KKRI Ditetapkan Ekskul Pilihan di Sekolah Menengah, Atip: Bukan Untuk Cetak Prajurit
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menegaskan bahwa ekstrakurikuler Korps Kadet Republik Indonesia (KKRI) bukan untuk mencetak prajurit, melainkan sarana penguatan karakter dan kesadaran bela negara yang bersifat pilihan. Pernyataan ini dilontarkan saat Peluncuran Ekstrakurikuler KKRI pada Kamis (24/9), guna meluruskan persepsi bahwa program ini bukan bentuk militerisme di lingkungan sekolah. Atip menekankan bahwa kehadiran ekskul ini adalah bentuk pemenuhan hak murid atas pembinaan kesadaran diri sebagai warga negara.
Fondasi hukum pelaksanaan program ini telah kuat. Pada 5 Mei 2026, Kemendikdasmen menetapkan Keputusan Menteri Pendidikan Menengah Nomor 136 Tahun 2026 tentang Pedoman Pelaksanaan Pembinaan Kesadaran Bela Negara melalui Ekstrakurikuler KKRI pada Jenjang Pendidikan Menengah. Regulasi itu kemudian ditindaklanjuti dengan Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen sebagai pedoman teknis. Atip menyatakan kesiapan penuh untuk mengawal pelaksanaan program ini agar sesuai amanat konstitusi.
Program KKRI merupakan kolaborasi strategis antara Kementerian Pertahanan (Kemenhan) dan Kemendikdasmen. Kepala Badan Cadangan Nasional (Kabacadnas) Kemenhan, Letjen TNI Gabriel Lema, menekankan bahwa bela negara bagi pelajar dimulai dari hal sederhana seperti disiplin, belajar sungguh-sungguh, dan menghormati guru serta orang tua. Bagi Gabriel, peluncuran ini adalah upaya membuka ruang pembinaan untuk membangun karakter dan menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air generasi muda.
Mekanisme eksekusi melibatkan jajaran TNI dari tingkat Komando Daerah Militer (Kodam), Komando Resor Militer (Korem), Komando Distrik Militer (Kodim), hingga Komando Rayon Militer (Koramil). Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Setjen Kemhan, Brigjen Rico Ricardo Sirait, menjelaskan bahwa program ini berbasis pada adaptasi fleksibel antara metode luring dan daring. Pengajar dan pendamping fokus pada penguatan materi karakter, budi pekerti, dan wawasan kebangsaan.
Aksesibilitas program ini diperluas melalui platform digital kkri.id. Siswa SMA, SMK, dan MA sederajat dapat mendaftar secara sukarela menggunakan akun Google. Rico menegaskan, melalui kolaborasi lintas kementerian dan dukungan perangkat wilayah, Kemhan berharap KKRI menjadi sarana pembinaan yang positif dan mudah diakses. Program ini dirancang agar relevan dengan generasi muda melalui kombinasi pembelajaran tatap muka dan digital.
Analisis Redaksi
Penekanan Atip dan Gabriel Lema bahwa KKRI "bukan prajurit" merupakan respons strategis terhadap potensi resistensi publik di sekolah yang khawatir terhadap normalisasi militer di ruang pendidikan. Dengan menjadikannya ekstrakurikuler pilihan dan berbasis karakter, program ini berupaya memisahkan citra militer dari kesan koersif. Keberhasilan program ini sangat bergantung pada kualitas pendampingan di tingkat bawah, mengingat keterlibatan jajaran TNI hingga tingkat Koramil menuntut profesionalisme tinggi agar tidak menyimpang dari tujuan edukasi karakter.
Dari sisi operasional, integrasi metode daring melalui kkri.id menunjukkan upaya modernisasi yang selaras dengan kebutuhan generasi Z. Namun, tantangan terbesar terletak pada kesinambungan pendanaan dan konsistensi implementasi di daerah. Jika hanya menjadi formalitas tahunan tanpa dampak nyata pada perilaku disiplin dan nasionalisme siswa, program berisiko menjadi beban administratif tambahan. Pengawasan ketat terhadap materi ajar untuk memastikan fokus tetap pada budi pekerti dan bukan ideologi politik adalah kunci agar program ini diterima luas oleh orang tua dan komunitas sekolah.
BERITA TERKAIT (Politik)

Anis Matta: Akar Rumput dan Cita-Cita Besar Jadi Fondasi Menuju Pemilu 2029

Presiden Prabowo Panggil Tim Ekonomi ke Istana untuk Koordinasi Kebijakan

Demokrat Nilai Gibran Tak Lagi Memenuhi Syarat Wapres Usai MA Putuskan Suket Tidak Sah
