di usia 73 tahun setelah sempat dirawat intensif di Rumah Sakit Siloam. Keheningan di Istana Merdeka pagi itu terasa berbeda, bukan karena agenda kenegaraan, tetapi karena kepergian seorang tokoh yang menjembatani dua dunia: panggung musik legendaris dan lorong parlemen.

Ucapan bela sungkawa dari kepala negara itu tidak hanya berupa formalitas. Melalui fitur Stories akun @Prabowo, Presiden menampilkan sketsa mendiang disertai kalimat penuh kekaguman: "Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raaji'uun. Turut berduka cita atas wafatnya Mohammad Guruh Irianto Soekarno Putra." Di balik kesedihan, tersimpan pengakuan tentang jejak guruh yang tak terhapus. Nama aslinya, Muhammad Guruh Irianto Soekarnoputra, dulu tercatat di berbagai dokumen resmi, namun yang dikenang publik adalah Guruh sang penggubah lagu yang liriknya masih sering terngiang di memori kolektif bangsa.

Perjalanan hidupnya adalah mosaik yang rumit namun rapi. Guruh memulai pendidikan di Perguruan Cikini, kemudian SMA Negeri 25 Jakarta, sebelum berlayar ke Belanda untuk mendalami arkeologi di University of Amsterdam selama tiga tahun hingga 1974. Ia kembali ke tanah air dan mengasah akalnya di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Mandala Indonesia (STIAMI) pada 2005-2008, meraih gelar Sarjana Administrasi Publik, lalu melangkah ke Magister Manajemen Konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia pada 2010. Kombinasi ini jarang ditemukan: seorang anak pahlawan revolusi yang menuntut ilmu di dua benua sebelum mengabdi di birokrasi dan politik.

Di samping toga akademis, Guruh meninggalkan warisan kultural yang abadi. Ia mendirikan grup Swara Mahardika dan GSP Production, serta berkelana bersama Keenan Nasution, Abadi Soesman, dan Chrisye membentuk Guruh Gipsy dan Gank Pegangsaan. Dari dapur kreatif itulah lahir hit-hita seperti Kala Sang Surya Tenggelam, Melati Suci, Zamrud Khatulistiwa, Lenggang Puspita, Mahadaya Cinta, dan Galih dan Ratna. Di sisi lain, ia konsisten dalam politik sejak bergabung dengan PDI pada 1982, berlanjut ke PDIP hingga 1999, dan menjabat anggota DPR periode 1999-2024 dari daerah pemilihan Jawa Timur.

Kehilangan seorang Guruh adalah kehilangan yang multidimensi. Bagi musisi muda, ia adalah guru besar; bagi politisi senior, ia adalah simbol transisi dari Soekarno ke era reformasi; bagi publik luas, ia adalah suara yang menyatukan. Bahkan dalam kehidupan pribadinya, ia pernah menempuh pernikahan dengan Guseynova Sabina Padmavati asal Uzbekistan pada 2002 sebelum bercerai pada 2009. Setiap fase hidupnya, dari Amsterdam hingga Jakarta, dari panggung teater hingga ruang sidang, selalu dikawal oleh keteguhan yang membuatnya dikenang hingga detik terakhir di RS Siloam.

Analisis Redaksi

Wafatnya Guruh Soekarnoputra bukan sekadar kepulangannya ke peristirahatan terakhir, melainkan penutupan sebuah era di mana seni dan politik masih berpelukan erat di Indonesia. Dalam dua dekade terakhir, jurang antara panggung budaya dan arena politik semakin lebar; politisi jarang tampil sebagai seniman, dan senimus jarang berpihak jelas di ranah kebijakan. Guruh adalah pengecualian langka: ia membuktikan bahwa kedalaman budaya bisa menjadi fondasi legitimasi politik. Ketika seorang Presiden Subianto—yang dikenal sebagai figur militer dengan pendekatan pragmatis—mengeluarkan pernyataan duka yang personal dan tulus, itu mencerminkan pengakuan bahwa pengaruh Guruh melampaui segmen partai PDIP.

Dampak jangka panjangnya terlihat pada pewarisan nilai. Di antara generasi pascareformasi yang kini menduduki kursi DPR, masih banyak yang mengenal Guruh sebagai mentor informal, tempat bertanya tentang etika publik dan kedekatan rakyat. Tanpa figur seperti Guruh, ada risiko politik akan semakin kering dari muatan budaya, dan seni akan semakin terjebak dalam komoditas semata. Publik perlu mewaspadai hilangnya semacam 'jembatan' ini; karena ketika yang menjembatani pergi, yang tersisa hanyalah dua tebing yang kian berjauhan.

Langkah logis berikutnya adalah bagaimana institusi kebudayaan, seperti Dewan Kesenian atau Kementrian Kebudayaan, merespons kepergian ini. Apakah hanya seremoni, ataukah ada upaya mendokumentasikan naskah-naskah Guruh yang belum terbit, mengarsipkan rekaman-rare dari era Guruh Gipsy, atau membentuk beasiswa atas namanya? Jika negara hanya berduka secara verbal tanpa tindakan struktural, maka duka itu akan cepat memudar seperti asap setelah api padam. Kita perlu melihat tiga bulan ke depan: apakah ada regulasi, festival, atau inisiatif konkret yang menghidupkan kembali semangat yang dulu dibawa oleh Guruh Soekarnoputra?

Meow! Tanya Nesi!
😸